web analytics

Liburan di Wisata Pantai Rancabuaya Garut

15 October 2014   2 views

buaya 1Wisata Pantai Rancabuaya Garut – memiliki potensi yang luar biasa untuk dijadikan tujuan wisatawan, namun Pantai Rancabuaya memang kurang promosi sehingga kurang begitu terkenal.

Wisata Pantai Di Indonesia yang satu ini memiliki batu-batu karang besar dan langsung berbatasan dengan Samudera Hindia sehingga memiliki ombak yang sangat besar. Pantai ini memiliki terumbu karang yang cukup besar, bahkan di pantai ini terdapat tebing yang cukup besar.

Hal inilah yang membuat pantai ini berbeda dari pantai yang lainnya dan menjadi salah satu Objek Wisata Terindah Di Indonesia, berbatasan langsung dengan samudra hindia dan memiliki karakter ombak yang besar, rata-rata tinggi gelombang kurang lebih 1 meter dan material dasar laut berupa pasir halus, batu karang, dan pasir kasar termasuk daerah sepanjang garis pantai.

Kemiringan laut landai, serta ditumbuhi rumput laut dan gang gang hijau sebagai flora laut dominan. Sedangkan fauna laut dominannya adalah ikan tuna dan ikan karang.

 

buaya 2

buaya 3
Keistimewaan & Fasilitas Pantai Rancabuaya

Yang membuat pantai ini tampil lebih istimewa adalah karna adanya air terjun atau curug yang menghadap ke pantai, pemandangan tersebut memang sangat luar biasa, dan sangat cocok buat anda yang sedang berwisata bulan madu, selain itu pengunjung juga bisa melihat ikan kecil yang berada di sela-sela karang yang terbawa arus.

Untuk fasilitas yang di tawarkan yaitu memiliki pasir putih yang halus dan bersih, memiliki tingkat abrasi yang kecil. Wilayah sekitar pantai juga di tumbuhi oleh pohon ketapang dan kelapa. Luas pantai ini mencapai 1.525 ha. Pengunjung bisa melakukan banyak aktifitas wisata, salah satunya hiking atau tracking, fasilitas lainnya adalah sebagai berikut :

> Lesehan khas yang ada di pesisir pantai yang jumlahnya bisa terbilang cukup banyak.
> Akses jalan yang mudah.
> Podokan yang bisa disewa
> lahan untuk parkir kendaraan yang cukup luas dan aman.
> Saung-saung wisata yang disewakan

Lokasi Pantai Rancabuaya Garut

Pantai rancabuaya terletak di Kabupaten garut, Jawa barat. Jarak kawasan Rancabuaya dari Ibu Bandung adalah 167 km, jarak dari Garut Kota adalah 105 km, dan jarak dari Kecamatan Caringin adalah 30 km. sedangkan tranportasi yang dapat digunakan untuk menuju ke pantai ini adalah dengan menggunakan minibus.

(travel guide info)

Gunung Bunder

14 October 2014   3 views

gn bunderGunung bunder merupakan tujuan destinasi wisata alam yang cukup populer di kota bogor, letaknya di daratan tinggi rata rata hampir mencapai 900 m dpl, kesejukan udara dan indanya panorama alam merupakan daya tarik utama yang ditawarakan tempat wisata satu ini, lokasi tak begitu jauh dari kota bogor serta kawasan jakarta sehingga mudah untuk di capai, bagi pencinta alam, gunung bunder banyak dijadikan sebagai kegiatan tempat mereka berkemah dan bermalam, tak hanya dingin dan rapatnya pinus saja yang akan parawisatawan temukan, tapi keindahan khas lanskap daratan tinggi berupa beberapa air terjun atau curug yang memiliki keunikan masing masing dengan beragam ketinggian dan lokasinya tak jauh dari  gunung bunder.

