Marissa Mayer Dewi Penolong Yahoo

by -3 views

Terseok-seoknya Yahoo, kini mendapat mendapat dewi penolong. Marissa Mayer sang nakhkoda baru justru berasal dari mesin pencari musuh bebuyutan, Google.

Pengalaman perempuan berusia 37 tahun di Google menjadi alasan utama dibajaknya Mayer. Dia memimpin desain banyak produk unggulan Google seperti Google Search dengan halaman putihnya yang khas, Google Mail alias Gmail, Google News dan Google Images. Sebelum melompat ke Yahoo, Mayer memimpin layanan berbasis lokasi dan produk lokal.

Hal ini merupakan langkah penting bagi Google untuk berkiprah di arena mobile yang memanjakan pengguna melakukan pencarian yang tidak terikat tempat. Ketika masih di Google, dia memiliki visi ingin menjadikannya seperti pisau serba guna. “Google ibarat pisah Swiss-Army. Kita bisa menggunakannya sebagai pisau, pembuka botol. Juga gunting dan gergaji kecil. Sungguh penuh manfaat dan personal,” ujarnya.

Di Google, Mayer bertanggung jawab untuk mengawasi peluncuran beberapa produk perusahaan yang paling identik alias penuh inovasi seperti Google Maps, dan iGoogle.

Dia juga menjadi desainer dari konsep tampilan Google yang kita kenal begitu minimalis. Ini sejatinya wajar bagi Mayer yang mengaku sangat fokus pada kebutuhan pengguna.

Substansi pengguna dari seluruh dunia tidak lain ialah hasil pencarian yang cepat dan mendekati atau bahkan sesuai ekspektasi. “Fokus kita adalah produk dan kebutuhan pengguna,” tegasnya. Tak pelak, sisi fokus menjadi salah satu dari empat hal yang melekat pada diri alumni Stamford University ini.

Dia diyakini mengembalikan menggiring perusahaan kembali ke ‘akar’ produk dan konsumennya. “Berawal dari tempat yang paling mudah di dunia online, yaitu website, kita mesti mencurahkan talenta dan kemampuan untuk membawa ke tataran yang lebih tinggi.

Dunia online memiliki fungsi sebagai buku, video dan fotograsi,” ujarnya. Sebagai salah satu generasi pertama karyawan Google, nomer 20, dia juga menjadi mentor yang baik. Marissa dipandang mampu memimpin dan membimbing teman sejawat dan bawahan untuk menggali bakat mereka.

Bahkan di Google, dia menciptakan program khusus untuk melatih para manajer produk mengenai kepemimpinan eksekutif. Ia menilai, skill memimpin perlu diasah karena mereka dikelilingi oleh banyak kepentingan baik dari perusahaan hingga karyawan yang membutuhan arahan sekaligus ruang kreatif lebih luas.

Dia juga dikenal bertangan dingin dalam memperkenalkan inovasi. Kembali ke tampilah minimalis Google merupakah buah kerja kerasnya untuk menyakinkan petinggi Google akan substansi mesin pencari.

Bahkan ketika dia hijrah ke Yahoo, Mayer justru tertantang dengan membawa gaya kepemimpinannya ke Yahoo. Apalagi dia didukung penuh jajaran direksi Yahoo untuk menjabat sebagai CEO.

Terakhir, kepopulerannya di jagat teknologi informasi diharapkan membawa semangat karyawan Yahoo yang tengah lesu setelah kawan-kawannya terpaksa dirumahkan alias dipecat demi efisiensi.

Ketika di Google, Mayer memang sering tampil di muka umum baik dalam presentasi produk maupun acara bincang-bincang di media. Mayer juga beberapa kali masuk daftar 50 Most Powerful Women in Business versi majalah Fortune. Apalagi dia menjadi wanita termuda yang masuk dalam daftar tersebut.

Sederet alasan itu tampaknya mendorong Co-founder Yahoo, David Filo merestui pinangan bagi Mayer. Perempuan yang tengah hamil itu, ketika di Google merupakan bagian dari The OC alias Organizing Committee. Kelompok eksekutif ini dinilai sebagai lingkar satu top manajemen.

Kunci Mayer Mayer juga kerap berbagi poin-poin non teknis yang mengantarkan seseorang pada kesuksesan. paling tidak mendekatkan pada tujuan pekerjaan atau keberhasilan sebuah proyek. Pertama, meredam keraguan dengan mengambil peluang dan tantangan. “Saya selalu melakukan beberapa hal yang tidak siap saya lakukan.

Mungkin, justru inilah bagaimana mulai berkembang. Coba, ketika Anda mendorong diri Anda menjawab keraguan tersebut, itulah saat di mana Anda melakukan terobosan dalam hidup,” katanya. Hal kedua ialah pemetaan pada diri sendiri dan membuat prioritas. “Temukan ritme Anda, pahami hal apa yang membuat Anda senang atau benci dan meraih hal-hal yang penting baginya” ujannya.

Dia percaya pola pikir seperti ini mendorong seseorang bekerja keras dalam waktu yang lama. Faktor lingkungan juga diakuinya menyokong keberhasilan. “Sungguh luar biasa bekerja dengan banyak orang cerdas dan pintar,” papar Mayer.

Selain itu, dia memberikan petunjuk bagaimana memberi kepuasan pada pengguna. Caranya,berpikirlah sebagai konsumen. Dia menerangkan, ketika bekerja atau merancang sesuatu, cobalah selalu menempatkan diri sebagai seorang konsumen. Dia juga berharap seseorang tetap berada pada rel alias jalur yang tepat.

Konsistensi ini diharapkannya menjagan fokus dalam menjalankan rencana bisnis atau hidup. Tentu saja, Mayer segera memanggul beban untuk mengembalikan kejayaan Yahoo. Untuk meminang Mayer, Yahoo dikabarkan membayar kompensasi yang totalnya bisa mencapai 70 juta dollar AS atau sekitar 660 miliar rupiah. Syarat, jika Marissa bertahan 5 tahun.

Seperti dikutip Reuters, Mayer optimistis Yahoo! dapat memenangi kompetisi baik sebagai media maupun perusahaan teknologi. Dia melihatnya bukan sebagai pertenangan melainkan satu hal yang terintegrasi “Ada debat yang sangat menarik tentang Yahoo ialah tarik menarik antara teknologi dan media, tapi itu tidak benar-benar masuk akal bagi saya. Karena jika Anda melihat perusahaan teknologi utama, media adalah bagian terbesar dari bisnisnya,” katanya. nig/E-7 DOK

httP://m.koran-jakarta.com

Dipostkan, 21 Juli 2012