SMPN 7 Bandung Raih 7 Medali Di Korsel

by -13 views

1637232PRESTASI internasional kembali diukir oleh pelajar Indonesia. Kali ini tim Sangkuriang Robotic SMP Negeri 7 Bandung berhasil meraih tujuh medali di ajang International Robotic Olympiad Ke-14 pada Desember 2012 lalu yang digelar di kota Gwang Ju Korea Selatan. Cuaca dingin di Korea Selatan sempat mengkhawatirkan para anggota tim. Namun Robo Shove dan Prison Break hasil rakitan mereka bisa bersaing dengan robot karya siswa dari negara lain.

Tim Sangkuriang SMPN 7 terdiri atas Prima Widianto Mozep, M Fakhri HA, Arya Putra RA, Refiar Nevanda Riqzan, Azman Syah Barran, Yasmine Afifah, Elvina Pustina Dhata, Vania Widianti Mojep, Indra Satya Naufaldi dan Syahna Rahma Falihah. Mereka berhasil meraih lima penghargaan Technical Award untuk lima kategori Prison Robot dan dua penghargaan Special Award untuk kategori Robo Shove.

Menurut Azman, Prison Robot adalah jenis robot yang mampu mendeteksi halang rintang. Sedangkan Robo Shove adalah robot yang mampu menjatuhkan atau mendorong benda ataupun lawan yang ada di hadapannya. Semua robot ini murni dirancang mereka sendiri dengan dibimbing oleh Eril Mozep, seorang dosen ITB dan Yayat Sudrajat yang juga guru TIK SMPN 7 Bandung.

“Kami ikut kegiatan ekstrakurikuler robot, jadi terus berlatih merakit robot dan salah satunya yah kedua jenis robot yang ikut lomba ini,” katanya ditemui di SMPN 7 Bandung, Selasa (8/1).

Menurut Azman, kesulitan untuk membuat robot-robot ini adalah dalam pemograman. Namun dengan kegiatan ekstrakurikuler yang mereka ikuti, kendala-kendala yang awalnya sulit bisa diatasi. Karenanya mereka juga ingin berkreasi lebih bagus lagi.

Arya, anggota tim lainnya, mengatakan, kendala yang sempat membuat tim Sangkuriang khawatir adalah saat tiba di Korea Selatan, cuaca sangat dingin hingga mencapai minus 6 derajat. Kondisi ini tidak saja kurang nyaman buat anggota tim yang tidak terbiasa dengan kondisi dingin, tapi dikhawatirkan juga bisa merusak robot yang mereka bawa dari Bandung.

“Dan ternyata, saat lomba panitia baru memberi tahu kalau robot yang kita bawa harus dibongkar semua komponennya. Jadi kita seperti buat dari awal, di sini juga kita merasakan tantangannya,” katanya.

Semua anggota tim diberi waktu tiga jam untuk merakit kembali robot karya mereka. Mereka harus sudah bisa menjalankan robot tersebut setelah dirakit. Tim sempat mengalami kendala juga saat menyolder komponen karena cuaca dingin membuat anggota tubuh terasa kaku, termasuk tangan-tangan mereka.

“Susah menyolder komponen yang sangat kecil, tangan kita terasa beku, takut salah solder, tapi Alhamdulilah, lancar,” katanya.

Sepuluh anggota tim ini bersaing dengan 700 peserta dari 20 negara yang ikut dalam ajang ini. Menurut Yayat, pembimbing Tim, keunggulan robot karya siswanya karena benar-benar dibuat sendiri, mulai pencarian bahan sampai pemograman dan perakitan. Sementara banyak tim dari negara lain yang menggunakan robot lego atau robot yang hanya tinggal dirakit  dan diprogram.

“Poin inilah yang membuat juri kagum serta mendapat apresiasi dari tim-tim dari negara lain,” katanya.

Kepala SMPN 7 Bandung, Suryamah, mengatakan keikutsertaan siswanya dalam ajang ini untuk membangun daya kreativitas siswa.  Mereka juga bisa mengasah kemampuan dan mengembangkan minat serta bakat, khususnya dalam bidang teknologi serta menumbuhkan sikap cerdas, inovatif, disiplin, dan tanggung jawab karena harus bertanding di luar negeri bersaing dengan siswa lain dari berbagai negara.

“Alhamdulilah, siswa siswi kami berhasil bersaing dengan siswa dari negara lain. Prestasi yang pasti tidak saja membanggakan kami, tapi keikutsertaan mereka juga membawa nama bangsa Indonesia,” katanya. (*)

Penulis : tif
Editor : dar