Miris, Perjuangan Ratusan Anak SMP Nekat Adu Nyali untuk Bisa Sekolah

by -24 views
MEMBAHAYAKAN: Sejumlah siswa dari Desa Ibun turun dari angkutan bak terbuka yang dilengkapi terpal saat tiba di kawasan Kecamatan Ibun, baru-baru ini. Para siswa kerap bertaruh nyawa agar tidak terlambat sekolah dan minimnya sarana transportasi di kawasan tersebut.
MEMBAHAYAKAN: Sejumlah siswa dari Desa Ibun turun dari angkutan bak terbuka yang dilengkapi terpal saat tiba di kawasan Kecamatan Ibun, baru-baru ini. Para siswa kerap bertaruh nyawa agar tidak terlambat sekolah dan minimnya sarana transportasi di kawasan tersebut.Perjuangan keras sudah harus dilakoni anak belia di daerah Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Demi menimba ilmu mengemban tuntutan menjadi anak cerdas, para pelajar SMP nekat mengadu nyali agar sampai ke sekolah.

Tak kurang dari dua ratusan siswa SMP dari Ibun, harus melakukan perjalanan cukup jauh untuk belajar di sekolah mereka, yaitu di SMP Negeri 1 Ibun. Setiap hari, mereka harus menempuh jarak kurang lebih delapan kilometer ke sekolah yang merupakan satu-satunya di ibu kota Kecamatan Ibun. Mirisnya, jarang sekali angkutan umum untuk bisa mengantarkan mereka untuk sampai di sekolah.

Alternatifnya, para siswa mau tak mau harus menumpang mobil bak terbuka yang biasanya hanya ditutupi terpal, yang sejatinya digunakan warga mengangkut sayuran dari perkebunan ke pasar. Atau sebaliknya, membawa banyak kebutuhan pokok yang dibeli ibu-ibu dari pasar.

“Kami memang menyekolahkan anak ke SMP Negeri 1 Ibun karena memang sekolah ini yang paling dekat dengan rumah kami,” kata Rohidin (45), salah seorang orang tua siswa di aula Kecamatan Ibun, seperti dikutip dari Bandung Ekspres, Jumat (27/11).

Rohidin mengaku, kerap deg-degan ketika harus melepas anak berangkat ke sekolah. Sebab, mereka harus berebutan tempat duduk dengan siswa lain yang juga mengalami kondisi yang sama. Belum lagi dengan ”penumpang utama” yaitu petani berikut hasil panen.

“Kami tahu itu membahayakan. Tapi tidak ada pilihan lain. Tetapi kami yakin mereka akan selalu selamat, seiring harapan menimba ilmu untuk masa depan anak anak kami,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan Maman (54), orang tua siswa yang beralamat di Tanjakan Monteng Desa Ibun. Dia mengatakan sekali pergi menyekolahkan anaknya itu diberikan bekal Rp 20 ribu. Uang itu untuk ongkos naik kendaraan umum Rp 15 ribu pulang pergi. Sedangkan Rp 5 ribu untuk uang jajan.

“Kami bukan berarti banyak uang sehingga membekali anak kami dengan uang sebanyak itu. Kami pikir sekolah untuk masa depan anak-anak kami. Kami tentu akan berusaha melakukan yang terbaik agar anak-anak kami tetap bisa sekolah,” papar Maman sambil terbata-bata.

Menurut dia, ongkos tersebut lebih murah ketimbang naik ojek. Sebab, satu kali jalan dengan menggunakan ojek senilai Rp 15 ribu sekali jalan. Makanya, angkutan bak terbuka dengan menggunakan terpal itu sangat membantu masyarakat yang menginginkan anaknya sekolah.

Camat Ibun Ika Nugraha membenarkan kondisi ini. Dia mengaku, untuk sementara ini hanya bisa mewanti para sopir angkutan tersebut agar tetap berhati-hati saat menjalankan kendaraan. Selain kondisi medan perjalanan yang buruk, tapi tiap kepala yang diangkut dalam mobil angkutan tersebut merupakan harapan tiap orang tua yang ingin anaknya lebih baik dari mereka.

“Kami tak menampik jika memang kendaraan yang mengangkut anak sekolah itu cukup membahayakan. Kadang mereka naik di atap kendaraannya, supaya segera mungkin bisa sampai ke sekolah. Angkutan di daerah kami memang bisa dihitung jari. Ongkosnya pun tidak murah karena medan yang dilalui cukup berat dan jauh,” tambahnya.

(jpnn)