Meneg BUMN Genjot Produksi Padi Sumedang

by -21 views

20130513jbrKementerian BUMN menerapkan Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) 2013. Hal ini untuk mempermudah petani mendapatkan pupuk dan menggenjot produksi padi nasional.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan, saat ini pemerintah sudah menyediakan kemudahan bagi petani melalui BUMN untuk memberikan bantuan bibit unggul dan pupuk. Penerapan Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) 2013 seluas 2,6 juta hektare ini agar produksi padi di Indonesia semakin meningkat.

“Banyak petani ketika panen tidak menyediakan uang hasil panen untuk dicadangkan membeli benih, tidak mencadangkan uang untuk beli pupuk,” kata Menteri BUMN Dahlan Iskan setelah tanam perdana GP3K sekaligus pencanangan program pemupukan berimbang 5 – 3 – 2 bersama PT Pupuk Indonesia, di Desa Gunasari, Kecamatan Sumedang Selatan, kemarin. Karena petani tidak memiliki uang, kata Dahlan, mereka cenderung membeli pupuk yang lebih murah.

Dampaknya, petani hanya mendapatkan pupuk tidak unggul, bahkan pupuk palsu. Dari pantauan KORAN SINDO, pada tanam perdana tersebut Dahlan Iskan bersama jajaran PT Pupuk Indonesia menanam langsung padi pada sepetak sawah yang sudah digarisi dengan sistem jejer legowo II. Setelah penanaman itu, Dahlan Iskan langsung mencuci bagian tangan dan kaki yang kotor di sungai yang tidak jauh dari lokasi penanaman. “Para petani tidak punya uang untuk membeli benih unggul, dan tidak punya uang untuk beli pupuk, maka bergabunglah ke GP3K.

BUMN yang memberikan benih unggul dan pupuk. Kemudian, para petani dapat membayar setelah panen dan tanpa bunga,” kata Dahlan. Setelah tanam langsung, Dahlan Iskan memberikan kesempatan bagi para petani untuk mengetahui lebih jauh tentang pupuk NPK komposisi 15 – 15 – 15, dan meminta pendapat kepada para petani apakah penanaman perdana GP3K di Desa Gunasari tersebut akan menambah hasil produksi pada saat panen nanti atau tidak. Petani yang berhasil menjawab mendapatkan hadiah sebesar Rp1 juta.

“Dengan demikian, tidak ada alasan produksi kita berkurang karena benihnya kurang baik, karena tidak punya uang. Tidak ada alasan. Tapi, petani tidak boleh perorangan. Harus satu kelompok tani, nanti lapor ke BUMN,” kata Dahlan. Kepala Badan Peningkatan Ketahanan Pangan, Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BKP4K) Kabupaten Sumedang Ari Kusnadi mengatakan, produksi padi di Kabupaten Sumedang surplus sekitar 1.986 ton per tahun.

“Namun, tantangan akan lebih berat pada tahun-tahun yang akan datang dengan pembangunan mega proyek Waduk JatigededanTolCisumdawu. Alih lahan akibat kedua proyek ini sekitar 2.500 hektare,” kata Ari. zulfikar

 sumber+foto:koran-sindo.com