Saung Angklung Udjo Butuh “Teman” untuk Kembangkan Pariwisata Jabar

27 January 2016

SAUNG UJO 270116Kunjungan wisatawan lokal ke Saung Angklung Udjo (SAU) setiap harinya mencapai 1.000 orang. Hal ini berbanding terbalik dengan kunjungan wisatawan manca negara.

“Kalau wisatawan asingnya sedikit,” ujar Direktur SAU, Taufik Hidayat Udjo kepada Kompas.com di Bandung, Selasa (26/1/2016).

Berbicara soal masalah ini tidak lepas dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menarik wisatawan mancanegara tersebut ke Jawa Barat.

Menurut penuturan beberapa turis, mereka enggan datang ke Jawa Barat yang terbilang mahal. Misalnya, ketika objek wisata Tangkuban Parahu menaikkan harga tiket masuk dari Rp 150.000 menjadi Rp 300.000 tahun lalu.

Turis dan agen travel mengeluhkan kenaikan tiket masuk ini, karena tidak dibarengi dengan peningkatan pelayanan yang berarti.

Padahal banyak tempat wisata di Jabar sangat indah, misalnya Green Canyon di Pangandaran. Namun untuk menuju ke sana, infrastrukturnya sangat buruk. Sehingga menghabiskan waktu dan tentunya biaya yang tinggi.

Kondisi ini membuat Jawa Barat hanya dijadikan daerah perlintasan yang bisa disinggahi ataupun dilewati begitu saja oleh para turis.

“Untuk mendatangkan turis asing ke SAU, kami butuh teman. Kami butuh mitra. Tidak mungkin turis asing ke Jabar hanya untuk ke SAU, itu terlalu mahal,” tuturnya.

Walaupun diakuinya, ada beberapa turis yang sengaja datang ke Jabar hanya untuk melihat pertunjukkan di SAU.

Seperti turis dari Belanda yang sudah datang ke SAU sebanyak 11 kali, atau turis Australia yang pada 2015 lalu datang ke SAU untuk ke-22 kalinya.

“Tempat wisata Jabar harus dibenahi. SAU tidak bisa sendiri. Kalau nanti SAU tidak ada, tamu mau ke mana lagi?” ujar Taufik.

Selama ini yang terlihat berkembang cukup pesat adalah wisata lokal, seperti di Kota Bandung. Bandung memiliki banyak tempat wisata baru seperti floating market, farm house dan lainnya.

(Kompas)

Terhipnotis Indahnya Air Terjun Maribaya

13 January 2016

MARIBAYAAir Terjun Maribaya adalah salah satu tujuan wisata yang berada di Lembang, Bandung. Lokasi air terjun ini sekitar 5 km dari Lembang. Namun jika Anda memulai perjalanan dari pusat Kota Bandung, Anda akan menempuh perjalanan sepanjang kurang lebih 15 km.

Jika Anda dari Lembang untuk sampai di Air Terjun Maribaya, Anda dapat menggunakan angkot menuju daerah Maribaya. Atau jika Anda menyukai treking, Anda dapat melakukan treking melalui Dago, lebih tepatnya dimulai dari Taman Hutan Raya Djuanda.
Lebih mudah memang jika Anda sudah berada di Lembang terlebih dahulu. Anda dapat naik angkot atau menggunakan kendaraan pribadi. Setelah perjalanan kira-kira 5 km, Anda akan menjumpai sebuah jembatan menuju Maribaya. Tidak jauh dari sana adalah tempat pembelian tiket masuk menuju kawasan wisata Air Terjun Maribaya.
Sesampainya di lokasi Air Terjun Maribaya, Anda akan dihipnotis dengan eksotika air terjun dan juga suasana pegunungan yang tenang dan juga sejuk. Di sini sangat cocok untuk bersantai bersama keluarga, apalagi ditemani jagung bakar atau ketan bakar. Di sekitar air terjun terdapat banyak penjual makanan semacam ini. Dijamin Anda akan mendapat liburan yang mengesankan dengan berkunjung ke Air Terjun Maribaya.
Selain menggunakan angkot, bagi Anda yang menyukai treking, Anda juga dapat melakukan aktivitas ini dengan diiringi pemandangan indah di sepanjang jalan menuju air terjun Maribaya. Apalagi jika Anda melakukan treking dengan jalur yang dimulai dari Taman Hutan Raya.
Sebelum sampai di Air Terjun Maribaya, Anda juga dapat melihat eksotika gua peninggalan Belanda dan juga Jepang. Sebuah tempat penuh misteri yang akan membuat Anda penasaran dan ingin mengetahuinya lebih jauh lagi. Setelah melewati kedua gua ini, Anda tinggal melakukan perjalanan melalui jalan setapak yang di sekelilingnya disuguhkan pemandangan indah.

(Metropolitan.id)

Ini Dia Tiga Gunung di Kabupaten Bogor yang Bisa Didaki Sehari, Pemandangannya Menkajubkan

6 January 2016

GUNUNG BOGORMendaki gunung, sering kali membutuhkan waktu berhari hari.
Jauhnya jarak tempuh untuk pendaki mencapai puncak, membuat beberapa gunung di Indonesia harus didaki dalam waktu berhari – hari.
Namun tidak dengan beberapa gunung ini, karena gunung ini bisa didaki hingga mencapai puncak hanya dengan waktu beberapa Jam saja.

