Dosen IPB Ajari Warga Manfaatkan Limbah Dapur Jadi Pupuk POC

by -47 views
dosen ipb bikin pupuk poc

Pandemi Covid-19 memaksa berbagai aktivitas harus dikerjakan dari rumah dengan segala keterbatasannya. Meski demikian, dosen-dosen dari IPB University tak menghentikan langkahnya untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat.

Adalah Dr. Illah Sailah (Fakultas Teknologi Pertanian) dan Dr. Dwi Guntoro (Fakultas Pertanian) dari IPB University yang tetap bergerak di tengah pandemi. Dua dosen ini memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat tentang pemanfaatan limbah dapur menjadi pupuk organik cair. Bedanya, penyuluhan kali ini berlangsung secara daring alias tanpa tatap muka pada 24-25 Oktober 2020.

Pada tanggal 24 Oktober, pertemuan dengan masyarakat berlangsung secara virtual melalui Zoom dan diikuti oleh 100 peserta dari Aceh, Kalimantan Tengah, NTB, Jabar dan DKI Jakarta.

Para peserta sebagian besar datang dari kalangan akademisi (dosen dan guru) maupun yang berkarya di luar bidang pertanian. Dalam kesempatan tersebut, telah dipaparkan tentang manfaat dan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), cara perbanyakan Mikroorganisme Lokal (MOL) dan penggunaan POC untuk tanaman.

Peserta sangat antusias bertanya tentang pembuatan dan kemungkinan penggunaan bahan lain atau bahan campuran yang tidak diperbolehkan untuk dimasukkan. Ketika ditanya tentang bahan lain untuk menggantikan gula merah, Illah Sailah menjelaskan bahwa gula merah dapat diganti dengan molase atau gula pasir, karena sama-sama menjadi sumber energi bagi pertumbuhan mikroba.

Baca Juga:  Kronologi Runtuhnya Jembatan Cihideung

“Mengenai penggunaan yang efektif untuk tanaman, tergantung jumlah mikroba yang ada dalam POC. Biasanya 1 liter POC dapat diencerkan dalam 200 liter, apabila sudah dilakukan uji secara lengkap,” ujar Dwi Guntoro menambahkan.

Untuk praktik pembuatan POC sendiri telah didemonstrasikan dan diikuti oleh peserta yang sebelumnya telah mengikuti pertemuan virtual, (25/10). Praktik ini diselenggarakan di Pakuan Regency Bogor dan diikuti 30 orang peserta yang disaksikan langsung Lurah Margajaya, Yudi Maryudi Somiki dan Ketua RW 03 klaster Linggabuana di Kebun Edukasi. Tentunya seluruh peserta tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Saya ingin hal yang sama dilaksanakan di beberapa RW lainnya karena hal seperti ini sederhana tapi manfaatnya besar. Terima kasih bapak dan ibu dosen yang sudah bersedia berbagi pengetahuan dan pengalamannya,” ungkap Lurah Yudi.

Beberapa bahan untuk membuat pupuk cair dari limbah dapur. Pelatihan pembuatan POC ini menjadi penting karena selain dapat mengurangi sampah dapur yang harus
diangkut ke TPS/TPA, masyarakat dapat melakukan kegiatan yang bermanfaat dan membantu memelihara fungsi lingkungan dengan menggunakan pupuk organik.

Baca Juga:  Empat Mahasiswa IPB Temukan Pembuatan Gula Berbahan Limbah Singkong

POC dibuat dari bahan baku seperti tangkai kangkung, bayam, sawi hijau, bonggol jagung, kulit pisang, bagian bawah sawi putih, kulit wortel, kentang, ubi dan sejenisnya.

Bahan-bahan itu kemudian ditambahkan MOL, air cucian beras dan air gula dengan perbandingan 1:1:1 lalu ditambahkan 8 bagian air. Semua bahan kemudian dimasukkan ke dalam ember bertutup dan memiliki kran serta sudah ditaruh karung kain atau goody bag di dalamnya.

Pemeraman dilakukan selama 7 hari dan setelah itu baru dapat dipanen dan disimpan atau digunakan langsung dengan pengenceran. Hasil panen ini juga dapat dijadikan MOL untuk proses fermentasi selanjutnya.

Praktik dilakukan per klaster dengan harapan pembuatan POC ini dapat menghidupkan kerukunan antartetangga. Satu kontainer dapat dijadikan ‘proyek’ di masing-masing RT atau RW.

Semisal satu hari setiap rumah menghasilkan 300-500 gram limbah, maka dengan delapan rumah sudah dapat membuat POC, yang akhirnya dapat digunakan sendiri secara berkesinambungan. Namun, perlu ada pilot project dari kelompok yang memiliki passion dengan beberapa champions sebagai penggeraknya.

Hal ini menunjukkan bahwa seeing is believing. Kalau sudah melihat betapa sederhana dan mudah dalam pembuatannya, tinggal bagaimana kemauan untuk menggerakkannya.

(metropolitan.id)