web analytics

Mengagumi Keindahan Pantai Sulamadaha

25 April 2014   15 views

pantai-ternateTERNATE, kota yang berada di atas pulau gunung berapi di Provinsi Maluku Utara, tidak hanya menyimpan kearifan budaya dan tradisinya. Kota yang masih memiliki Kesultanan ini pun ternyata memiliki keindahan alam yang menjadi ciri khas daerah Indonesia timur. Langit biru, air laut sebening kaca, keindahan terumbu karang dan pasir putihnya.

Pantai Sulamadaha di Ternate seakan menjadi rangkuman keindahan-keindahan tersebut. Berjarak sekitar 30 menit perjalanan dari pusat Kota Ternate, Pantai Sulamadaha kini menjadi obyek wisata favorit dan wajib dikunjungi bagi para pecinta bahari.

Pantai Sulamanda memiliki bentuk U. Pantainya tidak terlalu luas tapi memberi kesan private karena di sekeliling pantai ada tebing tinggi menjulang yang ditumbuhi pepohonan rindang. Dari tempat parkir pengunjung masih harus berjalan kaki kurang lebih 10 menit untuk mencapai pantai ini. Jadi pengunjung tidak akan menemukan mobil yang diparkir di pinggir pantai sehingga sungguh membuat pantai ini asri.

Pantai ini merupakan salah satu objek wisata favorit di Ternate. Selain perairannya yang tenang, pantai ini juga memiliki keindahan terumbu karang dan ikan.
Jalan menuju Pantai Sulamadaha sedikit menanjak dan sedikit menguras tenaga. Tapi semua itu terbayar ketika tiba di pantai ini. Pengunjung akan disambut dengan hamparan pasir putih, dan beningnya air laut yang bergadrasi warna hijau muda ke biru tua.

Jangan pernah ragu untuk berenang di pantai ini, kejernihan dan airnya nan sejuk membuat betah berlama-lama di dalam air. Yang menarik, di pantai ini pengunjung bisa berjalan hingga 20 meter ke tengah laut karena ada gugusan terumbu karang yang luas di pantai ini. Jika tidak bisa berenang, pengunjung bisa menyewa pelampung seharga Rp 10.000.

Malas berenang? Pengunjung tetap bisa menikmati kejernihan air laut dengan berperahu. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 30.000, pengunjung bisa menyewa perahu dengan kapasitas 3-4 orang dan mendayung ke tengah lautan. Jangan khawatir dengan gelombang, bentuk pantai yang seperti huruf U ini membuat air laut pantai ini tenang.

Pantai ini merupakan salah satu objek wisata favorit di Ternate. Selain perairannya yang tenang, pantai ini juga memiliki keindahan terumbu karang dan ikan.
Jangan buru-buru pulang setelah mengagumi keindahan pantai Sulamadaha. Pengunjung bisa duduk sejenak di warung yang ada di pinggir pantai. Ayub (50) merupakan salah satu yang memiliki warung di pantai ini. Dia bersama sang istri menjual makanan dan minuman bagi pengunjung. Menurut Ayub, akhir pekan merupakan hari yang sibuk karena pantai ini akan dipadati pengunjung.

“Jadi selain jual makan saya juga buka fasilitas kamar mandi untuk bilas atau ganti baju. Jangan khawatir kalau lupa bawa celana pendek atau alat snorkeling, kita juga sewakan barang-barang macam itu,” kata Ayub.
(sumber:kompas.com)

Wahana Wisata Air Waterland Cicurug

21 April 2014   21 views

cicurugWahana Wisata Air Murah Meriah Waterland Cicurug Lantaran sedang diminati, tempat wisata air ini makin menjamur di berbagai wilayah. Salahsatunya Waterland Cicurug di Perum Griya Benda Asri, di jalur Bocimi, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
Waterland Cicurug cukup strategis dan mudah dijangkau baik dari arah Sukabumi maupun dari arah Bogor dan Ciawi. Taman wisata ini memiliki luas lebih kurang 2 hektare, lengkap dengan sejumlah fasilitas yang nyaman untuk bersantai penuh keceriaan bagi keluarga dan semua usia.
“Waterland Cicurug merupakan waterpark pertama di Sukabumi, dilengkapi 24 saung santai atau gajebo, warung jajanan, petugas keamanan, papan seluncur, permainan bola air, kolam renang, live music, dan lain-lain. Bahkan ke depannya, kami akan membangun fasilitas karaoke dengan 8 room terbaik,” kata Manager Waterland Cicurug, Willi, kepada Jurnal Bogor.
Selain itu, Waterland Cicurug yang baru beroperasi 8 bulan ini menyediakan 7 kolam dan 3 wahana air seperti toddler pool (kolam anak), racer side (seluncur), futsal air, kiddy pool, dan sedang dibangun outbound, dan kolam air hangat.
Soal tariff juga cukup terjangkau. “Hari biasa Senin-Jumat 15.000 dan hari libur Sabtu-Minggu 25.000. Kemungkinan ke depan bila wahana baru makin lengkap tarifnya akan naik 5000 an,” pungkasnya.

