JABARMEDIA – Serangan hama tikus yang semakin ganas menyebabkan para petani di Kabupaten Tasikmalaya kewalahan. Ratusan hektar sawah terancam gagal panen, sehingga memaksa petani mengambil langkah ekstrem dengan melakukan pemburuan tikus secara besar-besaran menggunakan metode tradisional “gembosan”.
Serangan hama tikus yang cukup berat dilaporkan terjadi di Desa Cikoneng, Kecamatan Ciawi, dan menyebar ke wilayah utara Tasikmalaya, seperti Sukahening, Jamanis, Sukaratu, bahkan sampai ke Kecamatan Padakembang. Padahal, daerah-daerah tersebut merupakan kawasan lumbung padi di Tasikmalaya.
Seorang petani bernama Ukat mengakui bahwa lima musim tanam terakhir selalu mengalami kegagalan panen karena serangan hama tikus. Jumlah gabah yang dihasilkan menurun drastis dibandingkan biasanya. Keadaan ini menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi dirinya dan puluhan petani lainnya.
“Seharusnya bisa menghasilkan panen yang baik. Ini terus gagal. Bisa dilihat sendiri, sawah kosong, akarnya dimakan. Padi kering dan mati,” kata Ukat, Senin 25 Agustus 2025.
Menurutnya, lahan seluas 100 bata (sekitar 1.400 meter persegi) seharusnya mampu menghasilkan 5 kuintal gabah basah. Namun, saat ini, banyak petani yang tidak bisa memanen karena tanaman telah rusak lebih dahulu. Di area sawah miliknya sendiri, terdapat sekitar 10 hektare lahan yang mengalami kerusakan parah.
Marah karena terus mengalami kerugian, kemarin siang sejumlah petani turun ke sawah untuk menangkap hama tikus. Mereka menggunakan cara “gembosan” dengan mengasapi lubang tikus menggunakan asap beracun. Alat khusus dibuat untuk mengasapi lubang tersebut. Mereka membakar serabut kelapa atau tapak yang telah dicampur dengan belerang.
Asap tebal dan beracun kemudian dimasukkan ke dalam lubang-lubang tikus, sehingga tikus keluar dari lubang dengan kondisi lemah. Pada saat itu, petani langsung memukul tikus tersebut.
Meskipun dianggap efisien, pendekatan ini tidak mampu menghilangkan seluruh populasi tikus. Namun, dalam beberapa jam penangkapan, puluhan tikus berhasil ditangkap.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Peternakan Kabupaten Tasikmalaya, Tatang Wahyudin, mengakui adanya penyebaran hama tikus yang meluas. Serangan ini sangat mengganggu, khususnya di wilayah Tasikmalaya utara, seperti Ciamis, Sukahening, Sukaratu, dan sekitarnya.
“Benar, Pak. Lahan persawahan terkena serangan hama tikus. Kami masih melakukan pendataan jumlah kerugian yang pasti. Yang menjadi kekhawatiran, hama ini sudah masuk ke Padakembang yang merupakan daerah penghasil beras,” kata Tatang.
Mereka akan segera menangani hama tikus di area yang terkena dampak untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Lepas ular
Di sisi lain, dalam upaya mengatasi hama tikus di Indramayu, Bupati Indramayu Lucky Hakim menargetkan melepaskan 10.000 ekor ular ke lahan persawahan di wilayahnya melalui Program Ular Sahabat Petani. Fokus utamanya adalah lahan persawahan yang para petaninya sedang kesulitan dan khawatir menghadapi penyerangan hama tikus yang semakin marak.
Lucky memastikan bahwa ular yang dilepaskan tidak beracun. Bahkan, ular ini takut pada manusia sehingga akan kabur saat bertemu dengan manusia.







