Solusi untuk Mengatasi Banjir di Bandung Raya
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah menyampaikan dua solusi penting untuk mengatasi banjir yang sering terjadi di wilayah Bandung Raya. Solusi ini menyoroti kebutuhan lahan seluas 1.000 hektare dan anggaran sebesar Rp7 triliun. Dedi menekankan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk membangun danau-danau sebagai penampung air, yang diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi musim hujan.
Banjir besar yang baru saja melanda wilayah Bandung Raya disebabkan oleh luapan sungai Citarum dan anak-anak sungainya. Selain itu, hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kota dan Kabupaten Bandung sejak Jumat (10/4/2026) juga turut berkontribusi pada kejadian tersebut. Akibatnya, beberapa wilayah di Bandung Raya terdampak banjir, termasuk kawasan-kawasan yang biasanya tidak rentan terkena banjir.
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa pembangunan danau-danau ini akan membutuhkan lahan seluas 1.000 hektare dan anggaran sebesar Rp7 triliun. Namun, ia menegaskan bahwa anggaran tersebut hanya mencakup biaya pembebasan lahan berdasarkan harga lama. Total kebutuhan anggaran bisa jauh lebih besar karena belum memasukkan biaya konstruksi dan pembangunan infrastruktur lain.
Untuk mewujudkan solusi ini, Dedi menuntut keseriusan dari semua pihak. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama pemerintah daerah di Bandung Raya harus segera duduk bersama untuk membahas skema pendanaan. Wilayah yang terlibat dalam penanganan ini mencakup Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, hingga Kabupaten Bandung Barat yang semuanya merupakan kawasan yang kerap terdampak banjir.
“Sejak sekarang harus dibicarakan, Rp7 triliun nanti kita dapat dari mana, kalau ingin bebas banjir,” ujar Dedi.
Penyebab Banjir di Bandung Barat
Menurut Dedi Mulyadi, penyebab banjir di Bandung Barat adalah banyaknya alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara (KBU). Ia mengatakan bahwa pembukaan lahan hutan untuk perkebunan sayur yang tidak ramah lingkungan menyebabkan lahan kritis dan mempercepat pendangkalan sungai.
“Penyebabnya pendangkalan sungai dan kerusakan hulu. Hutannya kan sudah jadi kebon sayur, kebon sayurnya menanam pakai plastik,” ujar Dedi saat ditemui di Cipatat, Bandung Barat.
Oleh karena itu, Dedi berencana melakukan penertiban serupa dengan yang telah diterapkan di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. “Saya akan beresin sama seperti (kawasan) Puncak, Bogor,” katanya.
Zulkifli (58), warga Kampung Cibarengkok, RT 03 RW 13, Desa Nyalindung, mengaku bahwa banjir baru terjadi dalam dua tahun terakhir. Ia menduga bencana ini bukan sekadar akibat hujan deras, melainkan dampak dari perubahan tata guna lahan dan proyek pembangunan di wilayah hulu.
“Hampir 60 tahun saya tinggal di sini, gak pernah ada banjir. Tapi dua tahun terakhir ini banjir jadi tiap tahun,” ujarnya.
“Saya duga ini akibat ada pengerasan di atas sana macam kereta cepat, jalan tol, dan pembangunan lain. Imbasnya penyerapan air berkurang,” kata Zulkifli.
“Harapan saya bagaimana di wilayah hulu pembangunan bisa dikendalikan. Agar warga yang tinggal di hilir gak menderita kena banjir,” tandasnya.








