Sanghyang Tikoro – Goa Alam di Waduk Saguling

by -29 views

Shanghyang TikoroDi akhir pekan, Kota Bandung selalu disesaki oleh turis domestik. Di balik hiruk-pikuk suasana kemacetan di hari-hari libur, sebuah lokasi wisata yang tidak banyak orang ketahui akan memberi kesan tersendiri dengan mengarahkan hari libur Anda menuju kota Padalarang yang berjarak 30 menit perjalanan dari kota Bandung.

   [slideshow_deploy id=’12117′] Dari Padalarang lanjut hingga Citatah Jalan Raya Rajamandala, lalu menuju ke sebuah pintu gerbang bertuliskan “Waduk Saguling”.

Sebuah pos penjagaan harus dilewati, karena tempat wisata ini agak tertutup. Pohon coklat menjadi pemandangan tersendiri disisi kanan dan kiri jalan yang naik turun. Dibutuhkan kendaraan yang handal untuk melewati jalan berliku, beberapa muda-mudi biasanya asyik berpacaran ditepian jalan yang tenang. Udara sejuk dan bebas polusi menjadi hiburan tersendiri.

Untuk menuju tempat tujuan wisata Shangyang Tikoro harus banyak bertanya, karena tidak ada papan penunjuk lokasi wisata di pertigaan jalan. Bahkan penduduk lokal sendiri kadang tidak tahu lokasi Sanghyang Tikoro, menakjubkan!

Perjuangan melalahkan Anda akan terbayar setelah tidak tidak berapa lama Anda menemukan sebuah pemandangan yang menarik. Sungai yang cukup lebar dengan arus kuat menjadi pemandangan yang menakjubkan.

Untuk memastikan bahwa arah Anda memang benar, tanyalah kembali. And that’s the right way. 10 menit kemudian papan penunjuk yang sudah karatan “Sanghyang Tikoro” akan terlihat yang dapat membuat hati merasa senang dan lega.

Di tempat itu, Anda pun dapat memarkirkan kendaraan. Lalu, menuruni sebuah anak tangga dan jembatan kecil, dibalik tembok pagar setinggi 2 meter. Nah, di situlah Sanghyang Tikoro bermukim. Sanghyang Tikoro derived from two words…Sanghyang means God or Dewa and Tikoro means Throat or Kerongkongan. Jadi Sanghyang Tikoro berarti Kerongkongan Dewa. Kenapa tempat itu disebut kerongkongan dewa (Shangyang Tikoro)?.

Nama Sanghyang Tikoro sering dihubungkan dengan legenda Sangkuriang, khususnya berkaitan dengan Danau Bandung. Sangkuriang identik dengan asal muasal terciptanya Gunung Tangkuban Perahu, Danau Purba Bandung, Gunung Burangrang, Gunung Bukit Tunggul, dan Sang Hyang Tikoro. Cerita tentang pangeran sakti mandraguna ini, dibalut kisah cinta terlarang antara seorang anak yang tidak lain adalah Sangkuriang dengan ibu kandungnya, Dewi Dayang Sumbi.

Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik, yang ditulis pada daun palem yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskah tersebut, ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Pulau Bali pada akhir abad ke-15.

Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi Kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat ini beserta legendanya.

Melihat dari sisi geologis, sekitar 6000 tahun yang lalu Kota Bandung dulunya merupakan sebuah danau purba yang dinamakan sebagai Situ Hiang, yang terbentuk karena meletusnya Gunung Tangkuban Perahu dan menyumbat aliran sungai Citarum. Lama kelamaan air danau tersebut surut dan kemudian mengering hingga membentuk sebuah daratan yang kini menjadi Kota Bandung. Tidak heran apabila banyak ahli geologi yang mengatakan bahwa Kota Bandung adalah sebuah cekungan raksasa yang menyerupai mangkok. Dan pinggir mangkok tersebut merupakan dataran tinggi, yang kini beberapa area di Kota Bandung sering mengalami banjir.

