Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis di Dramaga Melonjak hingga 489 Orang dari 3 SMP

by -5 views
by
Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis di Dramaga Melonjak hingga 489 Orang dari 3 SMP

JABARMEDIA – Kasus dugaan keracunan massal kembali mengguncang wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jumlah siswa dan guru yang mengeluhkan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Dramaga dilaporkan melonjak tajam hingga menyentuh angka 489 orang per Selasa malam (27/10/2026). Ratusan korban yang mengalami gejala medis serupa kini berada dalam penanganan intensif tim kesehatan gabungan.

Kapolsek Dramaga, Iptu AM Zalukhu, bersama dengan jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor. Dia mengonfirmasi bahwa sebaran korban tidak hanya berpusat pada satu titik, melainkan melanda para pelajar dan pengajar dari tiga sekolah menengah negeri sekaligus, yakni SMPN 1 Dramaga, SMPN 2 Dramaga, dan SMPN 3 Dramaga.

Kronologi Kejadian dan Gejala Tunda

Berdasarkan hasil penelusuran epidemiologi sementara. Paket makanan dari program MBG tersebut didistribusikan dan disantap oleh para siswa pada Senin pagi, 26 Oktober 2026. Paket makanan yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat diketahui berisi menu nasi, lauk pauk berupa sate ayam, sayuran, serta olahan tempe.

Baca Juga:  Ridwan Kamil Siap Maju Capres di Pilpres 2024, Ini Kriteria Wakilnya

Efek negatif dari makanan tersebut dilaporkan tidak langsung muncul seketika di area sekolah. Gelombang keluhan massal justru baru meledak pada Selasa dini hari hingga pagi hari (27/10) setelah para siswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Ratusan anak mendadak terbangun dengan keluhan kepala pusing, badan demam, mual, muntah secara berulang, hingga mengalami diare parah.

Penanganan Medis Darurat dan Biaya Pengobatan

Mengingat masifnya jumlah pasien yang datang dalam waktu bersamaan, Pemkab Bogor bersama BPBD, TNI, dan Polri langsung mendirikan posko kesehatan darurat di area sekolah terdampak. Langkah ini diambil guna mengurai penumpukan pasien di pusat penanganan utama, yakni Puskesmas Cangkurawok (Cikarawang).

Bupati Bogor Rudy Susmanto menjelaskan bahwa sebagian besar korban dengan gejala ringan telah diperbolehkan pulang ke rumah setelah mendapatkan suntikan cairan infus obat-obatan. Namun, terdapat 22 pasien yang terpaksa harus dirujuk ke beberapa rumah sakit sekitar karena kondisi fisiknya yang terlanjur melemah drastis.

“Dari total ratusan korban, per sore ini yang masih dirawat inap di Puskesmas Cangkurawok tersisa 9 siswa. Sementara yang dirujuk ke RS Karya Bhakti Pratiwi (KBP) tersisa 3 orang dari semula 19 siswa. Serta di RS Medika Dramaga tersisa 1 orang siswa yang masih diobservasi ketat,” papar Rudy Susmanto saat memberikan pembaruan data medis.

Baca Juga:  Mengatur Waktu dengan Bijak Selama Bulan Puasa Ramadhan

Bupati juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu mencemaskan urusan administratif pengobatan. Seluruh biaya perawatan medis para korban ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Bogor, baik yang dirawat di puskesmas maupun rumah sakit swasta rujukan. Pihak aparat desa bersama Bhabinkamtibmas juga dikerahkan untuk melakukan penyisiran ke rumah-rumah guna memastikan tidak ada siswa sakit yang terlantar karena orang tuanya sedang bekerja.

Uji Laboratorium dan Kebijakan PJJ 2 Hari

Hingga saat ini, Pemkab Bogor masih melabeli kasus ini sebagai “indikasi dugaan keracunan” sembari menunggu bukti klinis yang valid. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah resmi mengamankan sisa sampel makanan, bumbu masakan, wadah. Bahkan hingga spesimen medis dari tubuh korban untuk diperiksa secara mendalam di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Langkah uji lab ini krusial untuk memetakan apakah kontaminasi bakteri atau zat beracun. Bersumber dari bahan baku mentah atau higienitas selama proses pengemasan di SPPG terkait.

Sebagai langkah antisipatif demi memulihkan kondisi fisik maupun psikologis anak-anak. Pemkab Bogor resmi menghentikan aktivitas belajar tatap muka di sekolah yang terdampak paling parah. Pihak otoritas memberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama dua hari (Rabu dan Kamis). Ini khusus bagi seluruh siswa SMPN 1 dan SMPN 2 Dramaga.

Baca Juga:  Bangsa yang (Belum) Menghargai Sejarah

Insiden massal di Dramaga ini menjadi alarm keras sekaligus bahan evaluasi mendalam kedua. Yaitu tata kelola jaminan keamanan pangan program MBG di wilayah Bogor. Setelah kejadian serupa sempat menimpa ratusan murid SMPN 2 Cisarua pada pekan sebelumnya.

Tentang Penulis: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.

No More Posts Available.

No more pages to load.