JABARMEDIA – Bandung dikenal sebagai kota dengan jaringan angkutan umum yang padat dan beragam. Mulai dari angkot yang sudah beroperasi sejak era 1970-an hingga bus kota modern berbasis bus rapid transit (BRT), warga maupun wisatawan punya banyak pilihan untuk berkeliling Kota Kembang tanpa kendaraan pribadi. Namun bagi pendatang baru, sistem angkutan umum Bandung memang terasa membingungkan pada awalnya, terutama karena angkot dibedakan berdasarkan kombinasi warna dan nomor trayek yang jumlahnya puluhan.
Artikel ini membahas tuntas seluk-beluk angkutan umum di Kota Bandung, baik angkot maupun bus kota, mencakup rute atau trayek, jalan yang dilalui, warna kendaraan, hingga estimasi tarif yang berlaku saat ini. Simak sampai akhir agar perjalanan Anda di Bandung jadi lebih lancar dan hemat.
Sekilas Ekosistem Transportasi Umum di Kota Bandung
Secara umum, transportasi umum darat di Kota Bandung terbagi menjadi dua kelompok besar:
- Angkot (angkutan kota) — kendaraan minibus milik masyarakat atau koperasi yang beroperasi berdasarkan trayek yang diizinkan pemerintah, tanpa jadwal tetap dan sistem tarif yang cenderung fleksibel.
- Bus kota — layanan yang dikelola oleh pemerintah maupun operator resmi, meliputi Trans Metro Bandung (TMB), Metro Jabar Trans (MJT, sebelumnya bernama Trans Metro Pasundan), serta Damri.
Kedua jenis moda ini saling melengkapi. Angkot unggul dalam menjangkau gang-gang kecil dan permukiman padat yang tidak dilalui bus, sementara bus kota lebih unggul dari sisi kenyamanan, kepastian tarif, dan kecepatan karena sebagian punya jalur maupun titik henti khusus.
Angkot Bandung: Warna sebagai “Kode Rahasia” Trayek
Ciri khas angkot di Bandung adalah penggunaan kombinasi warna badan kendaraan sebagai penanda trayek. Setiap rute memiliki skema warna tersendiri, sehingga penumpang yang sudah terbiasa bisa langsung mengenali angkot yang mereka butuhkan hanya dari kejauhan, tanpa perlu membaca tulisan trayek di kaca depan.
Beberapa pola warna yang umum dijumpai:
- Hijau tua merupakan warna dasar yang paling banyak dipakai, biasanya untuk trayek yang menghubungkan terminal-terminal besar.
- Hijau dipadu kuning, hitam, cokelat, atau oranye menandakan trayek spesifik yang berbeda satu sama lain meski sama-sama berbasis hijau.
- Biru tua umumnya melayani rute yang menghubungkan kawasan pendidikan atau pusat belanja dengan permukiman padat, termasuk beberapa jalur yang mengarah ke kawasan dataran tinggi seperti Ledeng.
- Krem atau putih gading identik dengan trayek ke arah utara Bandung, termasuk rute wisata populer menuju Lembang.
- Abu-abu biasanya dipakai pada trayek yang memotong kota dari barat ke timur atau utara ke selatan.
Meski begitu, penting dicatat bahwa di kawasan penyangga yang jauh dari pusat kota, skema warna kerap tidak konsisten. Beberapa trayek bahkan berbagi warna yang mirip satu sama lain. Karena itu, tetap disarankan untuk memperhatikan tulisan trayek yang tertera di kaca depan atau bertanya langsung kepada sopir jika ragu.
Beberapa Trayek Angkot Populer di Bandung
Berikut beberapa trayek angkot yang paling sering digunakan warga maupun wisatawan, lengkap dengan nomor, warna, dan jalan utama yang dilalui:
Trayek 01 — Abdul Muis (Kebon Kelapa) – Cicaheum via Binong
Angkot ini berwarna dasar hijau dengan aksen kuning. Rute dimulai dari Terminal Kebon Kelapa, melewati Jalan Pungkur, Jalan Karapitan, Jalan Buah Batu, Jalan Banteng, hingga kawasan Binong dan berakhir di Terminal Cicaheum. Trayek ini menjadi salah satu jalur padat karena melintasi pusat perbelanjaan dan permukiman di jalur tengah kota.
Trayek 02 — Abdul Muis (Kebon Kelapa) – Dago
Berwarna hijau tua dipadu oranye. Rute ini melewati Terminal Kebon Kelapa, Alun-Alun Bandung, Jalan Dewi Sartika, Jalan Asia Afrika, Jalan Merdeka (kawasan Bandung Indah Plaza), hingga Jalan Ir. H. Juanda (Dago) dan berakhir di Terminal Dago. Trayek ini populer di kalangan wisatawan karena melewati kawasan bersejarah Asia Afrika dan area kuliner Dago.