Gunung-gunung yang terletak di Kabupaten Bogor ini, cocok didaki untuk orang-orang yang hanya memiliki libur satu hari saja.
Berikut 3 gunung di Bogor yang bisa didaki dalam waktu Sehari saja:

1. Puncak Lalana
Puncak Lalana terletak di Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Gunung ini memiliki ketinggian di Bawah 1000 Mdpl. Puncak Lalana termasuk kedalam pegunungan kapur Ciampea. Jalur pendakiannya memiliki kontur tanah merah serta vegetasi pepohonan yang masih rimbun.

Selain itu dijalur pendakian terdapat akar akar pohon yang merambat di tanah. Pemandangan Puncak Lalana berupa bebatuan karang serta barisan perbukitan. Untuk mendaki Puncak Lalana, pendaki hanya memerlukan waktu kurang dari dua jam.

Letak arah lokasi Puncak Lalana dari kantor Kecamatan Ciampea, anda mengambil jalan ke kiri, selanjutnya anda akan menemui jalan raya Cikampak. Setelah melewati jalan raya cikampak anda akan masuk menuju jalan raya Cibadak. Selanjutnya anda perhatikan sebelah kanan di sebrang jalan setalah anda melewati Jalan Raya Cibadak Km 14. Pada sebrang jalan tersebut anda akan melihat tulisan kecil bertuliskan Puncak Lalana. Dari situ anda hanya tinggal mengikuti jalan untuk menuju pendaftaran pos pendakian Puncak Lalana.

2. Gunung Munara
Gunung Munara berlokasi di Kampung Sawah Rumpin, Kabupaten Bogor Jawa Barat. Untuk mendaki Gunung munara hanya diperlukan waktu 1 jam untuk mencapai puncak. Jalur pendakian Gunung Munara tidak terlalu menanjak seperti pada jalur Puncak Lalana. Sepanjang jalur pendakian berdiri beberapa pedagang minunan dan mie instan.

GN MUNARABagi pendaki yang tidak ingin berat membawa perbekalan, anda bisa beristirahat sambil mengisi perut di warung warung tersebut.
Di Gunung Munara terdapat beberapa Gua yang konon menurut warga setempat itu merupakan petilasan orang orang hebat di Indonesia, diantaranya adalah petilasan Soekarno.
Di Puncak Gunung Munara anda bisa berfoto dari atas tebing yang biasa dipanjat menggunakan tali yang sudah diikat di tebing tersebut oleh pengelola.
Gumpalan awan serta hijaunya pepohonan bisa dinikmati pendaki saat sudah mencapai puncak.
Untuk menuju lokasi wisata Gunung Munara dari arah Kota Bogor, Anda bisa melintasi Jalan Raya Semplak
Selanjutnya saat di pertigaan Semplak arahkan kendaraan Anda menuju Bantar Kambing.

Dari jalur tersebut pengunjung hanya tinggal mengikuti jalan beton hingga sampai di Rumpin.
Sesampainya di rumpin pengunjung lihatlah sebelah kiri, di sana terdapat Gapura dan plang bertuliskan Situs Gunung Munara.
Untuk masuk ketempat wisata tersebut pengunjung harus membayar parkir sebesar Rp 5.000 untuk motor dan mobil Rp 10.000, dan untuk tiket masuk sebesar Rp. 5000.

3. Gunungbatu Bogor

Gunungbatu Bogor, lokasinya berada di Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Untuk menuju ke lokasi tersebut dari arah keluar Tol Sentul Barat, Anda belok kiri ke arah Jalan Pahlawan, Citeureup, Kabupaten Bogor
Selanjutnya pada setiap pertigaan Anda hanya tinggal mengikuti arah penunjuk jalan yang bertuliskan ‘Jonggol/Sukamakmur’.

GN BATUHarga tiket masuk Gunungbatubsebesar Rp. 5000 dan biaya parkir Motor sebear Rp. 10000.
Jalur pendakian Gunungbatu cukup menanjak, dan jalur pendakian pun licin.
Dijalur pendakian tersebut pendakibtidak akan menemui pepohonan rindang seperti yang ada pada jalur pendakian Gunungmunara dan Puncak Lalana.

 

Namun view dari atas puncak Gunungbatu tidak kalah menariknya dengan gunung gunung lain.
Dari atas puncak pendaki bisa menikmati pemandangan barisan perbukitan serta tebing tebing curam.

Bagaimana, anda tertarik untuk mendaki gunung gunung teesebut?
Jika anda tertarik mendaki gunung gunung tersebut, anda hanya tinggal berkunjung ke Kabupaten Bogor.
Meski Gunung gunung tersebut berada di ketinggian 1000 Mdpl, pendaki tetap harus mempersiapkan Mental, serta Fisik yang prima dan perbekalan yang memadai.