(Jurnal Bogor)

Obyek Wisata Tradisonal yang Butuh Penataan Pemerintah

17 April 2014   30 views

wisata 1Di wilayah barat Kab. Sumedang, terdapat sejumlah objek wisata alam terbuka yang belakangan ini menjadi perhatian publik. Di antaranya di Kec. Cimanggung terdapat kawasan wisata rumah adat Cigumentong, yang berada di kawasan Gunung Kareumbi Masigit, Desa Sindulang. Kawasan kampung adat itu membutuhkan sentuhan dan penataan dari pemerintah.

Di wilayah barat lainnya, di Kec. Sukasari, juga menawarkan kawasan wisata alam terbuka. Di antaranya tempat wisata alam Waru Beureum di Desa Sindangsari. Bumi Kahiangan di Desa Sindangsari, Puncak dan Cipacet di Desa Genteg, Malaka di Desa Banyu Resmi, Guha tempat wisata rohani di Desa Mekarsari dan Kampung Bako di Desa Sukasari dan Kampung Maduhur, sebagai kawasan penghasil alat musik tradisional sunda Karinding.

Di Kec. Sukasari juga memiliki kawasan Bumi Perkemahan Kiara Payung, yang menjadi tempat konsentrasi kegiatan nasional. Selama ini daerah itu sering disebut-sebut kalangan publik masuk Kec. Jatinangor, namun secara teritorial masuk ke Kec. Sukasari. Tempat wisata alam terbuka itu menjadi kebanggaan warga setempat.

Camat Sukasari Atang Sutarno, menyatakan, pihaknya terus melakukan pembenahan dan penataan dalam berbagai pembangunan di kawasan wisata alam terbuka. Dengan harapan, melalui penataan itu dapat memajukan potensi daerah dan dapat mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) melalui objek wisata alam terbuka itu.

“Di wilayah kami banyak tempat wisata alam terbuka yang bisa dikunjung masyarakat,” kata Atang kepada wartawan di Sukasari, Jumat (7/3/14). Atang menyatakan, sebagai daya tarik wisata Sukasari itu karena memiliki daerah sebagai cikal bakal pengrajin alat kesenian tradisional Karinding.

“Desa Sukarapih sebagai pusat pembuatan alat musik tradisional karinding. Penjualannya sempat ke Singapura dan negara lainnya,” kata Atang.

Dengan adanya pembuatan karinding itu, kata dia, Sukasari sebagai tempat wisata seni dan rohani. Apalagi di wilayah tersebut ada lokasi goa yang bisa dikunjungi masyarakat.

“Goa itu dibuat pada zaman Jepang, sehingga keberadaanya perlu dilestarikan karena merupakan peninggalan sejarah,” katanya.

Ia mengatakan, penataan goa itu perlu dilakukan untuk menarik minat kunjungan wisatawan.

Sementara itu, Kepala Desa Sindulang, Edi Mulyana menyatakan, kawasan Kampung Wisata Cigumentong hingga kini masih minim sentuhan pembangunan dan penataan dari pemerintah terkait. Di lokasi itu terdapat rumah adat yang mencapai 17 unit dengan kondisi bangunan serba tradisional.

“Pemerintah terkait diharapkan bisa memperhatikan tempat wisata alam kampung adat tersebut. Selain melakukan penataan, juga dibarengi dengan pengguliran anggaran untuk pembangunan,” harap Edi.

Kampung Adat Cigumentong berada di pelosok Kec. Cimanggung. Dari kawasan Parakanmuncang, jaraknya sekitar 20 km dan berada di atas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

“Kampung Cigumentong sangat cocok dijadikan sebagai pusat kegiatan alam terbuka atau outbond,” katanya.

Menurutnya, pada 2005 Kampung Cigumentong mendapat bantuan listrik tenaga surya untuk penerangan di kawasan itu. Bantuan turbin pun sempat digulirkan ke kampung itu.

“Kampung Cigumentong mulai dihuni sejak 1884 saat penjajah Belanda membangun jalan ke perkebunan di Gunung Kareumbi Masigit yang ada di kawasan kampung itu,” katanya.