Trayek 05 — Cicaheum – Ledeng
Berwarna hijau dipadukan hitam. Untuk trayek ini menghubungkan bagian timur dan utara Bandung, melewati Jalan Surapati (Suci), Gasibu, dan Jalan Cihampelas, hingga berakhir di Terminal Ledeng. Rute ini banyak dipakai mahasiswa maupun wisatawan menuju kawasan factory outlet di Cihampelas.
Trayek 10 — Cicaheum – Ciroyom
Berwarna hijau dipadu cokelat. Menghubungkan Terminal Cicaheum dengan kawasan perdagangan Ciroyom, melintasi Jalan Ahmad Yani dan Jalan Dipati Ukur.
Trayek Cicaheum – Ciwastra (via Derwati)
Berwarna cokelat tua dipadu krem. Melewati Jalan PHH Mustofa (Suci), Jalan Ahmad Yani, Jalan Kiara Condong, Jalan Terusan Kiara Condong, hingga Jalan Ciwastra. Trayek ini menjadi penghubung penting antara Bandung Timur dan Bandung Selatan.
Trayek Stasiun Hall – Lembang
Berwarna krem atau putih gading dengan garis hitam. Rute ini menjadi favorit wisatawan yang hendak menuju kawasan wisata Lembang di utara Bandung, tersedia tepat di depan pintu keluar Stasiun Bandung.
Trayek Sederhana – Kebon Kelapa (via Buah Batu)
Melewati Jalan Sukajadi, Jalan Pasir Kaliki, kawasan Pasteur, Jalan Cihampelas, Jalan Wastu Kencana, hingga Jalan Braga dan berakhir di Terminal Kebon Kelapa. Trayek ini melintasi beberapa kawasan strategis seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin dan pusat kota lama.
Perlu diingat, daftar di atas hanyalah sebagian kecil dari lebih 30 trayek utama yang beroperasi di Kota Bandung. Untuk kepastian rute, Anda bisa memanfaatkan situs pemetaan angkot independen atau aplikasi peta digital yang kini banyak menyediakan fitur rekomendasi jalur angkutan umum.
Tarif Angkot Bandung Terbaru
Tarif angkot di Bandung masih menggunakan sistem konvensional yang dipengaruhi jarak tempuh dan kebijakan tidak resmi di lapangan, meskipun pemerintah kota telah menetapkan tarif dasar. Berikut gambaran umum tarif berdasarkan jarak:
| Jarak Tempuh | Perkiraan Tarif |
|---|---|
| 1 – 1,5 km | Rp3.000 |
| 1,5 – 5 km | Rp5.000 |
| 5 – 20 km | Rp5.000 – Rp15.000 |
| 20 – 25 km | Rp15.000 – Rp18.000 |
Karena sistem pembayarannya masih tunai, sebaiknya selalu menyiapkan uang pas sebelum naik angkot.
Di sisi lain, pemerintah Kota Bandung juga mulai memperkenalkan skema angkot yang lebih modern, di antaranya:
- Feeder Metro Jabar Trans (MJT) — beberapa trayek angkot dikonversi menjadi layanan pengumpan (feeder) dengan tarif tetap sekitar Rp4.900 sekali jalan dan sistem pembayaran nontunai.
- Angkot berlangganan (pilot project) — skema berlangganan bulanan sekitar Rp100.000 untuk penggunaan tanpa batas pada rute tertentu, ditujukan bagi komuter harian dan pelajar, dengan pembayaran sepenuhnya nontunai.
Bus Kota di Bandung: Lebih Tertib dan Terjadwal
Selain angkot, Kota Bandung juga memiliki jaringan bus kota yang dikelola pemerintah maupun operator resmi. Ada tiga layanan utama yang perlu diketahui.
1. Trans Metro Bandung (TMB)
TMB adalah layanan bus yang dikelola oleh BLUD UPT Angkutan Dinas Perhubungan Kota Bandung, mulai beroperasi sejak akhir 2008 dan diresmikan pada 23 September 2009. TMB melayani sejumlah koridor utama yang menghubungkan kawasan timur, barat, hingga selatan Kota Bandung, di antaranya:
- Koridor 1: Cibiru – Cibeureum
- Koridor 2: Cicaheum – Cibeureum
- Koridor 3: Cicaheum – Sarijadi, melewati Jalan PHH Mustofa, Jalan Surapati, kawasan Pasteur, hingga Sarimanis
- Koridor 4: Antapani – Leuwipanjang, melintasi kawasan Kiara Artha, GOR Koni, hingga Pasirluyu
Bus TMB berhenti di hampir semua titik yang dilaluinya, kecuali Koridor 3 yang hanya berhenti di titik-titik tertentu. Tarif TMB terbilang sangat terjangkau, yaitu Rp4.000 untuk penumpang umum dan Rp2.000 untuk pelajar maupun mahasiswa, berlaku untuk jarak jauh maupun dekat. Tiket yang diperoleh juga bisa dipakai untuk transit ke koridor lain dalam rentang waktu sekitar dua jam sejak pembayaran pertama, sehingga penumpang tidak perlu membayar dua kali dalam satu rangkaian perjalanan.
