Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis di Papua Barat Daya
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk mencari solusi atas berbagai keluhan yang muncul serta meningkatkan tata kelola program agar lebih efektif dan tepat sasaran.
Ahmad Nausrau, Wakil Gubernur Papua Barat Daya sekaligus Ketua Satgas MBG, menyoroti beberapa kendala yang dihadapi dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Salah satu masalah utama adalah ketersediaan bahan pangan lokal. Banyak kebutuhan seperti sayuran, buah-buahan, telur, ayam, dan daging masih mengalami keterbatasan karena produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan secara maksimal.
“Kebutuhan seperti sayur dan buah kadang mengalami kelangkaan karena produksi lokal terbatas sehingga harus didatangkan dari luar daerah. Ini tentu membutuhkan waktu,” ujar Ahmad Nausrau.
Selain itu, variasi menu makanan juga menjadi perhatian dalam evaluasi tersebut. Menurutnya, penyajian menu yang sama secara berulang dapat membuat anak-anak merasa bosan, sehingga berpengaruh terhadap minat mereka untuk mengonsumsi makanan yang diberikan.
“Kalau disajikan terus menu yang sama, anak-anak bisa merasa bosan sehingga ada yang tidak mau mengonsumsi. Ini menjadi perhatian agar menu yang diberikan tetap memenuhi standar gizi sekaligus dapat diterima anak-anak,” jelasnya.
Jumlah SPPG dan Penerima Manfaat
Saat ini, terdapat sekitar 21 SPPG yang telah beroperasi di wilayah Papua Barat Daya. Jumlah penerima manfaat dari kalangan siswa mencapai lebih dari 79 ribu orang. Sementara itu, untuk penerima manfaat kelompok tiga B (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui), jumlahnya juga mencapai lebih dari 50 ribu penerima manfaat.
Evaluasi dilakukan dengan melibatkan Koordinator Wilayah (Korwil) Kota Sorong, Satgas MBG Kota Sorong, para kepala SPPG, serta ahli gizi yang ada di Kota Sorong. Dalam evaluasi tersebut, pihak terkait meninjau perkembangan SPPG yang ada di Kota Sorong maupun berbagai kendala yang dihadapi, terutama keluhan dari para orang tua dan penerima manfaat tentang menu-menu yang dianggap belum sesuai dengan kebutuhan atau pemenuhan gizi yang diharapkan.
Komitmen Pemerintah Daerah
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya tetap berkomitmen mendukung penuh pelaksanaan program MBG sebagai salah satu program prioritas nasional. Namun, evaluasi akan terus dilakukan agar pelaksanaan program tersebut berjalan lebih baik, tepat sasaran, serta mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat di Papua Barat Daya.
“Kita mendukung penuh program ini, tetapi tata kelola dan pelaksanaannya terus kita evaluasi agar ke depan semakin baik,” pungkas Ahmad Nausrau.
Tantangan dan Solusi yang Dicari
Beberapa tantangan lain yang muncul selama evaluasi antara lain adalah keterbatasan anggaran, kurangnya koordinasi antarinstansi, dan kesulitan dalam pengawasan kualitas makanan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah berencana untuk meningkatkan kerja sama dengan pelaku usaha lokal dan mengadakan pelatihan bagi tenaga pendidik dan petugas gizi.
Selain itu, rencana pengembangan SPPG juga sedang dipertimbangkan agar lebih banyak siswa dan kelompok rentan lainnya dapat diakses oleh program ini. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap warga memiliki akses yang sama terhadap nutrisi yang cukup dan berkualitas.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan program MBG dapat terus berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat di Papua Barat Daya.







