Mengenal Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita di Indonesia

by -7 views

bocahPneumonia atau radang paru akut sering dijumpai di masyarakat Indonesia. Bahkan, bersama dengan diare, pneumonia masuk dalam daftar penyebab utama kematian pada balita.

Dunia memperingati pneumonia setiap tangal 12 November. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Setiap Napas Berharga. Stop Pneumonia Sekarang.”

Sebenarnya pneumonia adalah gangguan kesehatan yang bisa diatasi, tetapi tetap saja di dunia setiap 20 detik satu orang anak meninggal karena infeksi ini.

Menurut penjelasan dokter spesialis anak Rifan Fauzi, pneumonia bisa disebabkan oleh bakteri atau virus. “Kalau virus umumnya bisa sembuh sendiri,” katanya.

Bakteri yang paling sering menimbulkan pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae atau influenza tipe B. “Ada beberapa jenis kuman atau virus yang jadi penyebab, tapi gejalanya sama,” kata dokter dari RSAB Harapan Kita Jakarta ini.

Penularan kuman penyebab pneumonia terjadi melalui batuk, bersin, dan udara yang mengandung bakteri. Anak yang terinfeksi bisa menunjukkan gejala demam, batuk, pilek, lemah, muntah, diare, serta bernapas pendek dan cepat.

“Menurut guideline WHO, kalau menemukan balita mengalami gejala-gejala tersebut, apalagi ada sesak napas dan frekuensi napasnya lebih dari usianya, dokter bisa menegakkan diagnosis seabgai pneumonia. Itu berarti dokter juga boleh memberikan antibiotik,” ujar Rifan.

Pemberian antibiotik, urai Rifan, merupakan tindakan untuk menyelamatkan nyawa anak. Sebab, jika terlambat, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi, bahkan menyebabkan kematian.

Meski demikian, efektif tidaknya antibiotik juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya, seperti status gizi anak serta ada tidaknya kelainan bawaan yang dimiliki anak.

“Kalau status gizi anak baik, output pengobatan juga akan baik. Yang rumit itu kalau anak punya kelainan bawaan, misalnya jantung bawaan atau habis operasi. Anak berkebutuhan khusus juga biasanya memiliki mekanisme pertahanan napas terhadap bakteri yang kurang baik,” katanya.

Banyaknya jumlah anak yang meninggal dunia karena penyakit ini menurut Rifan bisa disebabkan karena terlambatnya penanganan dan juga pengenalan terhadap tanda bahaya.

“Karena itu para tenaga medis di ujung tombak pelayanan seperti di Puskesmas, terus dibekali ilmu untuk mengenali gejala penyakit ini. Mereka juga diberi timer untuk menghitung napas bayi. Kalau ternyata pneumonia dan tidak bisa dirujuk, boleh diberikan antibiotik,” paparnya.

Pencegahan penyakit radang paru bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Biasakan anak menutup hidung dan mulut saat bersin atau batuk dan mencuci tangan sebelum makan.

Penyakit ini juga mudah menyerang jika daya tahan tubuh rendah. Oleh karena itu orangtua wajib memperhatikan asupan nutrisi anak. Imunisasi merupakan langkah pencegahan lainnya yang efektif.

(Kompas)