Ia juga menjelaskan wisatawan yang pernah berkunjung ke Kampung Cigumentong, tak hanya warga lokal. Dari mancanaga juga banyak yang datang. Di antaranya asal Swiss, Saudi Arabia, Jerman, Belanda, Palestina, Yugoslavia.

(Galamedia.com)

Wisata yang Beda Banget di Pangandaran, Hutan Mangrove

15 April 2014   50 views

mangrovePangandaran – Tidak jauh dari Pantai Pangandaran, ada objek wisata yang tidak kalah menarik yaitu hutan mangrove. Suasananya yang asri dan hijau membuat pengunjung betah di sini. Apalagi, ada pantai juga lho di ujung hutan!

Tahun 2006, Pangandaran disapu tsunami dan meninggalkan trauma cukup mendalam bagi para masyarakat maupun pengunjung. Tidak ingin terulang, beberapa kelompok membuat kawasan Bulak Sentra sebagai green belt.

STREAM (Sustainable Tourism trough Every Efficiency with Adaption and Mitigation Measures) yang mendapat bantuan dari UNWTO (United Nations World Tourism Organization) pun membuat Bulak Sentra sebagai hutan mangrove. Dahulu, kawasan ini masih ditinggali penduduk dan belum terlalu banyak pepohonan mangrovenya.

Tapi kini, tempat ini sudah bebas dari rumah penduduk, dan pohon mangrove pun sudah berjejer kokoh seakan siap melindungi Pangandaran. Kawasan yang berada di Desa Babakan, Pangandaran ini tidak hanya dijadikan area untuk meminimalisasi bencana alam saja, tapi juga wadah edukasi dan pariwisata.

Meski tidak bisa langsung didatangi, melainkan dengan reservasi, namun wisata ke hutan mangrove bisa menjadi opsi liburan beda saat di Pangandaran. Di sana, ada jembatan bambu yang bisa membawa Anda menjelajah hutan mangrove nan hijau. detikTravel menjelajah kawasan ini akhir pekan kemarin.

Jika ingin lebih seru, bisa juga turut menanam pohon mangrove lho! Namun, hanya 10 orang per hari yang bisa menanam ini. Bukan apa-apa, karena kawasan ini memang tidak untuk mass tourism. Sehingga, keasriannya bisa tetap terjaga.

Untuk menjelajah hutan, bisa dilakukan dengan menaiki perahu. Dari sana, Anda akan diantar ke trail jembatan bambu untuk menjelajah hutan, atau ke kawasan untuk menanam mangrove. Di sana, ada pula pantai cantik dengan bibir pantai lebar yang bisa dijadikan tempat bermain. Seru! (sumber:detik.com)

Curug Baligo Perlu Pengelolaan Profesional

13 April 2014   38 views

curugbaligoCurug Baligo, yang terletak di Blok Baligo, Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, adalah salah satu objek wisata air terjun di Kabupaten Majalengka, namun keberadaannya belum banyak dikenal masyarakat, bahkan masyarakat Majalengka itu sendiri.

Hal itu mungkin karena keberadaan objek wisata ini belum dikelola dengan baik dan profesional sehingga masyarakat tidak banyak yang tahu. Atau mungkin juga karena curug tersebut adanya di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai dan tanah milik masyarakat sehingga menyulitkan pengelolaan.

Menurut sejumlah warga di Desa Padaherang, sebetulnya bila objek wisata tersebut dikelola dengan baik dan profesional akan banyak pengunjung. Saat ini pun pada hari libur tidak kurang dari 300 hingga 500 orang per hari.

“Kunjungan hari libur lumayan banyak, kami bisa berjualan minuman dan makanan serta mi rebus,” ungkap Oneng salah seorang pedagang makanan di dekat curug.

Sementara ini pengunjung ke curug tersebut baru berasal dari kalangan remaja, seusia SMP, SMA atau mahasiswa, dan kebanyakan pengunjung anehnya bukan berasal dari warga Majalengka melainkan dari wilayah Cirebon dan Indramayu. Terlihat dari bahasa pengantar yang mereka gunakan pada umumnya bahasa Cirebon dan Indramayu.

Untuk menempuh ke Curug tersebut, bisa dijangkau dari Lengkong Wetan, kemudian menuju Bumi Perkemahan Cipancar. Dari arah tersebut belok kearah kiri menuju Desa Padaherang. Tidak banyak penunjuk arah menuju lokasi wisata tersebut malah nyaris tidak ada penunjuk arah, sehingga bagi pengunjung baru harus banyak bertanya, termasuk bila sudah sampai di Desa Padaherang.

