JABARMEDIA – Sebagai seorang Pembina Yayasan AGROMA Indonesia, saya, Budi Pria Panca, memiliki keyakinan kuat akan pentingnya kehadiran yayasan ini di Tenjolaya. Keyakinan ini bukan karena Tenjolaya kekurangan potensi. Justru sebaliknya, wilayah ini kaya akan beragam potensi yang belum sepenuhnya terorkestrasi untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik.
Ada pemerintah dengan kewenangan serta perhatian terhadap isu lingkungan, ada institusi pendidikan dan generasi muda yang dapat menjadi agen perubahan vital, serta masyarakat dengan berbagai aktivitas dan tingkat kepeduliannya. Lebih jauh, telah ada inisiatif seperti bank sampah dan individu-individu yang selama ini aktif dalam bidang pengelolaan sampah.
Dunia usaha pun turut hadir, tidak hanya sebagai penghasil produk, tetapi juga dengan kepedulian terhadap dampak lingkungan yang mereka timbulkan. Singkatnya, banyak sekali individu yang sebenarnya mendambakan kondisi lingkungan yang lebih baik.
Pertanyaan mendasar yang muncul bukanlah, “Apakah Tenjolaya memiliki potensi?” Jawaban atas pertanyaan ini sudah sangat jelas: Tenjolaya memiliki potensi melimpah. Pertanyaan yang lebih relevan adalah, “Bagaimana berbagai potensi ini dapat bertemu, saling menguatkan, dan bergerak bersama secara harmonis?” Di sinilah saya melihat esensi dan urgensi kehadiran Yayasan AGROMA Indonesia. Kami hadir untuk menjadi katalisator, bukan pengganti.
AGROMA: Mengorkestrasi, Bukan Menggantikan
Sejak awal, visi saya terhadap AGROMA tidak pernah menempatkannya sebagai lembaga yang datang untuk mendikte atau menggantikan inisiatif yang sudah ada. Kami tidak bermaksud mengatakan kepada masyarakat, “Kami punya program; mari ikuti program kami.” Pun demikian, kami tidak melihat AGROMA sebagai entitas yang harus memikul semua tanggung jawab sendirian.
Tenjolaya sudah memiliki banyak individu yang berdedikasi, banyak pihak yang memiliki kapasitas, dan berbagai inisiatif yang telah berjalan. Yang sesungguhnya dibutuhkan adalah sebuah ruang yang mampu mempertemukan dan menyelaraskan berbagai potensi tersebut. Oleh karena itu, bagi saya, kata yang paling tepat untuk menggambarkan peran AGROMA adalah mengorkestrasi.
Analogi yang paling relevan adalah sebuah orkestra. Setiap musisi dalam orkestra memiliki instrumen dan perannya masing-masing. Seorang pemain biola tidak perlu menjadi pemain drum, demikian pula pemain drum tidak perlu mahir memainkan piano. Setiap individu atau entitas memiliki spesialisasi dan kontribusinya sendiri.
Namun, ketika semua instrumen dimainkan bersama, dengan arahan dan tujuan yang sama, lahirlah sebuah simfoni yang indah. Begitu pula dengan Tenjolaya. Pemerintah memiliki perannya dalam kebijakan dan regulasi. Sekolah memiliki peran dalam edukasi dan pembentukan karakter. Masyarakat memiliki perannya dalam kehidupan sehari-hari dan kebiasaan. Dunia usaha memiliki perannya dalam inovasi dan tanggung jawab sosial. Pengelola sampah memiliki perannya dalam penanganan material. Anak-anak dan generasi muda memiliki energi dan kreativitas. AGROMA berupaya membantu agar semua peran ini dapat bertemu dan bergerak dalam satu irama yang selaras, menciptakan harmoni dalam upaya pengelolaan lingkungan.