(Tribunnews Bogor)

Taman Teras Cikapundung Jadi Taman Favorit Baru Warga Bandung

5 January 2016

TAMANSagita juga merasa senang banyak taman yang dibangun di Kota Bandung. Ia pun mengaku, sudah beberapa taman yang pernah ia kunjungi, seperti Taman Alun-alun, Taman Lansia, Taman Jomlo.
“Saya sudah beberapa kali ke Teras Cikapundung, walau baru dibuka akhir Desember kemarin, karena dekat, saya tinggal di Cimuleit. Namun, tetap saja ingin ke sini, merasakan keindahan Teras Cikapundung, seru-seruan sama teman-teman sambil foto-foto,” ujarnya sambil tersenyum, di dekat Jembatan Teras Cikapundung.
Sagita menyayangkan, jika keindahan taman-taman yang sudah dibangun Pemerintah Kota Bandung ada yang merusaknya, seperti mencorat-coret dan membuang sampah sembarangan.
“Saya juga menyayangkan, di sebagian taman suka ada yang mengamen dan berjualan yang tidak beraturan. Sehingga mengurangi kenyamanan para pengunjung. Adapun di Teras Cikapundung hal tersebut tidak terlihat,” katanya.(cc)

Seiring banyaknya taman di Kota Bandung dengan desain yang unik, menarik, dan nyaman. Taman-taman tersebut bisa menjadi tempat berlibur tanpa mengeluarkan kocek untuk tiket masuk sepeserpun. Seperti tiga remaja cantik asal Kota Kembang yang memilih mengisi libur sekolahnya di Taman Teras Cikapundung yang berada di Jalan Siliwangi Kota Bandung.
Mereka adalah, Risma Novianty (16), Sagita Maila (16), dan Rohayni, (17), merupakan pelajar kelas sebelas SMK Bakti Mandiri, Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak.
“Di Teras Cikapundung ini suasana enak, nyaman, dan ramai, ada pepohonan dan Sungai Cikapundung, dipergunakan juga untuk naik perahu karet jika ada pengunjung yang menginnginkannya. Dengan kenyamanan itu makanya saya suka ke sini,” ujar Risma, di Teras Cikapundung.
Risma merasa seneng, banyak taman-taman yang dibangun di Kota Bandung, dengan tema-tema yang berbeda. Taman tersebut bisa dipergunakan, seperti untuk santai, berlibur, berkumpul, dan selfie.

“Lebihnya lagi, untuk merasakan keindahan taman tersebut gratis tidak dipungut kocek sepeserpun, cuman modal ongkos aja. Nah jadi orang yang boke juga bisa liburan,” ujarnya sambil tersenyum, yang disambut tawa oleh kedua temannya.
Taman Teras Cikapundung ramai dikunjungi pelancong ketika itu. Pasalnya, Taman tersebut sangat nyaman dan baru resmi dibuka beberapa hari lalu. Banyak spot yang bagus untuk berfoto, seperti di jembatan, di teras tempat duduk, di dinding yang berukirkan ikan, dan di depan kolam retensi yang terdapat patung kura-kura yang menyemburkan air.
Kenyamanan Teras Cikapundung ditambah saung-saung yang bisa dipergunakan untuk bersantai para pengunjung, selain di kursi dan tempat duduk yang ada.

(Tribunnews)

Menikmati Deretan Gunung dan Kuliner dari Puncak Ciumbuleuit

29 December 2015

kuliner-di-punclut_20151228_140428Liburan sekolah dan tahun baru masih berlanjut. Yuk keliling Kota Bandung yang memiliki banyak tempat-tempat unik dan bisa menjadi pilihan untuk berkumpul bersama keluarga, kerabat, atau teman.
Salah satu lokasi di Kota Bandung yang sudah cukup dikenal adalah Punclut. Meski begitu, ternyata masih ada yang belum tahu kalau Punclut itu merupakan singkatan dari Puncak Ciumbuleuit. Kebanyakan orang tahunya Punclut adalah sebuah lokasi kuliner khas Sunda yang berada di Ciumbuleuit.
“Punclut itu nama daerah yang banyak rumah makan khas Sunda. Itu lokasinya di Ciumbuleuit, dari Unpar terus ke atas,” kata Aprilia (32) warga Bogor yang sedang berkunjung ke Bandung.
Punclut memang lebih dikenal sebagai tempat kuliner yang berada di Utara Kota Bandung. Dari pusat kota untuk ke lokasi ini sekitar 7 kilometer. Bagi wisatawan dari luar kota Bandung, untuk menuju Punclut disarankan masuk melalui gate Pasteur. Dari Jalan dr Djundjunan, ambil arah ke Jalan Cipaganti dan saat bertemu di pertigaan Jalan Cipaganti dan Jalan Setiabudhi, ambil arah kanan menuju arah pertigaan Jalan Ciumbuleuit -Jalan Cihampelas. Sesampainya di pertigaan tersebut ambil arah Jalan Ciumbuleuit atau arah ke Universitas Parahyangan.
Dari jalan ini, terus sampai bertemu RS Salamun dan diseberangnya terdapat Jalan Bukit Raya. Inilah jalan untuk menuju lokasi wisata Punclut. Bagi Anda yang membawa kendaraan sendiri untuk berhati-hati karena jalan meski sudah beraspal masih terbilang sempit untuk dua arah. Selain itu, jalan cukup menanjal dan berkelok.
Saran penulis dan kebanyakan pengunjung, untuk mendatangi lokasi ini yang paling asyik di pagi, sore, atau malam hari. Karena dari atas, bisa melihat pemandangan pegunungan Malabar, Patuha, dan Waringin yang berada di Selatan Bandung. Bila langit sedang cerah, bisa terlihat landmark kota Bandung seperti Masjid Raya dan jembatan Pasupati.

