Gaza Membara : Konflik di Gaza Bisa Ganggu Ekonomi Dunia

by -3 views
Foto:reuters

Konflik bersenjata antara Israel dengan kelompok Hamas di Jalur Gaza dalam lebih dari lima hari terakhir tidak saja menimbulkan banyak korban jiwa, terutama di kalangan warga sipil. Konflik itu pun turut menghantam perekonomian Israel dan Palestina.

Tidak hanya itu, muncul kekhawatiran di kalangan media massa dan pengamat bahwa – seperti konflik sebelumnya di Timur Tengah – serangan Israel di Gaza berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi ekonomi dunia. Harga minyak di pasar internasional sudah mulai naik, walau belum signifikan. Namun, kenaikan harga minyak terjadi saat ekonomi global masih belum pulih sepenuhnya dari resesi dan permintaan justru bakal bertambah menjelang musim dingin di AS dan Eropa serta negara-negara lain pada akhir tahun.

Apalagi sudah muncul pula seruan dari milisi yang disegani Israel, Hisbullah, kepada negara-negara Arab agar mengurangi produksi minyak mereka, atau menaikkan harganya di pasar dunia. Ini dianggap cara efektif untuk membuat para konsumen utama yang merupakan sahabat Israel, seperti AS dan Eropa, agar bisa menekan negara zionis menghentikan serangan ke Gaza.

Konflik ini Рyang disebut Israel sebagai operasi militer Pillar of Defense untuk menghantam kelompok Hamas di Gaza yang bersenjatakan roket Рsudah menimbulkan keresahan di kalangan pelaku  industri wisata, baik di Israel maupun Palestina.

Banyak turis yang kini berpikir dua kali untuk mengunjungi kota-kota wisata di dekat zona perang, seperti Yerusalem di Israel dan Betlehem di Tepi Barat, Palestina. Menurut kantor berita Reuters, sejumlah hotel di Israel dan maskapai penerbangan El Al dalam beberapa hari terakhir mengalami pembatalan pesanan kamar maupun jadwal penerbangan dari para turis.

Jumlah pembatalan kunjungan ini akan terus bertambah bila konflik berlanjut. “Konflik yang berlanjut di kawasan selatan bakal memukul industri pariwisata, yang merupakan salah satu andalan pendapatan di wilayah itu,” kata Menteri Pariwisata Israel, Stas Misezhnikov pada Minggu waktu setempat. Pemerintah negara zionis itu mengaku bahwa sektor wisata hanya menyumbang 2-3 persen dari pertumbuhan ekonomi mereka.

Israel melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza sejak Rabu 14 November 2012. Negara zionis itu beralasan bahwa kelompok militan Hamas di Gaza melancarkan serangan roket secara sporadis ke wilayah mereka di pesisir sehingga perlu ada serangan balasan.

Sejumlah tembakan roket Hamas mengarah ke Tel Aviv, kota yang menjadi pusat dagang dan keuangan Israel. Ini merupakan kejutan karena sebelumnya roket-roket Hamas tidak mampu melaju sejauh itu.

Di Yerusalem, pihak keamanan Israel pun rutin membunyikan sirine peringatan tembakan rudal dari Gaza sejak Jumat pekan lalu. Situasi itulah yang membuat para turis mengurungkan niat mengunjungi Yerusalem.

Pemerintah Israel menyatakan masih terlalu dini untuk menaksir kerugian yang diderita akibat konflik ini. Namun dampak kerugiannya bisa besar.

Seorang juru bicara Fattal, jaringan hotel terbesar di Israel, mengaku telah menerima beberapa pembatalan pesanan kamar. “Kami melihat awal dari tren, namun perlu beberapa hari berikut untuk bisa memperkirakan arah tren keseluruhan,” kata juru bicara itu.

Hotel American Colony di Yerusalem juga mengungkapkan pembatalan pesanan kamar di menit-menit akhir. Pembatalan ini juga muncul dari para turis lokal di Israel. Mereka memilih tinggal di rumah ketimbang jalan-jalan.

Kapal pesiar yang biasa berlabuh di Pelabuhan Ashdod pun tidak berani boleh mendekat. Selain itu rute penerbangan ke dan dari Bandara Ben Gurion di Tel Aviv dialihkan ke kawasan utara untuk memberi ruang lebih luas bagi jet-jet tempur Israel dalam menggempur Gaza.

Sebelum munculnya kembali konflik di Gaza, Israel telah menikmati tingginya kunjungan turis. Selama Januari-September 2012, sebanyak 2,6 juta turis mengunjungi negara itu. Ini rekor baru dan 7 persen lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu.

Tidak saja Israel yang mengalami kerugian di sektor wisata akibat konflik. Turisme menyumbang 12 persen dari produk domestik bruto Palestina.

Kota Betlehem, yang berada di wilayah Palestina, memiliki situs-situs suci bagi umat Kristen. Gereja Kelahiran Yesus Kristus, misalnya, selama ini menarik minat banyak umat Kristen di penjuru dunia untuk ziarah ke sana.

Sejak konflik berlangsung, Betlehem kehilangan hampir setengah dari total turisnya. “Menurut saya persentase pembatalan kunjungan sekitar 40-50 persen hingga akhir November dan bulan depan,” kata Elias al Arja, ketua Asosiasi Arab untuk jaringan hotel di Betlehem.

Sumber:viva.co.id