Fokus Awal: Persoalan Sampah yang Dekat dengan Kita
Pengelolaan sampah adalah persoalan universal yang hampir setiap orang kenal dan alami. Kita semua menghasilkan sampah setiap hari, baik dari rumah, sekolah, pasar, tempat usaha, maupun dari berbagai kegiatan masyarakat dan produk yang kita gunakan. Namun, bagi saya, sampah bukan sekadar objek yang harus dibuang. Sampah adalah cerminan dari cara kita hidup. Ia mengajarkan kita tentang pola konsumsi, apa yang kita beli, apa yang kita gunakan, apa yang kita sisakan, dan yang terpenting, apa yang kita lakukan setelah sesuatu tidak lagi kita perlukan. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang sampah, kita sebenarnya sedang berbicara tentang perilaku, pendidikan, lingkungan, ekonomi, dan dinamika kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Kompleksitas inilah yang menjadikan persoalan sampah sangat penting untuk dikerjakan bersama-sama, membutuhkan pendekatan yang holistik dan kolaboratif.
Yayasan AGROMA Indonesia memilih untuk memulai dari persoalan sampah karena relevansinya yang tinggi dan kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. Ini adalah titik masuk yang efektif untuk membangun kesadaran dan mempraktikkan perubahan. Dengan mengatasi sampah, kita secara tidak langsung menyentuh berbagai aspek kehidupan lainnya, mendorong refleksi terhadap kebiasaan dan tanggung jawab individu serta kolektif. Pendekatan ini memungkinkan kami untuk melibatkan berbagai pihak secara organik, mulai dari level rumah tangga hingga institusi yang lebih besar, menciptakan gelombang perubahan yang berkelanjutan.
Bekerja dengan Potensi yang Sudah Ada
Saya tidak menginginkan AGROMA membangun sesuatu yang berdiri sendiri, terpisah dari ekosistem yang sudah ada. Keyakinan saya lebih tertuju pada cara yang sederhana namun efektif: melihat apa yang sudah ada, mengenali siapa saja yang telah bekerja, mendengarkan kebutuhan mereka, kemudian menghubungkan potensi-potensi tersebut. Perubahan yang baik tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar atau spektakuler. Kadang-kadang, perubahan signifikan justru berawal dari mempertemukan dua individu atau pihak yang sebelumnya belum pernah bekerja sama. Kemudian berkembang menjadi tiga pihak, melibatkan sebuah sekolah, lalu sebuah komunitas, pemerintah daerah, dan akhirnya dunia usaha.
Sedikit demi sedikit, melalui serangkaian kolaborasi yang terjalin, sebuah gerakan yang lebih besar dan terstruktur akan terbentuk. Inilah cara saya membayangkan AGROMA beroperasi di Tenjolaya: sebagai fasilitator yang merajut benang-benang potensi menjadi permadani gerakan lingkungan yang kuat. Kami percaya bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada sinergi, bukan pada dominasi. Dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya serta inisiatif yang telah ada, kami dapat menciptakan dampak yang jauh lebih besar dan berkelanjutan.
Pondasi Kebijakan: Menghormati dan Mengimplementasikan
Sebagai Pembina Yayasan AGROMA Indonesia, saya berpandangan bahwa setiap gerakan harus memiliki pijakan yang kokoh. Kami tidak ingin sekadar membuat program berdasarkan ide semata. Ide tersebut harus berjalan searah dengan kebijakan yang sudah ada, memastikan keberlanjutan dan legitimasi. Oleh karena itu, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (P.75/2019) menjadi salah satu pondasi penting bagi cara AGROMA melihat dan mendekati persoalan sampah. Peraturan ini memberikan arah yang jelas mengenai pengurangan sampah oleh produsen, termasuk bagaimana perencanaan, pemantauan, dan pelaporan pengurangan tersebut harus dilakukan. Di dalamnya juga terdapat perhatian terhadap pengumpulan kembali kemasan, pengelolaan sampah setelah digunakan, edukasi kepada masyarakat, serta kerja sama dengan berbagai pihak terkait.