Pengelola objek wisata Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) nampak hanya memungut retribusi masuk. Bagi pengunjung yang membawa kendaraan roda dua ataupun roda empat harus mencari lahan parkir sendiri di pekarangan warga, Karena berbagai keterbatasan tersebut tidak tampak bahwa di desa tersebut ada objek wisata.

Dari pemberhentian atau lokasi parkir, untuk mencapai ke lokasi curug harus menempuh jarak sekitar 700 meteran, pengunjung melintasi pekarangan penduduk, setelah itu menuruni tangga yang sudah di tembok kasar selebar kurang lebih 50 cm. Tangga tersebut menurut Oneng, Uci dan Inoh dibangun oleh salah seorang pengusaha dari Majalengka menjelang Pemilukada Bupati beberapa waktu lalu, itupun tidak sampai di lokasi hanya sekitar 500 meteran. Sebelumnya untuk menuju lokasi melintasi jalan setapak menyusiri pematang sawah dan kebun warga tak heran bila hujan jalanan licin.

Namun kondisi tersebut akan terobati setelah berada di sungai kecil di bawah curug yang ketinggiannya mencapai kurang lebih 100 meteran. Beberapa meter dari curug air sudah terasa seperti embun. Air curug megalir di sungai selebar 5 meteran.

Air sungai tersebut menurut warga setempat, meski hujan tak pernah kerung, air tetap bening, karena air berasal dari mata air pengunungan, selain itu di sungai banyak bebatuan yang mungkin bisa menjerihkan air sungai. Lokasi curug itu sendiri diapit oleh dua bukit yakni Bukit Baligo dan Bukit Padabeunghar yang arealnya masuk ke wilayah Kabupaten Kuningan. Dedahanan dari kiri dan kanan sungai rimbun menaungi sisi sungai.

Pengunjung yang ingin mandi menikmati jernihnya air sungai, bisa leluasa karena disana juga terdapat kubangan air yang besar (sunda:leuwi) yang dari kanan dikiri terdapat batu besar sehingga walapun mandi dengan setengah telanjang akan tertutup dari penglihatan orang.

Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Majalengka Hj.Suratih Puspa ketika dimintai konfirmasi hal tersebut membenarkan kalau Curug Baligo belum dikelola dengan baik, sehingga keberadaannya tak banyak dikenal. Pihaknya berjanji kedepan akan berupaya menata kawasan tersebut yang kemungkinan penataan dan pengelolaannya dikerjasamakan dengan TNGC dan Kompepar sehingga bsia saling bersinergi.

Sumber: pikiran-rakyat.com

Ubud dan Seminyak Masuk 25 Destinasi Wisata Terbaik di Asia

12 April 2014   20 views

gowes di baliUbud dan Seminyak di Bali menempati urutan ke 8 dan 19 di daftar 25 destinasi wisata terbaik di Asia. Keduanya mengalami peningkatan prestasi dibanding tahun lalu yaitu Ubud naik 3 tingkat dan Seminyak menjadi destinasi wisata baru yang masuk daftar terbaik di Asia.

Hal ini berdasarkan daftar yang dikeluarkan TripAdvisor, sebuah situs perjalanan yang mengumumkan pemenang penghargaan “Travelers’ Choice for Destinations”.

“Kami gembira melihat Ubud dan Seminyak berada di daftar 25 destinasi wisata teratas di Asia untuk penghargaan Travellers’ Choice 2014 karena ini menunjukkan kualitas dari destinasi wisata Indonesia,” kata Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Esthy Reko Astuty, seperti termuat dalam siaran pers yang diterima Kompas Travel, Kamis (10/4/2014).

Ia berharap penghargaan ini akan menjadi jembatan untuk mempromosikan destinasi wisata di luar Bali dan menarik lebih banyak pengunjung ke Indonesia yang menakjubkan. Di tahun keenamnya, penghargaan tahunan ini memberikan penghargaan ke hampir 500 destinasi wisata termasuk pemenang tempat teratas di dunia. Serta daftar tersendiri untuk Afrika, Asia, Australia, Kanada, Karibia, Amerika Tengah, Eropa, China, Timur Tengah, Rusia, Amerika Selatan, Pasifik Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat.

“Jika Anda mencari inspirasi perjalanan, silakan cari di ‘Travelers’ Choice Destinations’. Wisatawan global kami adalah penentu yang mengungkap tempat-tempat terbaik untuk dikunjungi di dunia,” kata Chief Marketing Officer untuk TripAdvisor Barbara Messing.