Beberapa curug (air terjun) di Gunung Bunder diantaranya adalah Curug Cihurang, Curug Ngumpet, Curug Cigamea, dan Curug Seribu. Semua curug tersebut terletak dekat dengan jalan raya sehingga mudah dijangkau. Untuk menuju Kawah Ratu, pengunjung harus melakukan trekkingsejauh 14 kilometer dari Bumi Perkemahan Gunung Bunder. Jika Anda ingin melakukan perjalanan ke sana, kalau dari arah kota Bogor Baranang Siang lalu menuju IPB dan terus lurus, kemudian Anda belok ke Cikampak atau dari arah Cibatok. Di sana Anda akan bertemu dengan Kecamatan Pamijahan, Bogor.
Untuk kegiatan wisata alam digunung bunder, bercamping menikmati suasana alam sekitar dengan hangatnya perapian ditemani rerimbunan hutan pinus nampak menjadi kegiatan umum yang dilakukan para pecinta alam, dan bagi wisatawan yang ingin menuju curug yang ada di gunung bunder terdapat beberapa tempat pilihan yang mungkin anda sambangi, seperti curug ngumpet, curug cihurang, curug cadas ngampar, curug cigamea dan untuk curug seribu dibutuhkan setamina fisik untuk mencapainya paling tidak wisatawan harus melewati jalan setapak hingga satu jam, namun keindahan tentunya akan berbeda curug ini memiliki tinggi vertikal hingga mencapai 100 meter dengan debit air yang cukup deras.tersedia fasilitas outbound. Anda juga rute treking dan hiking yang bisa ditelusuri untuk menuju berbagai air terjun di kawasan ini.
bagi fasilitas villa dan penginapan lainnya kawasan wisata gunung bunder cukup lengkap dan menyediakan view yang menarik beberapa fasilitas lainnya berada di kaki gunung salak dengan menghadap langsung ke arah gunung salak, dan untuk fasilitas di kawasan wisata di area sekitar curug beberapa dilingkapi dengan area parkir dan kondisi jalan yang cukup bagus.
Alamat:
kecamatan Pamijahan,Ciampea Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

(bogor.net)

Festival Seni Budaya Pesisiran Digelar di Cirebon

10 October 2014   2 views

cirebon 1Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) resmi membuka Festival Seni dan Budaya Pesisiran, dan Haul Sunan Gunung Jati ke-461, di Bangsal Pagelaran, Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Rabu (8/10/2014). Festival Seni Budaya yang diikuti lima provinsi itu akan berlangsung selama lima hari.

Sebelum pembukaan, rombongan Kemenparekraf, Kesultanan Kasepuhan, perwakilan lima provinsi, serta Pemerintah Daerah Kota Cirebon, diarak dengan genjring Cirebon dari dalam Keraton, ke Bangsal Pagelaran. Mereka disambut dua tarian khas Cirebon, pakung wati, dan Tari Topeng Kelana.

Dalam sambutannya, Sultan Sepuh ke XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, menyebutkan, Festival Seni Dan Budaya Pesisiran yang diikuti lima provinsi sudah dinanti sejak lama. Festival Seni Budaya digelar untuk terus meningkatkan nilai seni dan budaya di Nusantara.

“Kami berusaha, potensi seni dan budaya yang dimiliki, dijadikan sebagai inspirasi untuk membangun kesatuan bangsa, menciptakan ekonomi kreatif, dan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dan inilah sebagai tujuan dari bangsa Indonesia ini,” kata Arief.
Di depan hadirin, Arief berharap kepada Kemenparekraf agar Festival Seni dan Budaya Pesisiran dapat dijadikan agenda tahunan.

Dirjen Ekonomi Kreatif Seni Dan Budaya Kemenparekraf, Ahmansyah, menyampaikan pemilihan Cirebon sebagai tuan rumah, lantaran Cirebon memiliki banyak keraton, dan kekayaan seni, budaya, dan juga peninggalan sejarah yang cukup banyak.

Selain itu, beberapa unsur dari 15 kategori ekonomi kreatif juga dimiliki Cirebon. “Jadi kalau wisatawan, datang ke Cirebon, tidak mencoba empal gentong, tahu gejrot, dan terasi khas Cirebon, dijamin, akan menyesal seumur hidup,” katanya disambut riuh hadirin.

Secara esensi, Cirebon sejak dulu menjadi pusat perdagangan, dan asimilasi berbagai macam kebudayaan. Maka dari itu, kekayaaan nilai sejarah di Cirebon, dapat dijadikan parameter dari daerah-daerah lainnya.  Persoalannya adalah, bagaimana meneruskan budaya-budaya ini pada generasi penerus.

cirebon 2
Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang akan menjadi bahan pembahasan saresehan Festival Seni Budaya Pesisiran. “Termasuk di dalamnya reinventarisasi untuk memberikan edukasi kepada seluruh pihak, bahwa Cirebon memiliki kekayaan budaya yang tinggi,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Ahmansyah menyetujui permintaaan Sultan Kasepuhan untuk menjadikan Festival Seni Budaa Pesisiran sebagai agenda tahunan. Bahkan, tahun mendatang diagendakan lebih dari lima provinsi yang akan turut meramaikan festival seni dan budaya pesisiran.

