Ini Alasan Orang Indonesia Jarang Menjadi CEO Perusahaan Asing

by -1 views

ceoHandry Satriago merupakan WNI pertama yang menjabat sebagai CEO General Electric (GE) Indonesia. Handry sempat bertanya-tanya mengapa CEO GE Indonesia sebelumnya tidak pernah berasal dari dalam negeri sendiri. Dia pun akhirnya mendapat satu jawaban langsung dari CEO GE Jeffrey R. Immelt.

Handry mengatakan, sebelum ia menjabat sebagai CEO GE Indonesia, posisi tersebut selalu diisi orang bekebangsaan asing, meski perusahaan asal Amerika Serikat tersebut beroperasi di Indonesia. Dari situ, Handry mulai tergelitik untuk mencari tahu apa yang salah dalam gaya kepemimpinan atau kinerja orang Indonesia sehingga jarang menjadi CEO pada perusahaan multinasional yang beroperasi di negeri sendiri.

Beberapa pekan setelah dilantik sebagai CEO pada 2010, Handry mendapat kesempatan untuk memperoleh jawaban langsung dari orang nomor satu di GE, Jeffrey R. Immelt. Saat bertemu langsung, Handry langsung mengajukan pertanyaan mengapa Jeffrey sebelumnya tidak pernah mengangkat WNI untuk menjadi pemimpin GE Indonesia.

“Masalahnya adalah, kalian (WNI) sulit untuk mengatakan ‘tidak’,” ujar alumnus Universitas Indonesia (UI) tersebut menirukan perkataan Jeffrey saat berbincang di The Capitol.

Dalam rangkaian peringatan ulang tahun Alternative Media Group ke-9 di Jakarta, Jumat (20/11), Jeffrey, kata dia Handry, mengatakan bahwa WNI merupakan pekerja yang hebat. Pasalnya, setiap target yang diberikan selalu berhasil dicapai, dan setiap instruksi yang diberikan selalu dijalani dengan baik. Dengan kata lain, Jeffrey pada saat itu mengatakan kepada Handry bahwa pekerja WNI sebagai sosok yang good at saying ‘yes’.

Tetapi, di situ lah sebenarnya letak permasalahan mengapa Jeffrey sebelumnya tidak pernah menunjuk WNI unuk menjadi pemimpin GE Indonesia. Jeffrey, ungkap Handry, mengatakan, seseorang yang hanya berkata ‘iya’ dalam setiap instruksi tanpa pernah memberi masukan tergolong sebagai ‘pekerja’.

Yang dibutuhkan dalam figur ‘pemimpin’ ialah sosok yang memiliki kepercayaan diri untuk menyampaikan ide, memberi timbal balik dan masukan, serta berkata ‘tidak’ ketika melihat ada sesuatu yang kurang baik. “Selama ini kita lebih sering hanya menjadi good doers,” terang Handry.

(Republika)