Dana Bantuan Siswa Miskin Hanya Tersisa Rp 5.000

by -2 views

BSMPEMERINTAH telah menggulirkan program Bantuan Opersional Sekolah (BOS) yang besarannya berbeda pada tiap jenjang pendidikan. Tujuannya agar masyarakat tidak galau ketika anakanaknya memasuki usia sekolah. Biaya pendidikan yang “selangit” menurut ukuran keluarga miskin, tidak lagi mejadi alasan anak-anak lebih baik membantu mereka di ladang atau mencari rongsok dan botol berkas kemasan air mineral di jalanan, demi recehan untuk membeli beras.

Apakah jurus ini cukup berhasil? Angka pastisipasi masyarakat untuk bersekolah cukup baik meskipun di sana sini masih nyaring terdengar cerita tentang penyimpangan penggunaan BOS oleh pihak sekolah. Bahkan banyak kepala sekolah yang akhirnya terseret kasus hukum.

Di Cilegon misalnya. Pada bulan Mei 2013, Kejaksaan Negeri Kota Cilegon, melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan korupsi anggaran dana BOS di Kota Cilegon senilai Rp25 miliar pada tahun 2011. Sebanyak 28 kepala sekolah SD dan SMP diperiksa.

Dan belum lama ini, di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, para orang tua murid SD akhirnya buka suara soal dugaan penyelewengan BOS. Mereka menduga kepala sekolah menggunakan dana BOS untuk keperluan pribadi dan berlangsung lebih dari empat tahun. Yah, meskipun yang tertuduh membantah semua ucapan orang tua murid.

Cerita miring oknum kepala sekolah atau guru “menggusur” jatah pelajar rupanya tak hanya pada proyek BOS. Dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM) pun disinyalir banyak penyimpangan. Dana dengan besaran Rp 360.000 per tahun untuk murid SD, Rp 550.000 per tahun untuk SMP, dan Rp 780.000 per tahun untuk siswa SMA/SMK tak sampai ke kantong siswa secara utuh. Malah, meskipun dikonversi dengan barang berupa tas, sepatu, atau penunjang pendidikan lainnya, nilainya jauh dari BSM yang mestinya diterima. Oalah gusti!

Senin (8/7), sejumlah orang tua murid mendatangi kantor Ombudsman Perwakilan Jawa Barat. Mereka mengadu soal dugaan penyelewengan BSM. Anak-anak mereka yang semestinya sudah menerima BSM, tapi hingga Senin belum menerimanya. Lucunya, meskipun ada murid yang telah diajak ke Kantor Pos untuk mengambil uang BSM, mereka hanya diminta tanda tangan penerimaan BSM sebesar Rp 360.000. Tapi yang diterima ditangan hanya Rp 5.000. Rupanya sebelum sampai di rumah, murid ditawari sepatu atau tas oleh pihak sekolah. Kalaupun murid kemudian memilih sepatu, tentu tak akan memakan nilai yang besar dan menyisakan uang Rp 5.000. Anak-anak dari keluarga miskin tak perlu sepatu mahal atau tas mahal. Mereka cukup mengenakan sepatu yang pantas dan nyaman.

“Dan sepatu yang dibelikan pihak sekolah tak terpakai karena kebesaran,” kata orang tua murid. Keluhan sejumlah orang tua murid lain juga demikian.

BSM ini diluncurkan memang untuk membantu anak-anak dari keluarga miskin agar tidak putus sekolah atau untuk menarik kembali anak-anak yang tak sekolah kembali bersekolah. Karena, meskipun biaya pendidikan sekarang gratis, tapi orang tua  masih banyak yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan lainnya, seperti seragam, buktu tulis, sepatu, biaya transportasi, maupun biaya lainnya yang tak ditanggung BOS. Dana BSM juga dicairkan sebelum tahun ajaran baru. Tujuannya agar kebutuhan pendidikan anak-anak keluarga miskin bisa terpenuhi. Tapi, nyatanya hingga kemarin belum cair.

Soal kebutuhan penunjang pendidikan, orang tua siswa jauh lebih paham dari pada orang lain. Barangkali anak-anak lebih memerlukan seragam daripada sepatu atau sebaliknya. Atau, mereka lebih memerlukan buku-buku ketimbang tas. Uangnya pun bisa diatur sehingga sisanya bisa untuk uang transport dan jajan.

Memasuki bulan Ramadan, bulan penuh ampunan, belum terlambat untuk bertobat, lalu mengembalikan BSM kepada mereka yang berhak dengan semestinya. Jika tidak, Allah telah mengancam mereka yang menghardik (tidak peduli) anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin, sebagai orang yang mendustakan agama. Tempat yang pantas bagi mereka adalah neraka. Naudzubillahi minzalik. (*)

Penulis: dia
Editor: dar
Sumber: Tribun Jabar