Penghargaan “Travelers’Choice Destinations” memberikan penghargaan untuk tempat-tempat wisata teratas di dunia berdasarkan jutaan ulasan dan opini berharga dari wisatawan TripAdvisor. Pemenang penghargaan ditentukan menggunakan satu algoritma yang memperhitungkan kuantitas dan kualitas ulasan dan peringkat untuk hotel, obyek wisata, dan restoran di destinasi wisata di dunia, yang dikumpulkan selama periode 12 bulan.

10 Tujuan Wisata Traveller’s Choice di Indonesia:
1. Ubud
2. Seminyak
3. Sanur
4. Jakarta
5. Nusa Dua
6. Kuta
7. Borobudur
8. Yogyakarta
9. Bandung
10. Legian

Peringkat 25 Tujuan Wisata Travellers’ Choice di Asia:
1. Beijing, China
2. Hanoi, Vietnam
3. Siem Reap, Cambodia
4. Shanghai, China
5. Bangkok, Thailand
6. Chiang Mai, Thailand
7. Hong Kong
8. Ubud,Indonesia
9. Ho Chi Minh City, Vietnam
10. Kathmandu, Nepal
11. New Delhi, India
12. Tokyo, Jepang
13. Hangzhou, China
14. Hoi An, Vietnam
15. Singapore
16. Lijiang, China
17. Bangalore, India
18. Guangzhou, China
19. Seminyak, Indonesia
20. Chengdu, China
21. Mumbai, India
22. Taipei, Taiwan
23. Jaipur, India
24. Seoul, Korea Selatan
25. Shenzhen, China
(sumber: kompas.com)

Halmahera Barat, Surga yang Tersembunyi…

10 April 2014   40 views

pelabuhanKABUPATEN Halmahera Barat di Provinsi Maluku Utara terkenal dengan dengan kekayaan rempah-rempahnya yang melimpah dan kekayaan budaya maupun alamnya yang memesona para wisatawan dalam dan luar negeri.

Halmahera Barat memiliki banyak teluk yang dikelilingi dengan pemandangan yang luar biasa, alamnya yang masih asri dan memiliki daya tarik tinggi untuk dikunjungi. Salah satu teluk yang dikenal di sana adalah Teluk Jailolo. Jailolo merupakan ibu kota Halmahera Barat juga sebagai pusat pemerintahan daerah. Jailolo memiliki keunggulan yang berupa keindahan laut dan alam pegunungannya.

Jailolo sering ditulis ‘Gilolo’ dalam literatur Barat dan merupakan salah satu kerajaan di Maluku. Istilah ‘Gilolo’ sebagai suatu suku bangsa merujuk pada sebuah kerajaan tua di Pulau Halmahera Indonesia. Hingga saat ini tak ada satu tempat pun di dunia yang dahulu disebut Gilolo selain Pulau Halmahera di Indonesia.

Penyebutan Gilolo terkait sumber sejarah dalam sebuah buku berjudul “A New Voyage Round The World” (1697) yang ditulis William Dampier di mana memuat gambar seseorang dengan tubuh dipenuhi tato dan merupakan penduduk asli dari Jailolo. Dampier merupakan seorang pelaut Inggris yang mengunjungi Laut Selatan dan Hindia Timur untuk tugas mengelilingi bumi dan mencari daerah baru.

William Dampier pulang ke Inggris dengan membawa serta Pangeran Giolo (Painted Prince; Giolo; Jeol) yang bertato sekujur tubuhnya ke London. Dampier membawanya ke Eropa karena tertarik gambar di tubuhnya. Pangeran ini dijadikan budaknya hingga ia meninggal di Oxford karena penyakit cacar.

Pangeran Giolo kemudian dikenal sebagai ‘Painted Prince’ atau penduduk asli dari Kepulauan Rempah-Rempah yang ditato tubuhnya. Ia memiliki tato di seluruh tubuhnya yang menarik perhatian penduduk London namun bahasanya tidak mereka pahami. Pangeran Gilolo ini kemudian menghidupkan kembali seni tato di Inggris, bahkan sekarang menjadi ikon penggemar tato di dunia. Pangeran Giolo tersebut diyakini berasal dari pulau rempah-rampah di Hindia Timur atau Nusantara bagian timur, yaitu Halmahera (Maluccas).

Adapun beberapa keunikan alam dan budaya Jailolo adalah sebagai berikut.

1. Legu lalai, merupakan tarian khas Halmahera yang biasa diperagakan untuk acara acara khusus seperti menyambut tamu kesultanan atau rasa syukur panen raya. Tarian legu salai ditampilkan oleh sekelompok penari yang melambangkan sosok pekerja dan sosok putri.