(Tribunnews)

Citarik Kian Kondang di Mata Dunia

4 December 2015

citarikSungai Citarik di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sudah sejak lama terkenal menjadi obyek wisata andalan. Banyak wisatawan baik lokal maupun luar daerah bahkan dari luar negeri yang berlibur di sana.

Kedatangan wisatawan tersebut khusunya untuk menguji nyali dengan bermain arung jeram di Sungai Citarik. Dengan menggunakan perahu karet dan dipandu seorang pemandu para pengunjung diajak menyusuri aliran sungai dan jeram yang cukup menantang. Kini, lokasi tersebut bukan hanya menjadi obyek wisata melainkan lokasi kejuaraan dunia.

Di akhir November hingga Desember 2015, Sungai Citarik di Desa Cijambe, Kecamatan Cikidang, Sukabumi terpilih menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Arung Jeram atau World Rafting Championship/WRC) 2015.

Kejuaraan dunia kategori rafting 6 (R6) ini diikuti ratusan peserta yang berasal dari 23 negara di dunia. Mereka di antaranya berasal dari Amerika Serikat, Argentina, Brazil, Inggris, Rusia, Denmark, Turki, Italia, Indonesia, Perancis, Australia, Jepang, Malaysia, New Zealand, Costa Rica, Belanda, Kanada, dan Slovakia.

Pembukaan acara WRC 2015 dilakukan pada 30 Nopember di Alun-Alun Palabuhanratu. Dalam kesempatan tersebut ditampilkan kesenian khas Sukabumi Lisung Ngamuk di depan tamu undangan dan para peserta WRC yang berasal dari mancanegara.

“Lomba arung jeram ini dapat memajukan olahraga dan wisata secara sekaligus,’’ ujar Ketua Federasi Arung Jeram Indonesia (PB FAJI) yang juga Komandan Korps Marinir TNI AL Mayjen (Mar) Buyung Lalana saat membuka WRC 2015. Sehingga dalam momen tersebut Indonesia berupaya menjadi tuan rumah yang ramah.

Buyung menuturkan, para peserta arung jeram dari berbagai negara itu juga ingin melihat panorama alam dan keramahan warga Indonesia. Harapannya, ketika pulang ke negaranya masing-masing mereka mendapatkan kesan bahwa Indonesia negara yang ramah dan ingin kembali menyusuri Sungai Citarik dan sungai lainnya di Indonesia.

Citarik dipilih sebagai lokasi kejuaran dunia ungkap Buyung dikarenakan telah memenuhi standar internasional dan sudah teruji. Sebenarnya, ada daerah lainnya yang layak dan memenuhi kualifikasi itu, namun harus disempurnakan karena belum tersedianya sarana pendukung.

“Sementara di Citarik semua sarana pendukung sudah tersedia,’’ ujar Buyung. Terutama karena Citarik merupakan salah satu sungai dengan jeram terbaik di dunia untuk olahraga petualangan di air. Selain itu kondisi Sungai Citarik yang variatif dengan sejumlah jeram yang membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Panjang sungai Citarik sekitar 17 kilometer dan bermuara di Pelabuhanratu. Kondisi tersebut membuatnya sangat layak sebagai tempat ajang kejuaraan dunia. Bahkan, Citarik tidak kalah dengan kondisi sungai di Brasil atau Costa Rica maupun Selandia Baru yang menggelar kejuaraan dunia 2011 dan 2013.

Citarik juga dilengkapi sarana pendukung seperti ketersediaan sarana penginapan dan rumah makan. Saat ini ada sekitar lima perusahaan yang mengelola usaha wisata olahraga arung jeram di Citarik yakni Arus Liar, Bravo, Caldera, Kaki Langit, dan Selaras. Kelima pengelola arung jeram tersebut menyediakan penginapan dan makan bagi peserta WRC.

Penjabat Bupati Sukabumi Achadiat Supratman mengatakan, penyelenggaraan WRC 2015 di Citarik berdampak positif pada meningkatnya kunjungan wisatawan ke Sukabumi. “Harapan kita, obyek wisata dan olahraga arung jeram di Sukabumi makin dikenal di dunia,’’ terang dia.

Selain sukses sebagai tuan rumah yang ramah, Indonesia juga berupaya meraih prestasi dengan menjuarai ajang WRC di berbagai kategori.

Hasilnya, pada hari pertama lomba pada Selasa (1/12) tim Indonesia U-19 Putera berhasil meraih medali emas dalam kategori sprint.Tim Indonesia berada pada posisi pertama mengalahkan Inggris dan Rusia yang menempati juara kedua dan ketiga.