Yang menarik bagi saya bukan hanya isi dari peraturan tersebut, melainkan semangat yang melatarinya. Ada pesan kuat bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya pada saat sampah sudah berada di tempat pembuangan akhir. Kita perlu memikirkan seluruh perjalanan sebuah produk dan kemasannya, mulai dari digunakan hingga tidak digunakan lagi. Pemikiran holistik ini menuntut adanya kerja sama yang erat dari semua pihak.
Selain itu, di tingkat Kabupaten Bogor, kita juga memiliki arah dan kebijakan daerah yang menjadi bagian dari pijakan gerakan ini. Bagi AGROMA, keberadaan kebijakan daerah sangat krusial. Sebuah gerakan di masyarakat akan menjadi lebih kuat dan berdampak apabila berjalan searah dengan apa yang sedang dibangun oleh pemerintah daerah. Maka, hubungan antara kebijakan dan gerakan masyarakat bukanlah hubungan yang saling terpisah, melainkan keduanya harus saling menguatkan. Kebijakan memberikan arah dan kerangka kerja, masyarakat memberikan kehidupan dan dinamika implementasi, sekolah memberikan pendidikan dan pembentukan karakter, dunia usaha memberikan dukungan dan tanggung jawab, dan AGROMA berusaha membantu mempertemukan semua elemen ini.
Dari Aturan Menuju Gerakan Nyata
Inilah salah satu gagasan inti yang ingin saya bangun melalui AGROMA. Kita tidak boleh berhenti pada, “Kita sudah mempunyai aturan.” Sebaliknya, kita harus melangkah lebih jauh menjadi, “Bagaimana aturan tersebut dapat dirasakan manfaatnya secara konkret oleh masyarakat?” Misalnya, ketika kita berbicara tentang pengurangan sampah, masyarakat tentu membutuhkan panduan yang sederhana dan mudah dipahami. Mereka perlu tahu: apa yang harus dilakukan? Sampahnya dibawa ke mana? Siapa yang akan menerimanya? Bagaimana sampah itu dikelola lebih lanjut? Apa manfaatnya bagi lingkungan? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana anak-anak kita dapat belajar dari seluruh proses tersebut? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang ingin AGROMA bantu jawab melalui kerja sama dan kolaborasi yang erat dengan semua pihak.
Kami berupaya menjembatani kesenjangan antara kebijakan formal dan praktik sehari-hari. Dengan menyediakan informasi yang jelas dan memfasilitasi akses terhadap infrastruktur pengelolaan sampah yang efektif, kami berharap dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata. Edukasi yang berkelanjutan juga menjadi kunci untuk memastikan bahwa masyarakat tidak hanya patuh pada aturan, tetapi juga memahami alasan di balik setiap tindakan, sehingga perubahan perilaku dapat terjadi secara fundamental dan berkelanjutan.
Sekolah: Titik Penting Pembentukan Generasi Masa Depan
Saya melihat sekolah sebagai salah satu tempat yang sangat strategis dalam upaya pengelolaan lingkungan. Bukan karena sekolah harus menyelesaikan seluruh persoalan sampah, melainkan karena sekolah memiliki aset yang sangat berharga: generasi masa depan. Seorang anak yang belajar memilah sampah di sekolah dapat membawa kebiasaan baik itu ke rumah. Dari rumah, kebiasaan tersebut dapat sampai kepada orang tua dan anggota keluarga lainnya. Dari keluarga, kebiasaan itu dapat berkembang ke lingkungan sekitar. Oleh karena itu, sekolah dapat menjadi tempat di mana sebuah kebiasaan baik mulai tumbuh dan menyebar secara meluas. AGROMA ingin membantu menjadikan sekolah bukan hanya tempat belajar tentang lingkungan secara teoritis, tetapi juga tempat untuk mengalami langsung bagaimana menjaga lingkungan melalui praktik nyata.
