Banyak Taman, Bahagiakah Warga Bandung?

by -52 views

tamanKehadiran taman-taman tematik seperti Taman Jomblo, Taman Fotografi, dan Taman Film, di Kota Bandung dengan tujuan besar menjadi “kota bahagia”, dinilai berbagai kalangan sebagai hal yang positif. Meskipun demikian, apakah warganya bahagia?

Masih terlalu dini memang menilai “kebahagiaan” warga Bandung berdasarkan index of happiness. Pasalnya, baru seumur jagung taman-taman sebagai salah satu ciri “kota bahagia” itu bisa dimanfaatkan publik.

Namun begitu, ungkapan-ungkapan perasaan spontan warga Bandung yang diwawancarai Kompas.com, pada Rabu (4/2/2015), menunjukkan antusiasme tinggi. Salah satunya Miriam Fajria.

Menurut dia, taman-taman tematik menjadi salah satu magnet baru dan mengundang masyarakat untuk beraktivitas di sana.

“Karena bertema, orang-orang sekarang jadi makin tertarik buat ke taman kota. Apalagi sekarang ke taman itu jadi gaya hidup. Jadi sehat kan dibandingkan pergi ke pusat belanja atau kafe,” ujar Miriam.

Selain itu, tambah Miriam, kehadiran taman tematik mampu mewadahi hobi warga Bandung. Mereka yang punya kesamaan hobi bisa berkumpul di taman dengan temanya masing-masing.

“Baiknya juga, orang-orang kan punya hobi yg berbeda. Komunitas dengan hobi yg berbeda itu difasilitasi. Jadi mereka yang datang ke taman punya tujuan yang sama, dan bisa memperluas jaringan komunitas itu sendiri,” lanjut Miriam.

Kurang perawatan

Warga lainnya, Adithya Asprilla, mengatakan taman tematik patut diapresiasi karena menjadikan Bandung lebih sedap dipandang mata. Sehingga mengubah pandangan warga yang sebelumnya ragu untuk ke alun-alun masjid, misalnya, menjadi pengunjung tetap.

“Orang-orang jadi senang buat acara di taman kota. Itu menarik juga, setiap minggu bisa liat acara yang sesuai dengan tema taman. Tamannya juga jadi bagus karena ditata secara unik tapi sayangnya kurang perawatan,” ujar Adithya.

Hal senada dikatakan Olfi Fitri. Menurut Olfi, taman kota sudah cukup nyaman untuk didatangi. Sayangnya, beberapa taman masih belum optimal perawatannya.

“Cukup nyaman untuk main di taman kota, tapi semakin ke sini ada fasilitas yang kurang terawat. Kesadaran pengunjung taman juga masih kurang, masih ada yang buang sampah sembarangan,” ujar Olfi.

Adithya menambahkan, sebenarnya akan lebih baik jika pengunjung mampu menjaga kebersihan taman-taman tematik yang ada. Hal ini ia maksudkan agar taman kota lebih nyaman untuk dipakai sebagai sarana publik.

“Ya ini kan sarana publik, memang harusnya dijaga sama-sama. Di beberapa acara sih, biasanya suka ngeliat sampah berserakan. Harusnya bisa lebih menjaga kebersihan, tempat sampah kan sudah disediakan,” tandas Adithya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Seksi Penataan dan Pembangunan Taman, Rikke Siti Fatimah, mengatakan, sebenarnya telah ada tiga pihak yang turut mengurus pemeliharaan taman di Kota Bandung, antara lain petugas Dinas Pertamanan, pegawai harian lepas, serta pihak ketiga. Namun, tak semata-mata pemeliharaan dilepaskan kepada tiga pihak tersebut.

Menurut Rikke, meskipun telah ada petugas pemeliharaan, masyarakat juga harus terlibat langsung dalam pemeliharaannya.

“Kita melibatkan masyarakat dalam mengelola taman. Masyarakat bukan hanya jadi pengguna tapi juga sebagai pemelihara. Setelah taman digunakan, masyarakat wajib membersihkan kembali sampah yang berserakan. Jangan bergantung pada Dinas Pertamanan,” ujar Rikke.

Saat ini, telah ada sepuluh taman yang dibuat di Kota Bandung: Taman Musik Centrum, Taman Fotografi, Taman Film, Taman Pustaka Bunga, Taman Anak Tongkeng, Taman Persib, Taman Pasupati, Taman Fitness, skate park, dan pet park.

Pada 2015 ini, Pemerintah Kota Bandung berencana menambah tiga taman tematik, yaitu Taman Piknik, Taman Caang Baranang, dan Study Park. Selain taman tematik, program “Satu RW, Satu Taman Bermain” juga akan dilaksanakan pada tahun ini.

(Kompas)