Rinciannya, Indonesia mencatatkan waktu terbaik yaitu 1 menit 41,39 detik, diurutan kedua dari Inggris dengan waktu 1 menit 42,85 detik dan diurutan ketiga dari Rusia dengan waktu 1 menit 43,06 detik.

Selain emas, tim Indonesia meraih empat medali perunggu atau juara ketiga dalam ketegori head to head kategori U-23 Putera-Puteri serta U-19 Putera-Puteri.

“Kami sangat bersyukur bisa mempersembahkan medali emas untuk Indonesia,’’ ujar pelatih tim arung jeram Indonesia U-19 Putera dan Puteri Aceng Supendi.

Prestasi ini merupakan untuk pertama kalinya tim arung jeram Indonesia meraih emas dalam kategori sprint putera U-19. Menurut Aceng, prestasi tersebut diperoleh tim arung jeram setelah melakukan latihan yang cukup padat. Sehingga akhirnya diperoleh hasil yang terbaik dalam ajang kejuaran dunia arung jeram yang diikuti 23 negara di dunia.

(Republika)

Menikmati Keindahan Purwakarta dari Gunung Bongkok

28 November 2015

gunung bongkokMampir ke Purwakarta tak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi Gunung Bongkok. Gunung Bongkok merupakan gunung batu yang terletak di Desa Cikandang, Purwakarta. Dengan ketinggian 975 mdpl, Gunung Bongkok sangat cocok bagi pendaki pemula.

Dalam perjalanan yang ke Gunung Bongkok, Sindonews menyaksikan pemandangan yang luar biasa indah. Melalui dua puncak Gunung Bongkok, Puncak Batu Tumpuk dan Puncak Datar, Anda bisa dinikmati pemandangan keindahan waduk Jatiluhur dan Gunung Parang yang berada sejajar dengan Gunung Bongkok.

Selain itu juga bisa melihat wilayah di sekitar Purwakarta. Sayangnya, Puncak Batu Tumpuk hanya dapat menampung 30 orang. Untuk itu, pastikan Anda berhati-hati.

Meski hanya memiliki ketinggian 975 mdpl, Gunung Bongkok memiliki jalur pendakian yang cukup terjal. Namun, Anda tidak perlu khawatir. Pasalnya, Gunung Bongkok dikelola secara resmi dan terdapat tali yang bisa membantu dalam melakukan pendakian.

Pastikan juga Anda mendaki di waktu yang tepat. Umumnya, wisatawan akan datang pada Sabtu sore atau malam dan berkemah di pos Munclu. Sementara itu, pendakian akan dilakukan pagi hari.

Jika tidak membawa tenda, pengelola menyediakan dua saung di atas dan di bawah pohon yang dapat Anda sewa dengan harga Rp10 ribu. Sebaiknya, melakukan pendakian di hari-hari kerja. Sebab, saat hari libur jumlah pendaki sangat banyak, sehingga tidak ada tempat untuk mendirikan tenda.

Uniknya, warga setempat siap menjadi porter atau pemandu selama berwisata. Bahkan, mereka juga akan menyediakan makanan dengan menu ikan atau ayam bakar. Tidak hanya itu, Anda juga bisa memesan perbekalan oleh warga sekitar.

Gunung Bongkok dapat ditempuh dengan waktu 1 hingga 1,5 jam. Ada beberapa titik yang perlu diwaspadai, yaitu di tanjakan 700 mdpl, tanjakan 800 mdpl dan tanjakan 950 mdpl. Dan jika hujan, jalur pendakian tersebut sangat licin.

Untuk akses menuju Gunung Bongkok, Anda dapat menggunakan kereta dari Stasiun Jakarta Kota menuju Purwakarta dan melanjutkan perjalanan menuju Plered dengan menggunakan angkutan umum dua kali.

Dari Plered, Anda harus melanjutkan perjalanan menuju Cikandang dengan menggunakan angkutan umum. Selanjutnya, untuk menuju pos Munclu, Anda dapat berjalan kaki kurang lebih 15 sampai 30 menit.

(Sindonews)

Gua Rangko Nan Indah yang Belum Siap Terima Wisatawan

26 November 2015

Kolam-Gua-RangkoObyek wisata Goa Rangko di Desa Rangko, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur tengah ramai diperbincangkan di media sosial yakni Instagram.

Bagai oase di terik matahari yang menyinari daratan penghubung menuju Pulau Komodo, obyek wisata Goa Rangko mencuat sebagai tempat wisata alternatif.

Seorang pengguna Instagram, Rizal Agustin dengan akun @mrizag menceritakan perjalanannya menuju Goa Rangko beberapa hari lalu kepada KompasTravel.

Pertama kali ia mengetahui keberadaan Goa Rangko yakni melalui sebuah postingan foto Gua Rangko di Instagram. Berbekal informasi dari Instagram dan juga dari seorang teman dari Manggarai Barat, ia kemudian berangkat.

Rizal tak sendiri menuju Goa Rangko. Ia datang bersama dua orang temannya. Satu dari Bengkulu dan lainnya dari Labuhan Bajo. Dari tengah kota, ia pergi menyusuri jalan menuju titik penyeberangan menggunakan perahu sebelum mencapai Goa Rangko.

