415 Hektare Sawah di Bandung Tercemar Limbah Industri

by -10 views

kaliSeluas 415 hektare sawah ditemukan rusak dan sudah tidak produktif lagi diantaranya, di Desa Jelegong, di Desa Ciherang, Desa Najung Mekar dan di Desa Linggar Kabupaten Bandung.

Lokasi-lokasi tersebut terletak di empat Kabupaten kota, yakni, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Rusaknya ratusan hektare sawah itu disebabkan limbah industri (B3) yang mengalir ke sawah dan meracuni air dan hewan air yang hidup di kawasan tersebut.

“Kita temukan 415 hektar area sawah rusak dan sudah tidak produktif lagi karena dampak pembuangan limbah B3,” kata Kapolda Jabar Irjen Mochamad Iriawan di Mapolda Jabar Selasa (9/9/2014).

Iriawan mengatakan, hal itu diketahui setelah tim Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Polda Jabar melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada tanggal 8-9 Mei 2014 di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat.

“Ya, jelas ini sangat membahayakan masyarakat. Masyarakat kan menggunakan air sumur (tanah), makan ikan yang hidup di air yang terkena limbah, juga memakan nasi dari hasil panen yang terkena limbah,” katanya.

Selain itu, hasil sidak saat itu, lanjut Iriawan, ditemukan dokumen-dokumen perijinan perusahaan yang terkait dengan lingkungan tidak lengkap.

“Ijin perusahaan, terutama tentang lingkungan ternyata tidak lengkap,” katanya.

Selain itu, beberapa perusahaan atau industri memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang bocor.

Sementara itu, Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jabar AKBP Ade Arianto menambahkan,  ada 14 perusahaan atau industri yang diperiksa. “Ada 14 yang perusahaan yang kita periksa, namun, yang kita konsen penyelidikan hanya 5 perusahaan,” katanya.

Beberapa perusahaan tersebut diantaranya, PT Kahatex, PT Tri Bakti, PT Hatori Indonesia, PT Jin Myong, PT Lotus Jingga Pratama, PT Sinar Baskara Sejati, PT Indah Jaya, PT Oriental Embroidery, PT Papyrus Sakti, PT Setiatex, Kusmajaya, PT Ateja, PT Cibaligo Indah, dan PT Holy Farma.

(tribunnews)