Energi sebagai kunci teknologi masa depan RI

by -
by
Energi sebagai kunci teknologi masa depan RI

Potensi Ekonomi Digital Indonesia yang Menjanjikan

Ekonomi digital di Indonesia menarik perhatian banyak pihak, baik dalam maupun luar negeri. Perkembangan ekonomi digital ini sangat bergantung pada kemajuan teknologi dan masalah energi. Riset terbaru dari Antares Ventures berjudul “Beyond Carbon & Silicon” mengungkap bahwa Indonesia perlu segera melakukan perbaikan. Bukan hanya dari sisi energi, terutama soal penambahan jaringan listrik, tetapi juga bagaimana teknologi tingkat tinggi (Deep Tech) bisa menyelamatkan ekonomi kita di tengah krisis energi global.

Riset tersebut menyoroti tiga tren teknologi masa depan Indonesia yang perlu disikapi dengan pembenahan dari sisi pasokan energi. Berikut adalah penjelasannya:

Listrik Tak Sekadar Menyala, Tapi Harus Stabil dan Pintar



Riset ini menyatakan bahwa kebutuhan listrik di Indonesia akan meningkat drastis karena berkembangnya Data Center untuk teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta gaya hidup digital. Nilai utama bukan lagi seberapa banyak listrik yang tersedia, tetapi seberapa stabil dan berkualitas daya tersebut untuk mendukung perangkat canggih masyarakat.

Baca Juga:  Bupati Laporkan Kades karena Dana Desa Rp 400 Juta Hilang

Indonesia diprediksi akan lebih banyak menggunakan Microgrids atau jaringan listrik skala kecil yang lebih mandiri dan tahan banting, agar aktivitas industri maupun digital tidak mudah terganggu.

Teknologi Pendingin Tanpa Mengandalkan Air Jadi Solusi di Tengah Cuaca Tropis



Meningkatnya kebutuhan infrastruktur pusat data atau data center akan mendorong kebutuhan sistem pendinginan atau cooling system. Akan tetapi, pendinginan akan menjadi salah satu konsumen energi terbesar di masa depan, ditambah dengan Indonesia memiliki iklim tropis.

Sistem pendingin konvensional biasanya membutuhkan air dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, riset Antares menyoroti pentingnya inovasi “Cooling Without Water”. Teknologi seperti Liquid Cooling (pendinginan menggunakan cairan khusus langsung ke mesin) akan menjadi kunci supaya pusat data dan pabrik-pabrik di Indonesia tetap bisa beroperasi maksimal tanpa harus menghabiskan cadangan air bersih. Jadi, teknologi tetap jalan, lingkungan tetap aman.

Era “Electro-Continent”: Asia (dan Indonesia) Jadi Kiblat Energi Bersih



Indonesia sedang dalam masa transisi besar dari energi fosil ke energi bersih. Tahukah kamu kalau Asia saat ini menyumbang sekitar 70 persen dari pembangunan energi bersih global? Bahkan, lebih dari 90 persen penambahan kapasitas daya baru di Asia sekarang berasal dari sumber terbarukan.

Baca Juga:  Kisah AS tukar pilot CIA dengan pesawat Hercules TNI AU

Artinya, produk-produk yang kita pakai nanti, mulai dari baterai kendaraan listrik sampai gawai (gadget), bakal diproduksi dengan proses yang lebih ramah lingkungan. Indonesia tak cuma jadi penonton, tapi pusat pengolahan industri maju yang berbasis energi listrik bersih ini.

Riset Antares menekankan bahwa masa depan infrastruktur di Indonesia bukan lagi soal seberapa banyak uang atau modal yang dimiliki, tapi seberapa canggih teknologi yang digunakan untuk mengatasi keterbatasan alam.

Tentang Penulis: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.