Amankan Kasus Setya Novanto, Anggota MKD Mengaku Disogok Rp20 Miliar Lebih

by -20 views

setyaWakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI, Junimart Girsang mengungkapkan, dirinya ditawari 20 juta Dolar AS atau setara lebih Rp20 miliar untuk membantu ‘mengamankan’ atau ’86’ kasus etik Ketua DPR, Setya Novanto yang tengah diproses MKD.
“Oh, nggak (SMS), saya ketemu orangnya. Dia datang ke saya. Dia bilang, bisa nggak bang, *@#.. *@1».. Saya bilang, nggak ah, nggak mau guwe. Dia juga nggak bodoh main SMS kan,” beber Junimart di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/11).
“Dia bilang, begini begitu..apa itu bang. Siap nggak buat.. 2 juta (Dolar AS) sudah siap. Guwe bilang nggak bisa guwe,” sambungnya.
Saat ini, MKD dengan keanggotaan 18 orang dari sembilan fraksi parpol KMP dan KIH, tengah memproses laporan Menteri ESDM, Sudirman Said tentang dugaan pelanggaran etik Setya Novanto yang bersama pengusaha minyak M Riza Chalid bertemu Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, membahas pengurusan perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia di Papua.
Sudirman melaporkan, Setnov,-sapaan Setya Novanto, bisa memuluskan renegosiasi perpanjangan kontrak PT Freeport dengan meminta jatah saham 20 persen yang diperuntukkan bagi Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).
Setnov juga dilaporkan meminta saham suatu proyek listrik yang akan dibangun di Timika, sekaligus meminta agar Freeport menjadi investor dan pembeli tenaga listrik yang dihasilkan.

“(Ditawari) 2 juta,” kata Junimart dengan suara meninggi seraya mengangguk anggukkan kepala saat ditanya tawaran uang tersebut dalam bentuk Dolar AS. “Guwe bilang, nggak bisa guwe,” tandasnya.
Junimart mengungkapkan orang yang menemui dan menawarkan uang miliaran rupiah untuk ‘pengamanan’ kasus etik Setnov tersebut adalah salah seorang anggota DPR yang cukup dikenal.
“Kawan-kawan di sini juga,” ungkapnya.
Junimart menduga tawaran uang itu disampaikan secara langsung atau tidak melalui sambungan telepon dan pesan singkat atau SMS agar tidak meninggalkan jejak barang bukti.
Dan SMS pun riskan tersebar ke pihak luar.
“Emangya dia main bodoh apa,” selorohnya.
Junimart pun tidak merekam perbincangan tawaran itu lantaran tidak berniat untuk ‘mengganggunya’.

“Aduh.., bagaimana saya merekam. Masa’.. Nggak bisa lah. Karena kita bukan orang jahat juga kan.”
Informasi yang diperoleh Junimart, tidak hanya dirinya yang mendapatkan tawaran pundi-pundi yang menggiurkan itu. Bahkan, informasi yang didapat, bahwa sejumlah Tenaga Ahli (TA) MKD DPR.
“Justru katanya (dia), termasuk dengan para TA. Coba aja tanya TA.”
Informasi yang diperoleh Junimart, para TA itu mendapatkan tawaran uang tersebut saat Rapat Paripurna DPR.
Namun, beberapa TA yang dikonfirmasi perihal informasi itu justru membantahnya.
“Tanya aja TA. Ternyata dia dibisikin waktu Rapat Paripurna,” kata Junimart.
“Nggak tahu saya (uangnya diserahkan saat Rapat Paripurna atau tidak). Pokoknya mereka bilang, mereka sudah dapat, untuk setya novanto. Lalu, saya panggil dia. Katanya, oh nggak pak, sumpah. Benar nggaknya, dia yang tahu. Guwe nggak mau tahu. Tinggal kroscek saja,” sambungnya.

Junimart menduga tidak hanya seorang yang beroperasi menawarkan dan mendapat tawaran uang ‘pengamanan’ etik Setnov tersebut.
“Yah, banyak lah,” ujarnya.
Sementara itu, beberapa anggota lainnya hingga Ketua MKD Surahman Hidayat membantah adanya tawaran uang pengamanan Rp20 miliar untuk kasus etik Setya Novanto tersebut.
Ramai-ramai membantah
Anggota hingga pimpinan MKD DPR kompak membantah tawaran hingga menerima 20 juta Dolar AS atau lebih dari Rp20 miliar untuk ‘mengamankan’ kasus etik Setya Novanto terkait laporan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.
Beda halnya Wakil Ketua MKD dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Junimart Girsang yang membenarkan informasi tersebut.
Wakil Ketua MKD dari Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad membantah mendapat tawaran sekaligus menerima uang 20 juta Dolar AS untuk mengamankan kasus etik Setya Novanto.

ia menyebut tidak ada suap untuk anggota MKD dalam mengamankan kasus politisi Golkar tersebut.
“Berapa? Mantap yah. Hehehe… Rp 20 miliar tidak ada itu,” kata Dasco diikuti gelak tawanya.
Sepengetahuan anggota MKD dari Partai Hanura, Syarifudin Suding, tidak ada tawaran uang pengamanan kasus etik Setya Novanto kepada anggota dan pimpinan MKD.
Ia pun merasa yakin tidak ada anggota MKD yang mendapat tawaran dan menerima uang pengamanan tersebut.
“Nggak ada, nggak ada, nggak ada yang seperti itu!” kata Suding dengan suara meninggi.
“Mudah-mudahan kami tetap bisa menjaga independensi kami. Mudah-mudahan hal seperti itu tidak terjadi,” sambungnya.
Pun Suding mengaku tidak pernah mendapat tawaran serta menerima uang pengamanan kasus etik Setnov itu.

“Saya kira, nggak,” kata dia.
Suding merasa yakin tidak ada dari MKD menerima uang pengamanan tersebut lantaran kasus dugaan pelanggaran etik Setya Novanto tengah menjadi sorotan publik.
Anggota dan pimpinan MKD tidak akan ambil risiko terhadap kasus ini.
“Sekali lagi saya katakan, ini adalah pertaruhan kredibilitas Mahkamah Kehormatan Dewan. Mudah-mudahan hal seperti itu tidak terjadi. Karena ekspektasi publik cukup tinggi terhadap persoalan ini.”
Menurutnya, untuk kasus dugaan pelanggaran etik Setnov ini, sesama anggota MKD pun tidak perlu saling memata-matai atau mengawasi terhadap adanya potensi dana pengamanan tersebut.
“Nggak perlu. Ini anggota Dewan, bisa saling mengawasi. Sudah lah… Saya percaya lah dengan kawan-kawan yang lain,” tukasnya.
Sementara, Ketua MKD dari Fraksi PKS, Surahman Hidayat pun mengaku tidak mendapatkan tawaran seperti dialami oleh Junimart Girsang.

Ia pun mempersilakan media massa untuk mengonfirmasi informasi dana pengamanan tersebut kepada anggota dan pimpinan MKD yang diduga mendapatkan tawaran tersebut.
Dan sejauh ini, ia mengaku belum mendapat laporan adanya dana pengamanan kasus dugaan etik Setya Novanto itu.
“Saya sendiri tidak tahu, kecuali malaikat. Kalau saya dapatnya tawaran jadi calon mertua,” kata politisi PKS itu.

(Tribunnews)