Waspada! Banyak Mainan Anak-anak Berbahaya

by -3 views

mainanWaspada beli mainan untuk anak-anak. Sebab banyak beredar mainan yang tidak sehat dan membayahan. Hal ini terbukti ketika 20 jenis mainan yang dinilai membahayakan dan tak berizin, disita petugas Direktorat Pengawasan Barang dan Jasa Kementerian Perdagangan bersama Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, dan Perdagangan (KUMKMP) DKI Jakarta, dari Pasar Gembrong, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (22/12).

Dilakukannya razia itu, lantaran banyaknya mainan yang beredar saat ini tidak berlogo SNI (Standar Nasional Indonesia). Selain menggelar razia di Pasar Gembrong, petugas juga menyasar ke Pasar Asemka, Jakarta Barat, dan Mall of Indonesia, Jakarta Utara. Totalnya, 647 mainan yang tidak ber-SNI, diamankan. Para penjualnya pun akan dilakukan pemanggilan untuk diberikan pembinaan.

Kepala Dinas KUMKMP, Joko Kundaryo, mengatakan, penertiban tersebut digelar untuk menghindarkan dampak negatif atas kesehatan anak. Mainan yang disita dapat melemahkan daya tahan tubuh anak. “Karena semua itu, tidak mustahil akan melemahkan daya tahan tubuh bangsa,” katanya.

Dalam operasi tersebut, diamankan sebanyak 647 mainan. Mulai dari mobil-mobilan, boneka, puzzle, dan lainnya. Para pelaku usaha yang bersangkutan, juga akan dipanggil dan diberikan pembinaan terkait dengan peraturan SNI Wajib Mainan Anak. “Untuk mainan yang tidak sesuai dengan SNI dilakukan pengambilan sampel melalui pembelian untuk diperiksa lebih lanjut melalui pengujian di laboratorium,” katanya.

KEBERATAN

Pedagang di Pasar Gembrong, mengaku keberatan. Pasalnya, operasi tersebut akan merugikan penjual karena tak akan ada lagi yang datang untuk membeli barang dagangannya. “Di sini yang beli nggak ada yang melihat atau bertanya SNI atau nggak. Justru mereka mencari cukup yang murah. Lagian selama ini nggak ada komplain kok,” kata Simon, 24, penjual di kios mainan Rizki Jaya.

Menurutnya, harga mainan yang sudah ber-SNI sendiri, cukup mahal. Karena itu, banyak pembeli yang justru mencari mainan non SNI. “Kami mau beli yang sudah SNI juga jarang ada. Meskipun ada justru jarang laku. Karena lebih mahal,” katanya.

Simon sendiri mengaku, untuk membeli mainan yang dijualnya tersebut, dari distributor di Pasar Asemka. Dimana mainan itu, biasanya diimpor dari Cina, maupun berasal dari lokal di Tangerang dan Surabaya.

Simon juga berharap, agar operasi tersebut, juga memperhatikan nasib para penjual. Pasalnya, barang-barang yang terlanjur dibelinya non SNI, terancam tidak diperbolehkan dijual lagi. “Stok mainan saya masih ada satu gudang, ratusan jumlahnya. Memang non SNI semua. Kalau dijumlahkan sekitar Rp140 juta. Kalau mau ganti uang saya sebesar itu, kalau tidak sama saja mematikan usaha kami,” ungkapnya.

(poskota)