Para penari pria menari dengan menggunakan payung yang menyimbolkan melindungi. Tarian ini juga menggambarkan kasih sayang antar sesama manusia.

2. Soya soya adalah tarian perang dari Kayoa yang dimainkan oleh laki laki. Menceritakan peristiwa yang terjadi pada 1570, saat itu Sultan Baabullah memerintahkan Kapita Kayoa dan pasukannya untuk merebut jenazah Sultan Khairun yang dibunuh oleh Antonio Premental di Benteng Kastela. Mereka berhasil merebut jenazah Sultan Khairun dan mengepung Portugis selama 4 tahun hingga mengusirnya dari tanah Maluku.

3. Jaru merupakan salah satu bentuk kesenian masyarakat Tobaru yang konon digunakan sebagai media komunikasi penyalur inspirasi, keluhan ataupun sindiran terhadap pemerintah yang berkuasa juga digunakan dalam upacara perkawinan yang berupa pesan dan nasihat untuk mempelai.

4. Cakalele adalah tarian khas Maluku Utara ini diadopsi dari gerakan perang yang menggunakan senjata seperti parang, tombak dan salawaku. Pada zamannya Suku Tobaru merupakan salah satu pasukan elit kesultanan. Sehingga mereka memiliki variasi gerak cakalele yang beragam. Setiap cakalele memiliki keunikan masing-masing. Pada cakalele penghormatan, pedang dan tombak selalu mengarah ke bawah.

5. Sidangoli memiliki pesona alam yang sangat indah. Anda bisa menikmati pemandangan puluhan pulau-pulau kecil yang banyak ditumbuhi bakau. Selat yang memisahkan pulau-pulau mangrove ini dihuni terumbu karang yang cantik dan dapat dilihat jelas di permukaan.

Selain perairannya yang memesona, dengan menyusuri pedalaman Sidangoli selama 2 jam akan membawa Anda ke kerajaan burung bidadari yang merupakan burung endemik Kepulauan Maluku dan hanya terdapat di sini.

6. Loloda merupakan kepulauan di ujung utara Halmahera yang terdiri atas ratusan pulau-pulau kecil dengan tebingnya yang indah. Kejernihan lautnya menyimpan pesona misteri yang menanti para penyelam untuk menyusuri lebih dalam dan melihat keindahan lain di dalamnya. Pagi hari sekumpulan lumba-lumba berenang memamerkan atraksi cantiknya yang menggemaskan.

7. Air terjun Kahatola, sebuah air terjun yang bermuara di sebuah tebing dan airnya langsung jatuh ke laut. Keindahan alam di Jailolo, Halmahera Barat yang indah sulit ditemukan di mana pun. (sumber:kompas.com

Museum Antonio Blanco Paling Banyak Dikunjungi Turis

5 April 2014   30 views

museum-antonio-blancoJumlah kunjungan wisatawan ke Museum Antonio Blanco di Ubud, Kabupaten Gianyar, tak bisa ditandingi oleh museum-museum lainnya di Bali. Museum ini berada di pinggir Sungai Campuhan, sekitar 25 kilometer sebelah timur laut Kota Denpasar.

Museum lukisan tersebut mencatat jumlah kunjungan sebanyak 44.637 orang selama 2013. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kunjungan pada 2012 yang hanya 41.311 orang.

“Wisatawan dalam maupun luar negeri paling banyak meminta untuk bisa menyaksikan aneka ragam lukisan yang tersimpan di Museum Antonio Blanco,” kata Made Badra, pramuwisata yang kerap mengantarkan wisatawan ke museum tersebut.

Di Bali ada sedikitnya 11 Museum yang menyimpan berbagai benda seni dan bersejarah, baik yang dikelola pihak swasta maupun pemerintah. Selain Antonio Blanco, beberapa museum yang ada di Ubud juga kerap dikunjungi wisatawan, seperti Pande Wayan Sutedja Neka, Ratna Warta, Arma, dan Rudana.

Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat jumlah pengunjung museum pada 2013 sebanyak 192.105 orang, 135.279 di antaranya turis asing. Jumlah pengunjung tersebut berkurang jika dibandingkan periode yang sama 2012 yang mencapai 368.857 orang terdiri atas 59.111 orang wisatawan dalam negeri dan 309.754 pelancong mancanegara.

Selama 2013, Museum Neka dikunjungi 42.003 orang dari sebelumnya hanya 39.335 orang. Lalu Museum Ratna Warta sebanyak 36.746 orang atau bertambah dari sebelumnya hanya 31.051 orang.

