Sejarah Bogor Dari Ibu Kota Kerajaan Sunda hingga Kota Hujan

by -
by
Sejarah Bogor Dari Ibu Kota Kerajaan Sunda hingga Kota Hujan

JABARMEDIA – Bogor, sebuah kota yang dikenal dengan julukan Kota Hujan, memiliki sejarah yang teramat panjang dan kaya. Jauh sebelum dikenal sebagai tempat peristirahatan para gubernur jenderal Hindia Belanda, wilayah ini merupakan pusat dari salah satu kerajaan terbesar di tatar Sunda. Artikel ini akan mengupas perjalanan Bogor dari masa ke masa, mulai dari asal-usul namanya, momen berdirinya, hingga perkembangannya di era modern.

Asal-Usul Nama “Bogor”

Hingga kini, tidak ada satu sumber pasti yang dapat menyimpulkan asal-usul nama “Bogor“. Namun, ada beberapa teori yang paling populer dan diyakini oleh masyarakat:

Pohon Enau (Kawung)

Teori yang paling banyak diterima adalah bahwa nama Bogor berasal dari kata “Bogor” atau “Bokor” yang berarti tunggul atau pangkal dari pohon enau (Arenga pinnata). Konon, di lokasi Kebun Raya Bogor saat ini, pernah tumbuh pohon enau yang sangat dihormati.

Pantun Pak Cilong

Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuh, laju ngaranan Bogor, sabab bogor teh hartina tunggul kawung.
(Di tempat itu, dirikanlah olehmu sebuah kota, lalu beri nama Bogor, sebab bogor itu artinya pohon enau/aren).

Ari tunggul kawung, emang ge euweuh hartina, euweuh soteh ceuk nu teu ngarti.
(Pohon enau/aren itu, memang tak ada artinya, terutama, bagi mereka yang tidak paham)

Ari sababna, ngaran mudu Bogor, sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung, teu melepes tapi ngelun, haseupna teu mahi dipake muput.
(Sebabnya harus bernama Bogor?, sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala, tapi tidak padam, terus membara, asapnya tak cukup untuk “muput”)

Tapi amun dijieun tetengger, sanggup nungkulan windu, kuat milangan mangsa
(Tapi kalau dijadikan penyangga rumah, mampu melampaui waktu, sanggup melintasi zaman)

Amun kadupak, matak borok nu ngadupakna, moalgeuwat cageur tah inyana.
(Kalau tersenggol, bisa membuat koreng yang menyenggolnya, membuat koreng yang lama sembuhnya)

Baca Juga:  Imigrasi Karawang Deportasi 19 WNA Tahun Ini, Warga Tiongkok Paling Banyak Akibat Izin Kedaluwarsa

Amun katajong?, mantak bohak nu najongna, moal geuwat waras tah cokorna.
(Kalau tertendang?, bisa melukai yang mendangnya, itu kaki akan lama sembuhnya)

Tapi, amun dijieun kekesed?, sing nyaraho, isukan jaga pageto, bakal harudang pating kodongkang, nu ngawarah si calutak.
(Tapi, kalau dibuat keset?, Semuanya harus tahu, besok atau lusa, bakal bangkit berkeliaran, menasehati yang tidak sopan)

Tah kitu!, ngaranan ku andika eta dayeuh, Dayeuh Bogor!
(Begitulah, beri nama olehmu itu kota, Kota Bogor)

Pengaruh Nama Belanda

Selama masa penjajahan, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg, yang berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram“. Beberapa ahli berpendapat bahwa nama “Bogor” adalah versi pelafalan lokal dari kata “Buitenzorg” yang lebih mudah diucapkan.

Kata “Baghar” atau “Baqar”

Ada juga teori yang mengaitkannya dengan bahasa Arab “Baghar” atau “Baqar” yang berarti sapi. Teori ini didukung oleh adanya sebuah patung sapi di dalam area Kebun Raya Bogor.

Patung di Kebun Raya

Sebuah tulisan dari tahun 1752 menyebutkan adanya nama sebuah kampung bernama “Kampong Bogor” yang terletak di dalam area Kebun Raya yang saat itu sedang dibangun.

Meski asal-usulnya masih menjadi misteri, nama Bogor telah melekat kuat dan menjadi identitas kota yang sejuk ini.

Titik Awal Berdirinya Bogor

Secara historis, hari jadi Bogor ditetapkan pada 3 Juni 1482. Tanggal ini bukanlah tanggal berdirinya sebuah kota secara fisik, melainkan merujuk pada peristiwa penting dalam sejarah Kerajaan Sunda, yaitu upacara penobatan (Sunda: ngadegkeun) Sri Baduga Maharaja, atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi, sebagai raja dari Kerajaan Sunda yang beribu kota di Pakuan Pajajaran.