Kembali ke Sanghyang Tikoro, melihat kawasan Padalarang yang terdiri dari pegunungan kapur tidak mengherankan apabila ada sungai bawah tanah yang cukup besar. Dan disinilah sebuah sungai bawah tanah dimulai, sebuah goa karst (batu gamping) setinggi 2,5 meter dengan lebar sekitar 7 – 10 meter. Konon panjang gua bawah tanah ini dengan aliran sungainya sepanjang 162 meter dan hingga saat ini belum ada yang memberanikan diri untuk mencari tahu kemana aliran sungai ini berakhir dan apa saja yang terdapat di dalamnya.

Di dekat mulut gua, bau air yang menyengat serta suasana yang spooky. Hanya berjarak sekitar 200 meter sebuah pintu air raksasa berada di lokasi ini. PLTA Saguling – Indonesia Power dan sebuah pipa air raksasa bak ular raksasa berada di atas kantor PLTA ini.

Alur sungai dan pintu waduk kemungkinan lokasi ini merupakan mulut terakhir dari pembangkit listrik tenaga air. Aliran sungai ini terbagi menjadi dua bagian, satu lagi menuju ke sungai besar dan satu lagi menuju ke sungai bawah tanah yang tidak diketahui kemana alirannya. Konon banyak orang yang datang ketempat ini untuk bersemedi setiap malam Selasa atau Kamis Kliwon. Memang cukup wingit lokasi ini.

Satu hal yang sangat disayangkan yaitu PLTA membangun pagar setinggi 2 meter sehingga tidak memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk langsung menikmati pemandangan alam yang menakjubkan ini. Lokasi ini berdekatan langsung dengan buangan air waduk untuk PLTA.

Tidak jauh dari lokasi ini ada sebuah batu karst yang menyerupai mulut harimau. Jalan yang menanjak dan suasana yang segar dan alami membuat Anda akan mencintai negri ini, Indonesia.

Jalan semakin menanjak dan berkelok, ada beberapa area yang rawan longsor di musim hujan. Namun aspal jalan di lokasi ini masih cukup baik dan terdapat sebuah pemandaian air panas.

Sekitar 10 menit dari pemandian air panas ini, terdapat beberapa air terjun mini dipinggir jalan. Dan salah satu yang cukup besar bernama “Curug Bedil”.

Sambil menikmati istirahat Anda, menanjaklah menikmati dinginnya air terjun.

Perjalanan kembali dilanjutkan hingga tiba di top of the top, pemandangan kota Bandung dan Padalarang sangat menakjubkan. Aliran sungai Citarum ibarat sebuah ular raksasa dan pantulan sinar matahari membuatnya semakin cantik. Sungguh sangat indah.

Dua buah bangunan mirip tugu berada didekat puncak bukit itu dan ternyata tangki pendingin turbin. Wow!! It’s a man made marvel!

Selepas dari puncak bukit yang berketinggian lebih dari 1.000 dpl., dengan menepuh waktu sekitar 20 menit dari puncak bukit Anda akan menikmati pemandangan Waduk Saguling yang mempunyai luas 6.176 hektar. Waduk ini dibangun pada bulan Agustus 1981 yang sempat menenggelamkan 31 desa. Peresmian waduk ini dilakukan oleh mantan Presiden RI, Soeharto tahun 1986. Waduk dan PLTA ini menjadi pemasok listrik untuk kota Bandung dan Jakarta setelah waduk Cirata dan Jatiluhur.

Sangat disayangkan tak ada wisatawan yang menikmati waduk yang cukup cantik ini.

Dari Saguling menuju arah pulang melewati jalur yang sama sekitar 17 km dari pintu gerbang utama. Namun, perjalanan pulang akan terasa cepat dari pemberangkatan karena jalanan menurun. Di tengah perjalanan akan terlihat sebuah jembatan cukup menarik dari atas bukit. Melewati jalanan berbatu, terdapat sebuah desa kecil dipinggir sungai Citarum.

Jembatan kecil ini menjadi penghubung dua buah desa terpencil, sementara arus air yang deras menjadi pemandangan yang luar biasa. Tempat ini sebenarnya cocok untuk lokasi rafting, karena lokasinya menawan melewati sungai kecil dengan dinding batu kapur hingga melebar dan jeram yang beragam. Seru pastinya, kalau lokasi wisata ini ada yang peduli untuk menjaga keindahan alamnya.

Sumber: Travel.Detik.Com dengan mendapat pengeditan