Menikmati Senja di Sungai Cisadane

by -5 views

senja di sungai cisadaneMATAHARI mulai meninggalkan peraduannya. Suasana yang semula terik menjadi semakin teduh dan semakin teduh lagi. Embusan angin khas tepi sungai pun semakin menyejukkan suasana di bantaran Sungai Cisadane.

Berkunjung ke Tangerang rasanya belum lengkap jika belum menyaksikan kemegahan Sungai Cisadane. Waktu berubah, manusia berubah, begitupun dengan Sungai Cisadane. Cisadane yang dulunya bersih dan jernih pun kini sudah berubah kecoklatan dengan sampah mengambang di mana-mana.

Ada satu hal yang menggelitik rasa penasaran saya sore itu saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di tepi sungai yang membelah Tangerang itu. Sempat beberapa waktu saya memperhatikan seorang bapak yang sedang mendayung perahu. Ia bukan satu-satunya, ada beberapa lagi yang lain, namun letak mereka telalu jauh sehingga tak terlihat jelas.

Apakah bapak itu seorang nelayan pencari ikan? Tapi kenapa ia tidak membawa pancingan? Berbekal dayung besar yang terbuat dari kayu, ia pun mulai mulai menepi ke tempat saya berdiri.

“Neng, naik perahu aja tuh,” kata seorang bapak dari kejauhan memecah lamunan saya.

Beberapa pertanyaan langsung merangsek masuk ke dalam benak saya. Naik perahu? Apakah di Sungai Cisadane ada wisata perahu? Mengapa tidak terlihat? Sebelum timbul banyak pertanyaan lainnya, saya pun menyimpulkan untuk naik.

Pergi jauh-jauh ke Tangerang, hanya melihat Sungai Cisadane dari tepi, apa enaknya? Itulah satu pertanyaan yang meruntuhkan semua pertanyaan saya semula terpikirkan dalam benak saya.

Kehadiran seorang bapak yang langsung naik ke perahu ketika perahu baru saja menepi jugalah yang membuat saya yakin menaiki perahu itu juga. Kaki pun melangkah ke dalam perahu yang sempat sedikit terombang-ambing karena saya mencari keseimbangan. Untunglah bapak pendayung perahu ini membantu saya.

Bapak pendayung perahu ini ternyata bernama Akong. Setelah yakin penumpangnya sudah siap untuk memulai perjalanan, Pak Akong pun mulai mendayung. Berada di atas perahu sederhana mengarungi Sungai Cisadane yang dalam dan luas, tentu rasa takut sempat menyergap. Tapi semakin lama mendayung, semakin ketenangan menggantikan rasa takut.

Perahu pun langsung menuju tepi sungai yang satunya lagi. Ternyata, bapak yang menumpang perahu bersama saya memakai jasa Pak Akong untuk menyeberang. Ia merupakan warga sekitar sungai yang baru pulang kerja, begitu cerita Pak Akong.

Tujuan utama Pak Akong mendayung perahu memang untuk mencari uang dengan cara mengantarkan orang-orang yang ingin menyeberang. Pasalnya, untuk menyeberang melalui jembatan, jaraknya terlalu jauh. Itulah sebabnya mereka menggunakan jasa Pak Akong untuk menyeberang.

Untuk orang yang ingin menyeberang, Pak Akong tidak menetapkan tarif.

“Gak tentu. Kadang tiga ribu, empat ribu. Kebanyakan sih dua ribu,” tutur Pak Akong.

“Seikhlasnya aja,” tambah Pak Akong.

Selain dari jasa angkutan airnya, Pria berumur 52 tahun ini juga mencari tambahan uang dari wisatawan yang berkunjung di sekitar Sungai Cisadane.

Menyusuri Sungai Cisadane

Pak Akong membawa saya “tur” di Cisadane selama sepuluh menit. Baru menyusuri sebagian kecil dari Cisadane saja, sudah banyak hal baru yang bisa ditemukan. Dari atas sungai saya menyaksikan sekelumit kehidupan kampung bantaran Sungai Cisadane.

Dari atas perahu sederhana milik Pak Akong terdengar suara musik dan nyanyian dari gereja yang berada tidak jauh dari tepi sungai. Ada juga sekelompok anak yang berenang di tepi sungai. Padahal sungai begitu kotor dan tidak jauh dari posisi mereka berenang terdapat jamban. Seolah tidak memikirkan hal itu, mereka pun dengan riang bercanda dan tertawa.

Di sudut sungai yang lain terlihat seorang pemilik perahu sedang membetulkan kapalnya. Di sisi lain ada beberapa orang yang sedang memancing. Pak Akong bilang di sini memang terdapat beberapa ikan. Salah satunya gabus dan lele.

Tak terasa sepuluh menit pun berlalu. Matahari mulai meninggalkan peraduan dan langit pun mulai berkelir. Bias jingganya pun terpantul di atas air yang mengalir tenang. Seperti matahari, saya pun harus mengakhiri perjalanan singkat dengan Pak Akong dan perahunya. Sebuah wisata singkat dan berharga, penuh dengan perjalanan hidup.

Di luar kondisinya yang semakin menua, keinginan Cisadane tetap menjadi sumber penghidupan untuk segelintir orang yang bergantung padanya. Semoga majunya peradaban tak lantas memudarkan manfaat bagi umat manusia, Sungai Cisadane.

sumber : Kompas.com