Spirit Pesantren Kilat Ada Sejak Zaman Nabi

by -4 views

Ilustrasi: Ribuan pelajar Bogor, Jawa Barat, Kamis (4/8/2011), mengikuti pesantren kilat.

Ketua Forum Mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Muhammad Yusuf Halim menyatakan, spirit pesantren kilat yang marak saat Ramadhan sebenarnya sudah ada sejak era Rasulullah Muhammad SAW, yang intinya belajar sejak dini.

“Kala itu, pesantren kilat yang mendidik langsung Nabi Muhammad SAW adalah malaikat Jibril atas perintah Allah SWT,” katanya di Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

Saat membuka Pesantren Kilat Ramadhan 1433 Hijriah bagi anak-anak Taman Pendidikan Al Quran (TPA) dan remaja yang dipusatkan di DKM “Al Fattah” Perumahan Laladon Baru Residence, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, ia mengatakan bahwa dengan memberikan pendidikan agama sejak kecil, maka anak-anak dan remaja dapat dibentengi akhlak dan moralnya dari serbuan pengaruh negatif budaya yang global.

Itu sebabnya, kata dia, kegiatan pesantren kilat (sanlat), yang spiritnya adalah belajar sejak dini, menjadi langkah pendidikan yang strategis bagi semua pihak, baik anak, orang tua dan lingkungan masyarakat lainnya.

Menurut mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana IPB itu, saat ini ada kondisi paradoksal, salah satu contohnya adalah bagaimana orang tua memperlakukan pendidikan.

“Jika untuk kursus bahasa Ingrris dan mata pelajaran lainnya, orang tua begitu mudahnya mengeluarkan Rp300 ribu, namun untuk biaya mengaji di TPA yang mungkin hanya Rp20 ribu per bulan terasa berat, padahal ’include’ untuk belajar mengaji ilmu agama itu ada unsur sodaqoh,” katanya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk dapat merenungkan kembali bagaimana memosisikan pentingnya belajar agama sebagai sebuah “kebutuhan rohani” yang sangat penting di antara pendidikan umum lainnya.

“Apalagi kegiatan Sanlat yang dilakukan pada Ramadhan, yang penuh barakah dan rahmat ini, hendaknya dapat terus digelorakan secara berkelanjutan,” kata Muhammad Yusuf Halim, yang juga Ketua Rukun Warga (RW) 12 di wilayah itu.

Sementara itu, Ketua DKM “Al Fattah” Soekoco dalam kesempatan itu juga memperkuat bahwa kegiatan Sanlat punya makna “investasi dunia dan akhirat”, baik bagi anak, orang tua dan guru sendiri.

“Bagi orang tua, jelas mempunyai anak-anak salih adalah dambaan, karena merekalah yang akan menolong dengan doa anak salih saat di akhirat kelak,” katanya.

Sedangkan bagi anak-anak, kata dia, belajar sejak dini seperti menghafal surat-surat Al Quran, dan doa akan lebih mudah masuk memori ketimbang jika sudah tua, dan hal itu sudah terbukti.

Untuk guru sendiri, kata dia, mengajar di lembaga pendidikan semacam TPA itu adalah sebuah “kerja sosial”. “Insya Allah yang membalasnya adalah langsungd dari Allah SWT berupa pahala,” katanya.

Sanlat yang diikuti lebih kurang 70 peserta itu berlangsung dua hari hingga Minggu (22/7), dengan materi agama dan pendidikan pendukung lainnya, dengan pengajar dari beberapa kampus di Bogor.

http://oase.kompas.com