Sepeda motor yang ia gunakan diarahkan ke dekat obyek wisata Gua Batu Cermin. Dari sebuah pantai di dekat obyek wisata goa tersebut, Rizal akan menyeberang.

“Di pantai, saya pergi menumpang naik kapal nelayan,” tutur Rizal.

Kapal-kapal berjajar di pantai yang entah tak ia ketahui namanya. Kapal-kapal tersebut pada akhirnya ia ketahui dari pemilik kapal yang ia tumpangi, yakni sebagai alat transportasi penduduk Desa Rangko.

Biasanya, kapal-kapal nelayan tersebut hanya menyeberang dari Desa Rangko ke dekat Desa Batu Cermin satu kali sehari. Kapal dengan kapasitas lima orang yang ia tumpangi belum juga mulai berlayar membelah laut.

Deru mesin diesel penggerak kapal mulai memenuhi telinga Rizal. Kapal yang ia tumpangi mulai meninggalkan pantai.

Sebelumnya, sempat ia menunggu lama menunggu karena kapal belum juga penuh. Dengan demikian, perjalanan yang biasanya dapat ditempuh selama 30 menit, ia tempuh selama 45 menit.

Beruntung kapal yang ia tumpangi dapat merapat di pantai. Rizal mengatakan jika menurut informasi yang ia dapat, terkadang kapal tak bisa merapat karena air surut dan rawan karam. Lalu, ia mulai meninggalkan laut untuk segera melanjutkan perjalanan menuju mulut gua.

Ia kisahkan jika rute yang dilewati sedang kering. Tanah tiada gembur. Pohon-pohon hanya menyisakan sedikit dedaunan hijau. Rizal segera menelusuri jalan hingga akhirnya sampai ke mulut gua.

“Kira-kira saya jalan 5 menit. Langsung ketemu bibir goa,” jelasnya.

Ketika tiba di mulut goa, kolam dengan air biru telah terlihat. Ia tak mengalami kesulitan untuk menemukan tempat tersebut. Tak ada wisatawan lain yang ada di dalam Goa Rangko selain ia bersama rekan perjalanannya. Kolam tersebut seperti milik pribadi.

Ia segera menceburkan diri. Tak dapat ia menapak kakinya ke dasar kolam. Rizal menceritakan kedalaman kolam tersebut tak terukur karena pengaruh pasang surut air laut.

Menurutnya, Goa Rangko tersebut terletak di dekat pantai sehingga juga air kolam terasa agak asin. Dari kolam tersebut, ke mulut gua berjarak sekitar dua-tiga meter.

Potensi wisata serta tantangan

Keberadaan Goa Rangko menjadi satu potensi obyek wisata yang dapat dikembangkan karena belum terjamah. Sebelumnya telah populer wisata goa di Labuan Bajo yakni Goa Batu Cermin. Namun, Goa Batu Cermin seperti hidup segan mati tak mau. Rizal mengatakan Goa Rangko telah menjadi rekomendasi tempat wisata dari warga lokal.

“Teman-teman lokal (Labuan Bajo) sih promosiinnya Goa Rangko. Bisa jadi alternatif wisata selain ke Pulau Komodo,” beber Rizal.

Setelah berwisata ke Goa Rangko, Rizal menyebutkan atraksi wisata yang dapat dilakukan di Goa Rangko seperti berfoto, berenang, hingga belajar tentang ornamen goa.

Namun tantangan pengembangan wisata Goa Rangko yakni infrastruktur. Transportasi menjadi hal yang pertama disebutkan oleh penggiat Instagram tersebut. Menurut pengalamannya, ia hanya dapat menuju ke Goa Rangko dengan menumpang kapal nelayan.

“Saya carter 200 ribu rupiah untuk pulang pergi. Untuk sekarang sih belum siap kalau bawa wisatawan pakai kapal,” tambahnya.

Ia mengatakan jika untuk menuju pinggir pantai di Desa Rangko, belum ada jasa kapal nelayan yang siap mengantarkan. Perahu-perahu hanya ada dan siap mengantarkan sekaligus masyarakat desa pergi ke kota.

Sementara untuk petunjuk jalan menuju Goa Rangko juga masih belum tersedia untuk para wisatawan. Namun meski demikian, para masyarakat Labuan Bajo telah mengetahui keberadaan Goa Rangko.

Pemandu wisata di Labuan Bajo, Krisna Soemarsono Adi Broto mengatakan jika Goa Rangko merupakan tempat wisata baru yang dapat dikunjungi. Ia pun mengakui kesulitan jika wisatawan ingin menuju ke Goa Rangko karena kendala transportasi.

“Dari bandara (Komodo) sekitar satu jam. Gak ada kendaraan umum, mesti sewa mobil atau motor. Jalan ke sana masih berbatu,” ungkap dia.

Akrab disapa Kris, ia mengatakan kepada KompasTravel, kapal yang ingin merapat kesulitan bersandar karena laut yang dangkal. Bahkan, hampir dengan pantai di Desa Rangko tersebut, wisatawan harus berenang jika air sedang surut.

