Romney: Obama “kurang punya kepemimpinan” dalam krisis Suriah

by -1 views

 Washington – Calon presiden AS dari Partai Republik Mitt Romney, Kamis (19/7), menuduh Presiden Barack Obama “kekurangan kepemimpinan” dalam krisis di Suriah dan menuduh dia menyerahkan peran AS ke PBB.

Romney memanfaatkan kegagalan Dewan Keamanan PBB untuk menyetujui resolusi dukungan Barat yang mengancam sanksi terhadap pemerintah Suriah untuk menyerang kebijakan luar negeri Obama, lapor Reuters.

“Sementara Rusia dan Iran telah memberi dukungan (kepada Presiden Suriah) Bashar al-Assad dan ribuan orang telah dibantai, Presiden Obama telah malah menyerahkan kepemimpinan dan `mensubkontrakkan` kebijakan AS kepada Kofi Annan serta PBB,” kata Romney di dalam pernyataan, sebagaimana dikutip Reuters –yang dipantau ANTARA di Jakarta, Jumat pagi.

Rusia dan China menentang tekanan dan memveto resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Suriah.

Presiden AS Barack Obama dan timpalannya dari Rusia Vladimir Putin, Rabu (18/7), mengakui mereka berbeda pendapat tentang Suriah dan sepakat melanjutkan pembahasan bagi tercapainya penyelesaian, kata Gedung Putih.

Mereka sepakat mengenai perlunya untuk “mendukung peralihan politik sesegera mungkin yang mencapai sasaran bersama kami tentang diakhirnya kerusuhan dan dihindarinya memburuknya situasi”, kata Gedung Putih.

Rancangan resolusi yang diusulkan Barat –yang penajanya meliputi Prancis, Jerman, Portugal, Inggris dan Amerika Serikat– memperpanjang Misi Pengawasan PBB di Suriah (UNSMIS) selama 45 hari dan mengancam sanksi nonmiliter dalam kasus Suriah tak mematuhi penarikan senjata berat dan tentara pemerintah dari daerah permukiman dalam waktu 10 hari.

Sementara itu Rusia, di dalam versi rancangannya sendiri yang diajukan ke Dewan Keamanan, meminta perpanjangan mandat UNSMIS selama tiga bulan lagi, mengurangi jumlah pengamat militer dan meminta operasi lebih condong pada misi politik. Moskow menentang setiap ancaman sanksi terhadap Suriah.

Washington pada Rabu memperpanjang sanksinya terhadap Suriah hingga mencakup Perdana Menteri, dua wakil perdana menteri dan 26 menteri serta enam perusahaan.

Dalam perkembangan lain pada Rabu pagi, Menteri Pertahanan Suriah Daoud Rajha dan Wakilnya –yang juga saudara ipar Bashar al-Assad– Assef Shawkat tewas, saat seorang pembom bunuh diri mengoyak markas dinas intelijen negeri tersebut di Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Serangan itu terjadi setelah tiga hari bentrokan sengit di Damaskus antara militer pemerintah dan gerilyawan Suriah. Peristiwa tersebut membuat Menteri

Pertahanan AS Leon Panetta mengumumkan situasi di Suriah “bergerak di luar kendali” dan menyerukan tekanan lain masyarakat internasional atas Damaskus.

Sumber : www.antaranews.com