2. Metro Jabar Trans (MJT), Dahulu Trans Metro Pasundan
Layanan ini awalnya bernama Trans Metro Pasundan (TMP) dan merupakan bagian dari program Teman Bus yang digagas Kementerian Perhubungan. Sejak 1 Januari 2025, layanan ini berganti nama menjadi Metro Jabar Trans (MJT) dan dialihkelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dioperasikan bersama Perum Damri dan anak usaha Blue Bird Group.
MJT memiliki enam koridor utama yang membentang lebih luas dibanding TMB, bahkan menjangkau wilayah di luar Kota Bandung seperti Soreang, Jatinangor, Baleendah, hingga Padalarang:
- Koridor 1: Terminal Leuwipanjang – Soreang
- Koridor 2: Kota Baru Parahyangan – Alun-Alun Bandung
- Koridor 3: Baleendah – Bandung Electronic Center (BEC)
- Koridor 4: Terminal Leuwipanjang – Dago (Unpad Dipatiukur)
- Koridor 5: Unpad Dipatiukur – Jatinangor via Tol Padaleunyi
- Koridor 6: Terminal Leuwipanjang – Terminal Majalaya
Tarif reguler MJT adalah Rp4.900 sekali jalan, dengan opsi tarif khusus sebesar Rp2.000 bagi kelompok tertentu seperti pelajar. Berbeda dengan angkot, MJT sepenuhnya menerapkan sistem pembayaran nontunai, baik menggunakan kartu uang elektronik (seperti e-money Mandiri, Brizzi, Tapcash, maupun Flazz) atau QRIS. Salah satu keunggulannya adalah tarif integrasi Rp0 apabila penumpang berpindah bus dalam rentang waktu kurang dari 90 menit sejak pembayaran pertama, asalkan menggunakan kartu uang elektronik.
3. Bus Damri
Damri merupakan salah satu perintis layanan bus kota di Bandung dan menjadi operator komersial yang dikelola secara independen oleh Perum Damri Cabang Bandung. Layanan ini sebelumnya juga dikenal dengan nama Trans Bandung Raya. Sama seperti TMB, Damri melayani seluruh titik henti yang dilalui rutenya, cocok bagi penumpang yang membutuhkan opsi tambahan di luar jam operasional TMB maupun MJT.
Tips Praktis Naik Angkutan Umum di Bandung
Beberapa hal berikut bisa membantu perjalanan Anda menggunakan angkutan umum di Bandung terasa lebih lancar:
- Kenali warna sekaligus nomor trayek, jangan mengandalkan warna saja karena beberapa trayek memiliki skema warna yang mirip.
- Siapkan uang tunai pecahan kecil jika naik angkot, karena sistem pembayarannya masih konvensional.
- Siapkan kartu uang elektronik atau aplikasi QRIS bila hendak naik MJT, karena layanan ini sepenuhnya nontunai.
- Cari halte atau titik henti resmi untuk naik bus kota, sementara angkot cenderung lebih fleksibel dan bisa berhenti di banyak titik sepanjang rute.
- Manfaatkan angkot sebagai moda pengumpan, terutama untuk menjangkau stasiun kereta atau halte bus terdekat, lalu lanjutkan perjalanan jarak jauh menggunakan bus atau kereta agar lebih hemat waktu dan biaya.
Sistem angkutan umum di Kota Bandung memang unik karena memadukan warisan angkot berwarna-warni dengan bus kota modern berbasis BRT. Seperti Trans Metro Bandung dan Metro Jabar Trans. Bagi warga lama, kombinasi warna dan nomor trayek angkot sudah menjadi bahasa sehari-hari. Namun bagi pendatang baru, memahami pola warna, jalur, dan tarif seperti yang diuraikan di atas. akan sangat membantu menghindari kesalahan naik kendaraan maupun potensi tersesat.
Ke depan, transformasi menuju sistem yang lebih terintegrasi dan nontunai seperti MJT. Diharapkan dapat melengkapi peran angkot yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung mobilitas warga Bandung. Tanpa menghilangkan fleksibilitas yang selama ini menjadi kekuatan utamanya.









