Obyek Wisata Tradisonal yang Butuh Penataan Pemerintah

by -25 views

wisata 1Di wilayah barat Kab. Sumedang, terdapat sejumlah objek wisata alam terbuka yang belakangan ini menjadi perhatian publik. Di antaranya di Kec. Cimanggung terdapat kawasan wisata rumah adat Cigumentong, yang berada di kawasan Gunung Kareumbi Masigit, Desa Sindulang. Kawasan kampung adat itu membutuhkan sentuhan dan penataan dari pemerintah.

Di wilayah barat lainnya, di Kec. Sukasari, juga menawarkan kawasan wisata alam terbuka. Di antaranya tempat wisata alam Waru Beureum di Desa Sindangsari. Bumi Kahiangan di Desa Sindangsari, Puncak dan Cipacet di Desa Genteg, Malaka di Desa Banyu Resmi, Guha tempat wisata rohani di Desa Mekarsari dan Kampung Bako di Desa Sukasari dan Kampung Maduhur, sebagai kawasan penghasil alat musik tradisional sunda Karinding.

Di Kec. Sukasari juga memiliki kawasan Bumi Perkemahan Kiara Payung, yang menjadi tempat konsentrasi kegiatan nasional. Selama ini daerah itu sering disebut-sebut kalangan publik masuk Kec. Jatinangor, namun secara teritorial masuk ke Kec. Sukasari. Tempat wisata alam terbuka itu menjadi kebanggaan warga setempat.

Camat Sukasari Atang Sutarno, menyatakan, pihaknya terus melakukan pembenahan dan penataan dalam berbagai pembangunan di kawasan wisata alam terbuka. Dengan harapan, melalui penataan itu dapat memajukan potensi daerah dan dapat mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) melalui objek wisata alam terbuka itu.

“Di wilayah kami banyak tempat wisata alam terbuka yang bisa dikunjung masyarakat,” kata Atang kepada wartawan di Sukasari, Jumat (7/3/14). Atang menyatakan, sebagai daya tarik wisata Sukasari itu karena memiliki daerah sebagai cikal bakal pengrajin alat kesenian tradisional Karinding.

“Desa Sukarapih sebagai pusat pembuatan alat musik tradisional karinding. Penjualannya sempat ke Singapura dan negara lainnya,” kata Atang.

Dengan adanya pembuatan karinding itu, kata dia, Sukasari sebagai tempat wisata seni dan rohani. Apalagi di wilayah tersebut ada lokasi goa yang bisa dikunjungi masyarakat.

“Goa itu dibuat pada zaman Jepang, sehingga keberadaanya perlu dilestarikan karena merupakan peninggalan sejarah,” katanya.

Ia mengatakan, penataan goa itu perlu dilakukan untuk menarik minat kunjungan wisatawan.

Sementara itu, Kepala Desa Sindulang, Edi Mulyana menyatakan, kawasan Kampung Wisata Cigumentong hingga kini masih minim sentuhan pembangunan dan penataan dari pemerintah terkait. Di lokasi itu terdapat rumah adat yang mencapai 17 unit dengan kondisi bangunan serba tradisional.

“Pemerintah terkait diharapkan bisa memperhatikan tempat wisata alam kampung adat tersebut. Selain melakukan penataan, juga dibarengi dengan pengguliran anggaran untuk pembangunan,” harap Edi.

Kampung Adat Cigumentong berada di pelosok Kec. Cimanggung. Dari kawasan Parakanmuncang, jaraknya sekitar 20 km dan berada di atas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

“Kampung Cigumentong sangat cocok dijadikan sebagai pusat kegiatan alam terbuka atau outbond,” katanya.

Menurutnya, pada 2005 Kampung Cigumentong mendapat bantuan listrik tenaga surya untuk penerangan di kawasan itu. Bantuan turbin pun sempat digulirkan ke kampung itu.

“Kampung Cigumentong mulai dihuni sejak 1884 saat penjajah Belanda membangun jalan ke perkebunan di Gunung Kareumbi Masigit yang ada di kawasan kampung itu,” katanya.

Ia juga menjelaskan wisatawan yang pernah berkunjung ke Kampung Cigumentong, tak hanya warga lokal. Dari mancanaga juga banyak yang datang. Di antaranya asal Swiss, Saudi Arabia, Jerman, Belanda, Palestina, Yugoslavia.

(Galamedia.com)