Merasa Kuat, Kiyai Tertembak

by -3 views

Sepenggal Kisah dari Babakan Girang (part 6)

jihadSyahdan, di dalam banyak pertempuran antara rakyat Indonesia dengan tentara Belanda, sering tentara Belanda kewalahan menghadapi para tentara Indonesia yang tak mempan ditembak.

Sebelum pertempuran dimulai para tentara rakyat diberikan bekal kekuatan (magic) dari para tokoh-tokoh spiritual di Bogor, dari mulai nasihat sampai ilmu-ilmu kebatinan. Maka, wajar jika tentara-tentara rakyat banyak yang tak mempan ditembak, karena sebelum pertempuran terlebih dahulu minum dan mandi dengan air keramat.Saat para pejuang bertempur melawan Belanda di Bogor, mereka saling bantu sama lainnnya untuk mempertahankan tanah airnya dengan mengorbankan, harta jiwa dan raganya.

Meskipun senjata Belanda jauh lebih canggih di bandingkan senjata tentara Nasional yang hanya rampasan dari tentara Belanda yang kalah dalam pertempuran, tapi para pejuang nasional semangat pantang menyerah meski bahaya sudah satu jengkal di depannya.

Para pucuk pimpinan pejuang di Bogor dari laskar Hizbullah sering mengingatkan para tentara rakyat agar tidak sombong dan takabur dalam pertempuran, karena segala kekuatan dan kelebihan hanyalah pemberian dari Tuhan Yang Maha Kuasa, tanpa-Nya para tentara bukanlah apa-apa hanya makhluk yang lemah.

Dalam salah satu pertempuran, terlihat tentara rakyat dengan mudah menembak jatuh tentara Belanda di kawasan Dramaga Bogor, sementara tentara rakyat dengan semangat terus bergerak maju melawan serangan dari tentara Belanda.

Para tentara sudah tak takut lagi tertembak tentara Belanda, karena kekuatan semangat dan keyakinan dirinya akan kekuatan magic yang tak mempan ditembak itu.

Di antara tentara yang tak mempan ditembak itu bernama kiyai Syuhada yang ikut aktif bertempur melawan penjajah Belanda dengan para pejuang-pejuang lainnya di Bogor.

Beberapa kali kiyai Syuhada tertembak peluru Belanda, namun peluru itu tak mampu menembus kulitnya, hanya baju yang berbolong-bolong terkena peluru, sehingga para pejuang lebih semangat bangkit melawan penjajah.

Kiyai Syuhada terus merangsak maju tanpa gentar menghadapi senjata canggih Belanda pada masa itu. Namun, rupanya nasib malang/“naas” (“apes”) menimpa kiyai Syuhada, saat ia sedang berhadap-hadapan dengan tentara Belanda, ia lupa akan nasihat para tokoh-tokoh agama dan spiritual di Bogor (“khilaf”) agar senantiasa melaksanakan peraturan-peraturan yang disyaratkan Islam dalam berperang.

Dalam kondisi berhadap-hadapan dengan tentara Belenda, Ia berkata: “kalian kafir, saya Islam, tak mungkin kafir mengalahkan Islam, coba tembak saya kalau berani”, kata kiyai Syuhada sesumbar kepada tentara Belanda.

Tak lama setelah kiyai Syuhada berkata itu salah seorang tentara Belenda menembaknya, lalu terjatuh berdarah terkena peluru tentara Belanda. Setelah tentara Belanda melihatnya terjatuh, peluru-peluru lain dari pihak Belanda menyusul memberodong tubuh kiyai Syuhada.

Akhirnya, kiyai Syuhada wafat tertembak peluru-peluru tentara Belanda karena dirinya merasa kuat, tak mempan ditembak oleh tentara Belanda.

Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita merasa kuat dari orang lain, termasuk merasa kuat daripada musuh, karena Tuhan Yang Maha Kuasa pun tak menghendaki akan hal itu. **intaha, wallahu a’lam**

Penulis

Najmudin Ansorullah SHI., S.Pd.I