(kompas.com)

Taman Tersembunyi di Karst Cibinong

14 November 2015

gua garunggangDI antara kerusakan alam yang ditimbulkan industri di muka bumi Kabupaten Bogor, ternyata masih tersimpan keindahan tersembunyi Karst Cibinong. Suatu keharusan mendatangi lokasi nan aduhai yang terpencil ini sebelum dijamah dan dihancurkan oleh industri.

Semua berawal dari laman media sosial Facebook yang mengabarkan keindahan dan keunikan Gua Garunggang di dekat Kampung Cigobang, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Tempat itu diibaratkan bagai Jurassic Park atau Grand Canyon mini. Perbandingan yang terasa amat berlebihan, tetapi sukses menggugah rasa penasaran.

Pada awalnya, info tentang tempat tersebut, termasuk rute perjalanan menuju ke sana, sangat minim. Yang diketahui hanyalah lokasi Desa Karang Tengah itu berbatasan dengan taman rekreasi Jungleland dan Taman Wisata Alam Gunung Pancar yang selama ini sudah cukup dikenal.

Beberapa tulisan lain di blog menceritakan, Gua Garunggang hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki, bersepeda gunung, atau menggunakan motor trail karena kondisi jalan setapak menuju ke sana yang agak ekstrem.

Informasi lain menyebut Gua Garunggang juga bisa diakses dari Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. Tajur dan Karang Tengah saling berbatasan.

Pada 22 Oktober lalu, Kompas dan dua rekan jurnalis lain dari Bogor memutuskan mengambil rute berangkat lewat Karang Tengah dan pulang lewat Tajur.

Kami menggunakan sepeda motor bebek yang kemudian terbukti kurang cocok untuk melibas medan ekstrem menuju ke sana. Tak heran, selepas perjalanan, sepeda motor langsung masuk bengkel untuk perbaikan dan perawatan.

Menantang

Untuk menuju rute Karang Tengah ini, dari Jakarta kita bisa menggunakan mobil melalui Jalan Tol Jagorawi dan keluar di Gerbang Tol Sentul Selatan. Setelah itu, susuri jalan raya Sentul City sampai pos jaga masuk Jungleland.

Di sebelah kanan ada ruas aspal yang agak sempit, yakni Jalan Gunung Pancar. Ambil rute itu sampai simpang tiga pertama. Di sana, ambil rute kiri atau Jalan Babakan, susuri sampai bertemu satu gang atau jalan kecil dari semen ke Kampung Cigobang.

Gang itu memang tidak bertanda. Jadi, jangan ragu dan malu bertanya kepada penduduk setempat bagaimana menuju Gua Garunggang lewat Kampung Cigobang.

gua garunggang 2Di titik ini, mobil tak bisa lagi melanjutkan perjalanan dan harus dititipkan di pelataran warung atau diparkir di tepi jalan. Setelah itu, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki sejauh 4-5 kilometer menuju Gua Garunggang.

Dengan sepeda motor, gang-gang di Cigobang masih mudah dilewati. Namun, kondisi medan dari Cigobang ke gua itu sempat membuat cemas. Kami harus sedikit memaksakan kemampuan motor bebek melalui jalan setapak di tepi jurang menembus perbukitan hutan Perhutani, ladang, dan kebun penduduk.

Meniti jalan di tepi jurang harus dengan laju amat pelan. Kalau sembrono bisa terjungkal ke jurang bersemak. Jalan setapak menuju gua ini lebih cocok dilahap dengan sepeda motor trail atau sepeda gunung.

Perjalanan menggunakan sepeda motor dari Cigobang ke Gua Garunggang perlu waktu hampir 1 jam. Jika berjalan kaki mungkin butuh 2 jam.

Masih tradisional

Setelah dihajar medan berat, berdebu, dan panas terik, kami sampai di suatu kawasan dengan hamparan dinding batu. Ada lima pondok dari kayu dan bambu di sana. Di lokasi juga ada beberapa kotak sampah berlogo Pemerintah Kota Depok, bukan Pemerintah Kabupaten Bogor.

Di sana ada semacam taman yang telah ditata. Itu terlihat dari keberadaan struktur dari batu untuk meja dan kursi. Di sekeliling batu-batu yang disusun dan ditata ada berbagai tanaman bunga dan pohon serta pondok istirahat.

Di sekitarnya adalah hamparan dinding batu dan sejumlah pohon rindang. Kawasan seluas sekitar 1 hektar itu lumayan adem. Sampah masih sedikit karena gua itu belum menjadi obyek wisata massal.

Di sana, kami bertemu dengan pasangan Ajum (70) dan Acih (60) serta warga bernama Umar (45).

Menurut Ajum, Gua Garunggang lumayan ramai dikunjungi pada akhir pekan atau hari libur. Kalangan penyusur gua atau pencinta alam doyan berkemah di pelataran di antara dinding batu itu. Di sana ada lima gua yang bisa dimasuki. Kami masuk ke salah satu gua tersebut.

Untuk menuju pintu gua kami harus menuruni tangga tradisional dari bambu. Dari pintu gua kami masih menyusuri jalan menurun 6-8 meter sebelum jalur melandai menjadi horizontal. Menurut Ajum, jalur mendatar itu menjorok sampai lebih dari 200 meter ke dalam.