Dalam rancangan AGROMA, sekolah menjadi salah satu bagian integral dari ekosistem kolaborasi bersama pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan mitra pengelolaan sampah. Kami tidak ingin anak-anak kita hanya diajarkan untuk, “Kumpulkan sampah.” Lebih dari itu, saya ingin mereka memahami, “Mengapa sampah ini perlu dikumpulkan?” Mereka perlu mengetahui bahwa apa yang kita gunakan setiap hari mempunyai perjalanan setelah digunakan. Dengan begitu, kegiatan lingkungan menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan karakter. Anak-anak belajar bertanggung jawab, belajar disiplin, belajar bekerja sama, belajar memimpin, dan belajar bahwa tindakan kecil yang dilakukan bersama dapat menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Itulah mengapa dalam ekosistem AGROMA terdapat gagasan tentang program-program seperti Green School, Green Ambassador, Green Media, Green Scholarship, dan berbagai inisiatif lainnya. Program-program ini bukan tujuan akhir, melainkan cara untuk menghidupkan dan memperkuat ekosistem pengelolaan lingkungan yang sedang dibangun.
Tenjolaya: Laboratorium Kebaikan dan Pembelajaran Bersama
Saya ingin melihat Tenjolaya dengan cara yang sedikit berbeda. Tenjolaya bukan sekadar lokasi di mana AGROMA menjalankan sebuah program. Tenjolaya adalah ruang untuk belajar bersama. Di sini, kita belajar apa yang sudah berjalan dengan baik, apa yang belum berjalan sesuai harapan, dan apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh masyarakat. Kita belajar bagaimana sekolah dapat mengambil bagian secara aktif, bagaimana pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dapat bekerja sama secara efektif. Dari semua pembelajaran ini, kita membangun sesuatu yang semakin baik dan berkelanjutan. Oleh karena itu, saya lebih suka membayangkan Tenjolaya sebagai sebuah Laboratorium Kebaikan. Ini adalah tempat di mana berbagai gagasan diuji coba, tempat orang-orang bertemu untuk bertukar pikiran, tempat pengalaman dikumpulkan dan dianalisis, dan tempat sebuah model kolaborasi yang efektif dapat tumbuh dan berkembang.
Sebagai penghubung
AGROMA membayangkan dirinya berdiri di tengah, bukan sebagai pihak yang paling hebat atau paling tahu. Kami hadir sebagai pihak yang bersedia mendengar, memfasilitasi, dan menghubungkan. Pemerintah memiliki kebijakan dan kewenangan. Sekolah memiliki anak-anak dan ruang pendidikan. Masyarakat memiliki kehidupan dan kebiasaan sehari-hari. Dunia usaha memiliki produk, sumber daya, dan tanggung jawab sosial. Pengelola sampah memiliki pengalaman dalam mengelola material. Generasi muda memiliki energi dan kreativitas. AGROMA berupaya mengorkestrasi semua potensi tersebut agar bergerak menuju tujuan yang sama: lingkungan Tenjolaya yang lebih baik.
Kami percaya bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana. Satu sekolah yang menerapkan praktik ramah lingkungan, satu kelompok anak yang peduli, satu keluarga yang memilah sampah, satu kegiatan edukasi, satu kebiasaan kecil seperti tidak langsung membuang kemasan, atau satu orang yang kemudian mengajak orang lain. Kemudian jumlahnya bertambah, menciptakan efek domino. Dari sana, kita belajar, memperbaiki, dan mengembangkan. Apabila berhasil, model ini dapat diperluas ke wilayah lain. Cara kerja seperti ini sejalan dengan model AGROMA yang menempatkan proses sebagai rangkaian perencanaan, pelaksanaan, pembelajaran, evaluasi, pengembangan, dan kemudian pengulangan di tempat lain.