Festival seni dan Budaya Pesisiran berlangsung selama empat hari, 7–10 Oktober 2014, yang berlokasi di Keraton Kasepuhan Cirebon. Lima provinsi yakni Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, akan menampilkan kesenian, kebudayaan, dan kreatifitas lokal setempat.

Beberapa penampilan Festival Seni Budaya Pesisiran yang dijadwalkan antara lain, Samba Sunda (Jawa Barat), Tari Ngancak Balo (Jawa Tengah), Ngamen Lenggeran (Jawa Timur), Tari Pamanah Rasa Pandeglang (Banten), dan lainnya. Festival pun diisi dengan lomba-lomba tradisional daerah.

(kompas)

Batuan Situs Gunung Padang Hasil Letusan Gunung Api Purba

8 October 2014   20 views

gn padangMisteri situs purbakala Gunung Padang hingga saat ini belum terkuak jelas. Namun, Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran, Prof. Dr. Adjat Sudrajat, memaparkan, Gunung Padang terbentuk dari letusan gunung api purba Karyamukti lebih dari 10.000 tahun lalu.

“Gunung Padang tidak terlepas sebagai rangkaian gunung api-gunung api aktif di Indonesia. Karena sudah istirahat lebih dari 10.000 tahun maka gunung ini tidak akan menimbulkan bahaya,” kata Adjat dalam Seminar Nasional ‘Situs Gunung Padang dan Permasalahannya’ di Aula PSBJ Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (7/10/2014).

Adjat membantah hasil riset yang dilakukan oleh TTRM (Tim Terpadu Riset Mandiri) Gunung Padang yang menyebutkan batuan di Gunung Padang sengaja dibawa dari luar lokasi dan disusun menjadi piramida yang saat ini masih ditelusuri kebenarannya.

Menurut dia, batuan berjenis basalt dan andesit itu asli dari Gunung Padang yang terbentuk dari hasil letusan gunung api purba.

“Batuan yang dihasilkan bisa batuan lepas atau padat. Di negara kita letusan akan menghasilkan batuan andesit dan tidak akan membentuk lava cair seperti produk gunung api di Hawai karena gunung api kita berada di jalur andesit,” tuturnya.

Dari hasil penelitian, batu-batu balok dan tiang yang terususun di Gunung Padang sebenarnya adalah murni dari alam yang sebagian kecilnya dibentuk oleh masyarakat purbakala setempat yang menghuni lokasi tersebut. Mereka membuat tempat pemujaan berupa punden berundak.

Dalam ilmu geologi, fenomena bentukan batuan tersebut dikenal dengan nama Columnar Jointing. bentuk batu tersebut bukan kubus balok melainkan heksagonal.

“Bentuk kolom-kolom heksagonal pada batuan vulkanik pejal adalah proses alam. Di antara tumpukan lava bisa terdapat endapan abu dan pasir,” ungkapnya.

Pendapat Adjat pun didukung oleh peneliti dari Badan Geologi, Prof. Sutikno Bronto. Menurut dia, batu-batu columnar jointing yang ada di Gunung Padang adalah hasil letusan yang akhirnya mengeras dan menyumbat lava gunung api purba.

“Jadi Gunung Padang adalah undakan yang terususun oleh bongkahan lepas batuan kolom andesit basalt. Batuan gunung padang adalah sumbat leher gunung api purba Karyamukti,” tegasnya.

Bentukan batu tersusun di Gunung Padang bukan satu-satunya di Indonesia. Susunan bongkahan batu-batu columnar jointing yang menyerupai balok-balok hexagonal serupa, tidak sulit ditemui di wilayah lain seperti menhir di Kabupaten Ngada, Bajawa, Flores dan beberapa tempat di Chideung, Lembang, Jawa Barat.

