Sayuran dan Daging Ayam Naik Drastis, Beras Masih Stabil

by -3 views

2306sayuran_cianjurHarga sejumlah bahan pokok dan sayuran di Kabupaten Cianjur, Minggu (23/6/13) mengalami kenaikan hampir 100 persen pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Berdasarkan pantuan “PRLM” di Pasar Induk Cianjur (PIC), kenaikan tajam terjadi pada beberapa jenis sayuran. Pedagang maupun pembeli sangat mengeluhkan kenaikan harga cabai rawit merah. “Kenaikan paling terasa pada harga cabai rawit merah yang tembus Rp45 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp30 ribu per kilogram,” ujar Tatang (48), salah seorang pedagang sayuran di PIC.

Tatang mengatakan kenaikan juga terjadi pada tomat dan bawang merah. Satu kilogram tomat yag sebelumnya Rp 3.000 kini naik hingga Rp 5.500 untuk jenis tomat kecil dan Rp 6.000 untuk jenis tomat besar.

“Kalau bawang merah sebelumnya Rp 22 ribu per kilogram kini menjadi Rp 32 ribu per kilogram. Hampir rata semua harga bahan pokok dan sayuran naik. Kecuali beras hanya naik sekitar Rp 200 per kilogramnya,” katanya.

Tatang dan beberapa pedagang lainnya menduga kuat kenaikan sejumlah komiditas karena adanya kenaiakn harga BBM. Pasalnya, hampir semua sayuran berasal dari luar Cianjur. “Biasanya dikirim dari Brebes, Jawa Tengah atau dari PAsar Caringin Bandung. Mungkin biaya transportasinya naik jadi harga juga dinaikan,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan Deden (41). Harga minyak goreng curah naik naik dari Rp 11 ribu per liter kini menjadi jadi Rp31 ribu per kilogram. “Kalau harga gula dan beras masih tetap. Hanya beras kualitas bagus saja yang naik Rp 200 per kilogramnya,” katanya.

Sedangkan, Asep (45) salah seorang pedagang daging ayam mengatakan, Harga daging ayam yang semula Rp17 ribu per kilogram, kini mencapai Rp 30 ribu per kilogram.”Kenaikannya cukup tinggi, mungkin akibat kenaikan harga BBM itu,” ucapnya.

Asep mengatakan setelah kenaikan harga BBM, jumlah pembeli daging ayam realtif menurun. Sekitar 50 potong ayam dalam sehari bisa habis terjual kini masih bersisa hingga 20 potong ayam.

“Kemungkinan para pembeli lebih memilih tidak makan daging ayam dulu karena harganya melonjak hingga hampir 200 persen. Beberapa pembeli yang biasa beli saya tanya mengatakan makan tempe dulu karena harga bahan pokok dan sayuran juga naik. Jadi pembeli menjadi sepi,”.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Himam Haris didampingin Kepala Bidang Perdagangan Yudi Adhi Nugroho mengatakan harga sayuran dan bumbu-bumbuan memang tidak pernah stabil. Disamping karena kanikan harga BBM, untuk sayuran juga dipengaruhi cuaca.

“Biasanya pasokan berdasarkan produksi dari petani dan petani akan panen atau tidak beradasarkan cuaca. Pasokannya sering tidak ada karena memang tidak ada sentra sayuran atau khusus cabai yang bisa memasok kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Misalnya saja, kata Himam, di Cianjur pasokan dari produksi cabai lokal CIanjur hanya mempu memasok 25 persen dari kebutuhan masyarakat. “Selebihnya ya banyak pedagang yang mengambil pasokan cabai dari luar Cianjur. Ini yang biasanya menjadi penyebab fluktuasi harga,” katanya.

Meskipun demikian, kata Himam, kenaikan cabai biasanya tidak akan bertahan lama. “Biasanya sepuluh hari setelah kenaikan bisa langusng turun dratstis. Jika Cianjur bisa memenuhi pasokan cabai sendiri, kenaikan tidak akan terlalu sering terjadi,” ucapnya.

Untuk harga beras, kata Himam, Diperindag sudah melakukan koordinasi dengan Bulog Cianjur siap menggelar operasi pasar jika kenaikan harga beras cukup tajam. (A-186/A-108)***

sumber+foto:pikiran-rakyat.com