Pakuan Pajajaran diyakini berlokasi di wilayah Kota Bogor saat ini. Peristiwa penobatan ini dianggap sebagai momen lahirnya pusat pemerintahan yang menjadi cikal bakal Kota Bogor. Oleh karena itu, setiap tanggal 3 Juni, Kota dan Kabupaten Bogor merayakan hari jadinya untuk mengenang warisan agung dari Kerajaan Pajajaran.

Baca Juga:  Hari Ini Bank Indonesia Mulai Edarkan Uang Pecahan Rp 100 Ribu Baru

Perkembangan dari Masa ke Masa

Perjalanan Bogor dapat dibagi menjadi beberapa era penting yang membentuk wajahnya hingga sekarang.

Era Kerajaan dan Kolonial

Setelah Kerajaan Sunda runtuh pada abad ke-16, wilayah Pakuan Pajajaran sempat terlupakan selama beberapa waktu. Titik balik terjadi pada pertengahan abad ke-18 ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Gustaaf Willem van Imhoff, terpikat oleh keindahan dan kesejukan kawasan ini.

Pada tahun 1745, Van Imhoff mendirikan sebuah pesanggrahan atau vila peristirahatan yang ia namai Buitenzorg. Bangunan inilah yang menjadi cikal bakal Istana Kepresidenan Bogor saat ini. Sejak saat itu, Buitenzorg berkembang pesat.

Pusat Pemerintahan: Karena udaranya yang sejuk dan dianggap lebih sehat daripada Batavia (Jakarta), Buitenzorg secara bertahap menjadi pusat pemerintahan de facto Hindia Belanda. Para gubernur jenderal lebih banyak tinggal dan bekerja dari sini.

Pendirian Kebun Raya: Pada tahun 1817, di bawah prakarsa Caspar Georg Carl Reinwardt, didirikan ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg, yang kini kita kenal sebagai Kebun Raya Bogor. Kebun raya ini menjadi pusat penelitian botani tropis yang terkenal di seluruh dunia dan semakin mengukuhkan status penting kota ini.

Era Kemerdekaan hingga Kini

Setelah kemerdekaan Indonesia, nama Buitenzorg secara resmi diubah kembali menjadi Bogor. Fungsinya sebagai tempat penting bagi kepala negara tetap berlanjut. Istana Bogor menjadi salah satu dari enam Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan sering digunakan untuk menyambut tamu-tamu negara.

Pada tahun 1972, Bogor diakui secara resmi sebagai kabupaten melalui sidang pleno DPRD.

Pada tahun 1975, Pemerintah Pusat memerintahkan agar Kabupaten Bogor memiliki pusat pemerintahan di wilayahnya sendiri yang berbeda dengan Kotamadya Bogor.

Baca Juga:  Deddy Mizwar Tagih Janji Jokowi soal Banjir Jakarta

Setelah penelitian di beberapa wilayah, Desa Tengah Kecamatan Cibinong dianggap sebagai calon ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. Hal ini dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1982, yang menetapkan Desa Tengah sebagai pusat pemerintahan.

Proses pembangunan pusat pemerintahan ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor dimulai pada tanggal 5 Oktober 1985 dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bogor. Pembangunan ini merupakan langkah penting dalam pengembangan kabupaten Bogor.

Memasuki era modern, Bogor mengalami transformasi besar:

Pusat Pendidikan dan Penelitian: Kehadiran Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadikan Bogor sebagai kota pusat pendidikan dan penelitian, khususnya di bidang pertanian, kehutanan, dan biosains.

Pertumbuhan Urban: Sebagai kota penyangga Jakarta, Bogor mengalami pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang sangat cepat. Hal ini memunculkan tantangan seperti kemacetan lalu lintas, yang membuatnya mendapat julukan “Kota Sejuta Angkot”.

Destinasi Wisata: Bogor terus menjadi destinasi favorit, terutama bagi warga Jakarta. Pesona utamanya adalah wisata alam (Puncak), wisata kuliner yang beragam, serta wisata sejarah dengan adanya Istana dan Kebun Raya.

Hingga hari ini, Bogor terus berbenah. Kota ini berhasil memadukan warisan sejarahnya yang megah dari jejak Prabu Siliwangi hingga kemewahan era kolonial dengan dinamika sebuah kota modern yang terus bertumbuh.

Julukan Kota Hujan tidak hanya merujuk pada curah hujannya yang tinggi. Tetapi seakan juga melambangkan kesuburan sejarah dan budaya yang tak pernah berhenti tumbuh di kota ini.

Sejarah Bogor yang kaya dan beragam mencerminkan perjuangan dan perkembangan masyarakatnya. Dari asal usulnya yang berawal dari sembilan kelompok pemukiman hingga menjadi sebuah kesatuan dalam Kabupaten Bogor. Upaya meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan rakyat terus dilakukan. Melalui pembangunan pusat pemerintahan, Bogor terus bertransformasi menuju kemajuan yang lebih baik.

(Damar Alfian)

Tentang Penulis: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.