Bagian dalam gua berupa rongga yang luas dan gelap. Setelah lampu senter dinyalakan, terlihat hamparan stalaktit dan stalagmit indah. Permukaan lantai terasa licin dan basah serta tercium bau kotoran kelelawar.

Menikmati keindahan gua, hamparan dinding batu, dan lokasi yang masih asri, sunyi, dan terpencil, seakan membayar lelah serta cemas selama perjalanan.

Bagi kami, Gua Garunggang adalah sepetak taman yang indah yang seakan tersembunyi, sulit dijangkau, tetapi layak didatangi oleh mereka yang memuja keindahan sang alam.

Bagi Ajum, bapak dari 11 anak, Gua Garunggang adalah kebun menanam kopi, keluak, jambu, dan petai. Ajum tahu dan paham, Gua Garunggang berada di tanah negara. ”Saya cuma ngegarap buat makan keluarga,” katanya dengan ramah.

Kawasan ini sempat hendak dikelola oleh seorang warga Depok. Namun, ada masalah yang membuat pengelolaan Gua Garunggang belum profesional.

Di Kampung Cigobang memang ada loket, tetapi tidak berpenjaga resmi. Loket itu berada di awal jalan setapak menuju gua. Sebelum pulang, kami meninggalkan sedikit uang kepada Ajum sebagai penyemangat agar terus menjaga dan memelihara kawasan gua tersebut.

Potensi

Garunggang merupakan salah satu gua di rangkaian Karst Cibinong yang diperkirakan mencakup Cibinong, Citeureup, Klapanunggal, Sukamakmur, dan Jonggol. Secara geografis, kawasan itu membentang dari tengah ke timur Kabupaten Bogor.

Kabarnya, susur gua di Karst Cibinong sudah ada sejak era 1980-an dan sudah lebih dari 25 gua disusuri para peneliti atau pencinta alam. Namun, keindahan Gua Garunggang baru populer setahun belakangan ini, terutama setelah sejumlah pengunjung mengunggah foto-foto gua ini di media sosial.

Ada beberapa gua yang lebih dulu populer, antara lain Gua Keraton, Gua Kambing, Gua Cikenceng, serta Gua Cikaray di Citeureup dan Klapanunggal.

Namun, keberadaan gua-gua ini terancam sejak ada industri semen skala besar beroperasi di kawasan Karst Cibinong. Sampai kapan gua-gua itu akan selamat dari jangkauan mesin-mesin produksi?

Persiapan khusus

Meski berkunjung ke gua ini menjadi petualangan yang mengasyikkan, tetap ada beberapa hal yang harus diperhatikan para calon pengunjung. Sekali lagi, gua ini bukanlah tempat yang sudah dibuka dan dikelola sebagai obyek wisata secara profesional.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bawalah bekal makanan dan minuman yang cukup. Di lokasi gua atau jalur menuju ke sana tak ada warung makanan atau minuman. Jangan lupa pula bawa perlengkapan P3K yang cukup.

Jika mau menginap, bawalah tenda dan perlengkapan memasak serta air yang cukup. Di lokasi gua sulit mendapatkan air bersih. Sungai terdekat katanya satu jam jalan kaki dan saat kemarau bisa saja kering.

Jika berniat menyusuri gua sampai jauh, bawalah pakaian, peralatan, dan perlengkapan kegiatan yang memadai.

Selain kelelawar, di dalam gua bisa saja ketemu laba-laba atau serangga lain, seperti kalacuka dan kalacemeti. Reptil juga ada dan mungkin saja berbahaya, seperti karakteristik fauna kawasan karst.

Alat transportasi menuju ke lokasi juga perlu perhatian khusus. Kami sarankan menuju lokasi dengan mobil medan ekstrem dan bawalah sepeda gunung atau sepeda motor trail. Bertualang memang mengasyikkan, tetapi keselamatan tetap harus menjadi yang utama!

(kompas.com)

Curug Putri Kencana Bogor, Mitos Suara Wanita Setiap Malam Jumat

22 October 2015

CURUG 1Air terjun (Curug) Putri Kencana menawarkan kesejukan alam nan mempesona.

Barisan sawah akan terlihat saat pengunjung mulai memasuki kawasan Curug Puteri Kencana.

Selain itu rimbunnya pepohonan serta suasana pedesaan melekat pada tempat tersebut.

Curug yang terletak di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat ini memiliki mitos yang menarik.

Konon Prabu kencana sering bertapa di tempat ini dan setiap malam kamis warga sering mendengar suara perempuan rami di Curug Puteri Kencana.
CURUG 2

“Kata orang tua dulu mah, Prabu kencana teh sok tapa didieu (bertapa disini). Terus setiap malam Kamis warga dulu suka mendengar ada suara perempuan di tengah curug,” kata petugas parkir di kawasan wisata Curug Putri Kencana.

Meski demikian pengunjung tetap asyik menikmati dinginnya Curug Putri Kencana sambil berfoto-foto.

“Sini selfi ih,”ucap seorang gadis kepada teman pria nya.

(Tribunnews bogor)

Next Page »