Ketemu Sate Kambing di Helsinki

by -14 views

sate 1PEDAGANG kaki lima menjadi inspirasi bagi menu yang ditampilkan Bali Brunch. Bertempat di Pueblo Bar & Restaurant di jantung Helsinki, ibu kota Finlandia, restoran Bali Brunch memperkenalkan Indonesia lewat sejumput rasa.

Makanan yang disajikan dipilih dari makanan-makanan yang kira-kira paling dikenal dan disukai di Indonesia, seperti pempek, karedok, rendang, ayam balado, sup, martabak manis, gorengan, dan beberapa menu lain. Cita rasa sengaja dibuat sebisa mungkin mendekati otentik dan tidak diadaptasi untuk lidah orang setempat. Tren warga dunia yang semakin sering bepergian ke negara lain diyakini justru akan membuat orang mencari rasa otentik.

Tidak heran jika pempek di sini kuah atau cukonya dibuat terasa benar asam dan pedasnya. Irisan mentimun menambah rasa segar. Sang koki, Marissa King (31) dan Sandrina Maulida Sinaga (30), keduanya orang Indonesia yang bermukim di Helsinki, menggunakan cuka, asam jawa, dan cabai segar untuk membuat cuko. Kebetulan Marissa berdarah Palembang dan kerap melihat ibunya yang mempunyai katering di Tanah Air membuat pempek.

Sayangnya, di sana sulit ditemukan tepung sagu sehingga sebagai ganti bahan pempek digunakan tepung tapioka yang membuat tekstur pempek tidak sekenyal biasanya. Ikannya juga diganti patin karena tidak terdapat ikan belida atau tenggiri. Ikan air tawar yang ditemukan di Finlandia, seperti patin, merupakan impor dari negara-negara Asia, terutama Vietnam.

Bumbu-bumbu segar cukup mudah diperoleh dengan adanya Indonesian Market dan IndoMarkt yang juga dimiliki orang Indonesia di Finlandia, Asianic Trading Store, serta toko-toko penjual bahan oriental lainnya. Kecuali jenis tertentu, seperti ketumbar, daun salam, kencur, dan daun jeruk purut yang masih sulit ditemui. Sampai-sampai Marissa mencoba menanam sendiri jeruk purut yang diletakkan di tepi jendela apartemennya.

”Untuk bumbu-bumbu segar yang tidak ada, biasanya kami beli dalam bentuk bubuk di toko bumbu India atau titip teman-teman dan keluarga dari Indonesia yang mau ke sini. Dulu, untuk mendapat rasa asam, kami sempat memakai larutan dari tomat kering,” kata Marissa.

sate 2

Bali Brunch dimiliki dan dikelola oleh pasangan suami istri Galih Ganesha Putra Bulgamin (32) dan Marissa King serta Anggi Namara Putra Bulgamin (30) dan Sandrina Maulida. Restoran yang berlokasi di Eerikinkatu 27, Helsinki, ini bersifat pop-up atau temporer karena hanya buka pada Minggu pukul 12.00-17.00 ketika Pueblo libur beroperasi.

Dibuka sejak Juni 2014, Bali Brunch bercikal-bakal dari Waroeng Indonesia pada acara Restaurant Day. Restaurant Day diselenggarakan empat kali setahun oleh Pemerintah Finlandia sejak 2010. Acara ini memungkinkan siapa saja bisa menjual makanan tanpa kontrol yang ketat seperti biasanya. Orang pun beramai-ramai membuka stan atau menjual makanan, di lapangan, di rumah masing-masing, atau di mana saja yang memungkinkan sepanjang tidak mengganggu mobilitas publik. Para imigran biasanya menyajikan menu otentik asal negara masing-masing.

Sate kambing

Menu yang pernah ditawarkan Waroeng Indonesia adalah sate kambing yang kini juga menjadi menu andalan di Bali Brunch. Dengan dibantu rekan-rekan sesama orang Indonesia, mereka membuat 800 tusuk sate yang habis diserbu pembeli. Hanya saja membakarnya menggunakan pemanggang seperti yang biasa digunakan untuk memanggang daging isian burger.

Untuk mendapatkan cita rasa sate kambing mirip seperti di Tanah Air, Anggi dan Sandrina yang sebelumnya sedang berada di Indonesia, belajar khusus kepada salah seorang tukang sate. Keduanya kemudian diajari mulai dari persiapan hingga memanggang, termasuk trik khusus mengolah daging, yakni mencelupkan potongan daging ke dalam parutan nanas agar empuk. Trik ini kemudian direkam menjadi video promosi mereka.

”Kami sangat mengapresiasi pedagang kaki lima di Tanah Air karena dari mereka kami mengadopsi model bisnis, mulai dari konsep, biaya produksi, manajemen pelaksanaan, hingga penentuan rasa. Meski masih kami sesuaikan dengan material lokal yang tersedia, standar kualitas dan higienitas karena aturan di sini sangat ketat,” kata Galih.

Tren warga dunia yang kini semakin sering bepergian ke negara-negara lain membuat Bali Brunch tidak ragu-ragu menyajikan masakan apa adanya seperti selera yang disukai orang asli Indonesia. Tidak heran jika pekat bumbu dan rasa pedas karedok atau ayam baladonya, misalnya, benar-benar terasa.

Karedok yang terdiri dari taoge, irisan kubis, wortel, timun, dan potongan daun basil dituangi sambal kacang dan remukan emping. Sambal kacangnya yang manis pedas dengan jejak kencur dan gula merah dibuat sendiri dengan ulekan yang dibawa dari Indonesia. Menu ini disukai pengunjung vegetarian, vegan, atau yang tengah berdiet. Ayam balado yang disebut wings balado menjadi menu paling juara. Mereka yang menghindari makan daging merah memilih menu ini. Sambal tomat yang melumurinya bikin lidah penasaran.

sate 3
Tidak ketinggalan rendang. Rata-rata pengunjung yang mencicipinya sepakat dengan hasil survei CNN bahwa ini makanan terenak di dunia. Untuk memasaknya, diperlukan waktu 4-6 jam dengan bantuan alat pengaduk otomatis. Adapun martabak manisnya disantap bersama es krim.

Para pengunjung yang datang biasanya adalah mereka yang pernah ke Bali atau daerah-daerah lain di Indonesia. Mereka ingin mengenang kembali pengalaman berkunjung ke Indonesia. Nama Bali sengaja dipilih sebagai pintu masuk untuk mengenalkan Indonesia lebih jauh. Meski demikian, tidak sedikit pengunjung yang datang ingin sekadar bertualang rasa mencicipi masakan Indonesia, mengingat sejauh ini tidak ditemukan restoran Indonesia lain di Helsinki.

Keunikan masakan Indonesia telah mengundang beberapa perusahaan menyelenggarakan PikkuJoulu atau small Christmas di Bali Brunch. Tradisi di Finlandia, perusahaan mentraktir karyawannya makan bersama sebelum liburan Natal. Pada akhir tahun lalu, PikkuJoulu di Bali Brunch dikemas sebagai Buffet Indonesia dengan iringan tari Bali oleh Bhinneka Finlandia, kelompok tari yang beranggotakan orang-orang Indonesia di sana.

(kompas)