AGROMA: Sebuah Rumah Kolaborasi, Bukan Kekuasaan Individu
Sebagai salah seorang Pembina, saya menyadari bahwa sebuah yayasan tidak boleh dibangun berdasarkan kehebatan seseorang. AGROMA harus menjadi rumah bagi banyak orang yang mempunyai niat baik. Ia harus menjadi rumah bagi gagasan-gagasan inovatif, rumah bagi semangat kolaborasi, rumah bagi anak-anak muda yang berenergi, rumah bagi sekolah, rumah bagi masyarakat, serta rumah bagi pemerintah dan dunia usaha yang ingin bekerja bersama untuk lingkungan yang lebih baik. Oleh karena itu, semakin besar AGROMA nanti, semakin penting bagi kita untuk menjaga satu prinsip: AGROMA harus tetap menjadi penghubung, bukan menjadi pusat dari segala sesuatu. Pusat perubahan tetap berada di masyarakat itu sendiri. AGROMA hanya membantu agar energi perubahan tersebut dapat bertemu dan bergerak bersama secara sinergis.
Saya tidak ingin terlalu cepat mengatakan bahwa model AGROMA adalah model yang sudah sempurna. Belum. Kita masih dalam tahap belajar, masih mencoba, dan pasti akan menemukan banyak tantangan di sepanjang perjalanan. Namun, justru di situlah nilai sebuah perjalanan terletak. Kita berani memulai, kita bersedia mendengarkan masukan, kita mau memperbaiki setiap kekurangan, dan kita tidak berhenti ketika menemukan kesulitan. Jika suatu hari nanti pengalaman dari Tenjolaya dapat membantu wilayah lain menemukan cara yang lebih baik dalam mengelola lingkungan, maka pengalaman itu akan menjadi jauh lebih berarti dan bermanfaat.
Harapan yang Mendalam
Sebagai Pembina Yayasan AGROMA Indonesia, saya mempunyai harapan yang sederhana namun mendalam. Saya ingin melihat anak-anak Tenjolaya tumbuh di lingkungan yang lebih baik dan sehat. Saya ingin melihat sekolah menjadi tempat tumbuhnya kebiasaan-kebiasaan baik yang berwawasan lingkungan. Juga, saya ingin melihat masyarakat merasa bahwa persoalan lingkungan adalah milik bersama, yang harus diatasi dengan semangat kebersamaan. Saya ingin melihat dunia usaha hadir bukan hanya sebagai pemberi bantuan, tetapi sebagai bagian integral dari solusi. Saya ingin melihat pemerintah dan masyarakat berjalan beriringan, saling mendukung dalam upaya pelestarian lingkungan. Dan saya ingin AGROMA menjadi bagian kecil yang membantu semua itu terjadi. Bukan karena AGROMA harus menjadi yang paling terlihat, tetapi karena ketika semua pihak mulai bergerak bersama, manfaatnya akan jauh lebih besar dan berkelanjutan daripada jika kita bekerja sendiri-sendiri.
Pada akhirnya, bagi saya, AGROMA bukan sekadar nama sebuah yayasan. AGROMA adalah sebuah cara pandang, sebuah filosofi bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Kadang kita hanya perlu melihat lebih dekat: siapa yang sudah ada, apa yang sudah dimiliki, apa yang sudah dilakukan, dan kemudian: bagaimana semuanya dapat dipertemukan dan diselaraskan. Itulah yang ingin kami lakukan di Tenjolaya.
Dengan berpegang pada arah kebijakan yang sudah ada, termasuk P.75/2019 dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Bogor, AGROMA ingin mengajak berbagai pihak untuk mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata. Dari kebijakan menjadi gerakan yang hidup. Dan dari sekolah menjadi kebiasaan baik. Lalu dari kebiasaan menjadi budaya yang mengakar. Sampai dari berbagai potensi yang berjalan sendiri-sendiri menjadi sebuah gerakan bersama yang kuat. Saya percaya, Tenjolaya memiliki potensi besar untuk mencapai itu. Dan saya percaya, AGROMA hadir bukan untuk mengambil alih potensi tersebut, tetapi untuk mengorkestrasinya, karena perubahan yang baik tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang yang bekerja sendiri, tetapi lebih banyak orang yang bersedia bekerja bersama.







