Mengunjungi Pengrajin Opak di Leuwiliang

by -11 views

Pilih Bertahan, Dibantu Anak yang masih Pelajar

opak
Ilustrasi Opak

Jika berkunjung ke Kecamatan Leuwiliang, rasanya kurang lengkap jika tidak membawa oleh-oleh makanan khas daerah ini. Salah satunya yang cukup terkenal adalah opak.

Sekitar pukul 08:00, halaman rumah Zainal Abidin (35) sudah dipenuhi jemuran opak. Puluhan tahun, Kampung Lebakpasar, RT 04/05, Desa Leuwiliang, Kecamatan Leuwiliang, ini dikenal sentra produksi makanan opak. Dari puluhan pengrajin, hanya Zainal yang masih bertahan.

Untuk pemasaran, Zainal tidak mengalami kesulitan karena sudah mempunyai penampung untuk menjual hasil produksi di Pasar Leuwiliang dan Ciampea.
Setiap hari Zainal selalu menjual opak kepada pengecer dengan harga Rp8.000 per kilogram. Memasuki Ramadan hingga Lebaran, naik menjadi Rp10.000 per kilogram.

Setiap hari dia dan beberapa saudaranya hanya mampu memproduksi opak 60 kilogram. Namun, saat bulan puasa naik menjadi 120 kilogram. “Jika sudah Lebaran, harga dan permintaan opak akan kembali normal seperti biasa,” ujar pria tiga anak ini.

Dalam mengolah opak sehari-hari, dia dibantu anak pertamanya Jesi (14) yang masih duduk dibangku SMP dan Jidan (10) kelas IV SD. Sementara anak ketiganya yang masih balita, Zaskia (5), belum bisa membantu usaha orangtuanya. “Biasanya, pulang sekolah saya membantu bapak kerja,” ucap Jidan.

Delapan tahun lalu, sebelum terjun dalam kerajinan opak, Zainal berjualan sayuran di Pasar Leuwiliang. Dia mengaku sempat meragukan usaha opak. Namun karena dinilai memiliki potensi yang menjanjikan, dia mulai tertarik menjalankan usaha warisan keluarganya tersebut.

Dia berharap ada bantuan dari pemerintah berupa modal karena selama ini belum pernah dirasakannya. Menikmati opak sebagai makanan ringan cukup mudah, tinggal digoreng seperti memasak kerupuk. Apalagi jika dikonsumsi pada musim hujan dijamin akan menambah cita rasa semakin lezat. (*)
(Lucky L Hakim) sumber : radar-bogor