“Para kolektor dan pencinta seni lukis mancanegara paling senang mendatangi para seniman di Ubud untuk bisa menyaksikan hasil karya seni seniman tempo dulu maupun yang ada sekarang,” kata Made Badra.

Sementara itu Museum Bali di Denpasar yang menyimpan aneka barang etnografi sering menjadi lokasi penelitian mahasiswa. (sumber:kompas.com)

Melihat Keberadaan Curik Bali

4 April 2014   17 views

jalak-baliCURIK Bali (Leucopsar rothschildi) telah menjadi simbol atau perlambang yang sering diperlihatkan di Bali. Burung yang memiliki warna elok, kombinasi putih dan hitam pada ekornya, sering disebut oleh masyarakat Bali sebagai sebutan Kedis Putih atau Jalak Bali. Populasinya yang kian sedikit membuat upaya pemerintah lebih serius mempertahankan keberadaannya.

Penangkaran Tegal Bunder sering kali dijadikan sebagai kepentingan penelitian serta obyek pengenalan lingkungan oleh kalangan siswa dan mahasiswa. Selain itu, ada juga wisatawan yang menyukai kegiatan pengamatan burung di areal penangkaran ini.

Burung ini dapat disaksikan secara langsung dengan berjalan mengelilingi beberapa sangkar besar. Aktifitas ini seringkali dijadikan sebagai salah satu kegiatan wisata eco-tourism di Taman Nasional Bali Barat.

Di sini, sedikitnya terdapat ada dua lokasi penangkaran yakni di Kawasan Pura Segara Rupek dan Tegal Bunder di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Yang paling mudah dijangkau adalah tempat penangkaran di Tegal Bunder. Lokasinya bisa ditempuh dari Cekik hanya berjarak 8 kilometer melewati jalan utama dan jalan kawasan hutan.

Kawasan penangkaran tidak jauh dari perkampungan penduduk ini berdiri di atas lahan hutan rimbun yang memiliki luas sekitar 1 hektar hutan konservasi. Di sini bisa dijumpai berbagai bentuk kandang dan ukuran sebagai tempat kembang biak Curik Bali sebelum akhirnya dilepasliarkan ke alam bebas.

Kandang terbuka ini bisa dilihat menjadi beberapa perbedaan, antaranya bisa dijumpai kandang pembiakan, kandang penyapihan, kandang karantina, dan kandang pra-pelepasan. Untuk kandang pembiakan sendiri memiliki ukuran 2,5 meter sampai 3 meter serta mempunyai tinggi sekitar 2 meter sampai 3 meter.

Di dalam kandang pembiakan akan ada satu sampai empat pasang burung. Di kandang pembiakan inilah, anakan (piyik) yang telah dihasilkan secara alami oleh induknya kemudian dipisah untuk selanjutnya dibawa ke kandang penyapihan.

Kandang penyapihan berfungsi sebagai tempat memisahkan anakan (piyik) yang dihasilkan oleh setiap pasang curik bali di kandang pembiakan setelah sebelumnya dipelihara secara alami oleh induknya.

Telur yang menetas di dalam kandang pembiakan rata–rata bisa berjumlah antara 1-2 ekor anakan. Dalam pembiakan sangat dihindari perkawinan yang sedarah, apabila hal ini terjadi akan menghasilkan anakan yang tidak normal.

Di areal ini, Curik Bali sendiri juga bisa melakukan perjodohan secara alami, yakni bertemunya individu jantan dan betina yang bisa dilihat melalui perilaku seperti mereka bermesraan antara keduanya. Setelah terlihat cocok, oleh petugas yang merawat burung kemudian dimasukkan ke dalam kandang biakan.

Untuk pakan sendiri, petugas yang merawat burung hanya menyediakan pakan berupa sentrat, ulat, jangkrik, dan buah. Buah pisang dan papaya di upayakan sebagai pakan yang rutin diberikan oleh petugas agar burung tetap dalam keadaan sehat. Tempat makan dan minum diupayakan selalu tetap bersih agar tidak mudah didatangi oleh semut atau serangga sebagai pengganggu.

Saat ini, sudah terdapat jumlah keseluruhan 103 ekor curik bali khusus di penangkaran Tegal Bunder. Sedangkan untuk program pelepasliaran ke alam bebas hanya dapat dilakukan setahun sekali.

Meskipun letaknya telah dipagari besi dan kawat, gangguan tetap saja datang menghampiri kandang. Gangguan yang paling sering terjadi, adanya ular yang berhasil masuk di dalam kandang pembiakan untuk mencari anak (piyik) atau telor dalam sangkarnya. Hal ini sering terjadi di malam hari.

“Burung kerap memberi isyarat kalau ada gangguan, biasanya mereka ribut, kami sering melihat ada ular masuk terutamanya di malam hari. Bahkan, ada yang berhasil kami tangkap sambil memangsa burung,” ungkap Ketut Sukarta, petugas polisi hutan yang tengah berjaga.

Tiap hari, kawasan kandang dijaga oleh 4 orang personel polisi hutan. Dalam seminggu mereka bertugas secara bergiliran. Setiap bertugas mereka berjaga selama 2 x 24 jam. Selain petugas keamanan dari polisi hutan, tiap harinya kandang juga dirawat oleh petugas kebersihan yang sekaligus merawat keberadaan burung di penangkaran.

Apabila ada kunjungan ataupun penelitian, para petugas membatasi jumlah kunjungan yang dilakukan secara terbagi. Hal ini bertujuan agar keberadaan burung yang sebagian besar karakternya tidak jinak measa nyaman dan tidak terganggu oleh kehadiran pengunjung.

Karena menjadi bagian wilayah konservasi yang mutlak dilindungi oleh Taman Nasional Bali Barat, pengunjung hendaknya memperhatikan ketentuan–ketentuan memasuki lokasi. Misalnya, harus melapor terlebih dahulu ke pos petugas dan minta untuk didampingi oleh petugas atau pemandu dari Balai Taman Nasional Bali Barat.
(sumber: kompas.com)

Aneh Tapi Nyata, Ada Pemandian Air Soda Alami di Sumut

3 April 2014   21 views

kolam sodaPemandian air panas itu sudah biasa. Tapi di Desa Parbubu, Tapanuli Utara, Sumut Anda bisa mandi di Pemandian Air Soda. Airnya memang mirip soda, aneh tapi nyata dan hanya ada dua di dunia!

Bicara soal pemandian, di pikiran Anda pasti terlintas pemandian air panas di atas perbukitan yang sejuk. Tapi, Sumatera Utara punya Pemandian Air Soda yang bisa didatangi wisatawan untuk berendam dan bermain air di sana.

Dilongok dari situs resmi Kabupaten Tapanuli Utara, Kamis (3/4/2014) Pemandian Air Soda berada di Desa Parbubu, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Pemandian yang airnya seperti soda hanya ada di dunia, yakni di Venezuela, Amerika Selatan dan Sumatera Utara, Indonesia. Bangga bukan?

Pemandian Air Soda ini juga disebut Aek Rara. Sensasi mandi di air soda tentu berbeda dengan pemandian pada umumnya. Saat menyeburkan diri ke dalam airnya, tubuh Anda akan berasa seperti berbusa. Airnya juga tidak lengket saat tersentuh dengan kulit, terasa sedikit asin dan badan Anda seolah berasa halus dan ringan. Tapi ingat, cipratan airnya bakal membuat mata sedikit perih.

Sejarahnya air soda di sana pertama kali ditemukan oleh seorang bidan di Tapanuli Utara, O Tobing Sihite. Saat itu dia sedang mencangkul tanah dan tanpa sengaja keluar air dari dalam tanah. Begitu dirasa, ternyata air ini berbeda dengan rasa dan aroma yang mirip dengan soda. Kemudian di tahun 2004, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara meresmikan kolam air soda ini menjadi salah satu objek wisata.

Selain meraskaan mandi di air soda, Pemandian Air Soda ini juga berbatasan langsung dengan hamparan persawahan yang dikelilingi perbukitan Rura Silindung (Lembah Silindung). Artinya, ada pemandangan serba hijau yang menyejukan pandangan di depan mata!

Tiket masuk ke Pemandian Air Soda sekitar Rp 7.000. Jadi, kapan Anda bakal berendam di air soda yang hanya ada dua di dunia ini?
(sumber:detik.com)

Next Page »

PERSIB

Persib laporkan Sergio ke FIFA

Langkah tegas dilakukan Persib Bandung terkait kepergian mesin golnya musim lalu,... 

FERDINAND SINAGA : Pemain Terbaik Asia Tenggara Pekan Ini

Ferdinand Sinaga tengah dalam performa terbaik sebagaimana ia mencetak dua gol dan... 

Konate: Insya Allah Musim ini Persib Menang di Gresik

GRESIK United di kandangnya sulit dikalahkan Persib. Setidaknya itu terjadi di dua... 

Informasi Sebelumnya