(kompas)

Ke Cianjur-Sukabumi dengan Ular Besi

7 October 2014   2 views

sukabumi 1mencari lokasi wisata alternatif? Rute kereta Bogor-Sukabumi-Cianjur dapat menjadi pilihan. Apalagi, jika sudah sering ke rute Puncak, Bandung, dan kawasan barat Pulau Jawa. Kawasan Cianjur-Sukabumi ternyata menawarkan petualangan yang berbeda dan mengesankan.

Kami mencoba merasakan perjalanan itu dari Stasiun Paledang di Kota Bogor, akhir September lalu. Ada tiga jadwal keberangkatan kereta dari stasiun itu ke Cianjur dan dua keberangkatan ke Sukabumi. Kami memilih jadwal keberangkatan pukul 07.55 agar dapat menikmati suasana pagi lewat jendela kereta. Setiap keberangkatan kereta tersedia beragam tiket, mulai dari kelas ekonomi Rp 40.000 per orang sampai kelas eksekutif Rp 85.000 per orang.

Pagi itu, suasana Stasiun Paledang yang terletak di sisi selatan Stasiun Bogor tidak terlalu ramai. Kami menunggu di salah satu kedai makan sambil menikmati ketupat sayur dan kopi panas. Di kedai-kedai itu juga tersedia sajian masakan khas Bogor, suasana dan tempat yang pas untuk memulai petualangan kecil.

Kereta Pangrango yang kami tumpangi sudah siap berangkat dari stasiun sebelum pukul 07.55. Penumpang mulai bersiap masuk ke dalam gerbong. Sementara pramugari melempar senyum kepada penumpang yang akan memasuki gerbong. Kami bertiga memilih gerbong eksekutif rangkaian depan kereta setelah lokomotif.

Keramahan itu terasa menyejukkan, sesejuk ruangan dalam gerbong eksekutif dengan kursi empuk. Perjalanan ke Cianjur melintasi 14 stasiun dimulai. Sebenarnya pagi itu kami bertiga mengantuk karena harus berangkat sebelum subuh dari rumah masing-masing. Namun, kantuk itu serasa lenyap karena pemandangan di luar jendela kereta begitu menarik.

Kami memperhatikan setiap tempat yang dilewati dari jendela kanan dan kiri gerbong. Tidak lama setelah meninggalkan Stasiun Paledang, kami melihat punggung gunung-gunung dari jendela kereta. Setelah Stasiun Batu Tulis, Bogor, kami masih bisa menikmati aktivitas petani di ladang persawahan yang menghijau.

Saat berada di punggung gunung di sisi kanan jendela kereta terlihat Gunung Salak (2.211 meter di atas permukaan laut/mdpl) dan Gunung Halimun (1.929 mdpl). Sementara di sisi kiri jendela kereta berdiri kokoh Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Gunung Prangrango (3.019 mdpl).

Asyik juga menikmati perjalanan melintasi pegunungan. Namun, sayangnya, akses transportasi ke wilayah ini terbatas. Lamunan penulis terhenti ketika kereta melintasi sisi sekolah dasar di wilayah Sukabumi.

Terowongan Lampegan

Ada ruas penting yang layak diulas di jalur Bogor-Sukabumi-Cianjur, yaitu terowongan Lampegan. Terowongan ini dari arah Bogor berada sebelum Stasiun Lampegan. Terowongan masuk ke perut sebuah bukit di Desa Cibokor, Cianjur, Jawa Barat. Lantaran longsor di terowongan inilah jalur kereta Bogor-Cianjur tidak dapat dibuka
sukabumi 2
Masuk terowongan dengan menggunakan kereta itu sesuatu banget, meminjam ungkapan seorang pesohor. Pengalaman ini bagaikan di film-film fiksi yang sering kami lihat. Adegan yang biasanya kami lihat di film sebentar lagi kami alami. Beberapa saat ketika gerbong kereta memasuki terowongan sepanjang pemandangan di luar jendela menjadi gelap. Walau gelap, tetap saja, kami penasaran mengintip dari balik jendela, tetap saja gelap.

Sesaat kemudian, jendela kembali terang setelah melintasi terowongan sepanjang 415 meter. Terowongan ini sebelumnya lebih panjang, yakni 686 meter. Namun, karena longsor akibat peristiwa tektonik, panjang terowongan terpotong. Terowongan yang dibangun tahun 1882 itu menjadi terowongan kereta tertua di Indonesia.

Masih tentang Lampegan, stasiun tidak jauh dari lokasi situs megalitikum Gunung Padang yang sedang ramai dibicarakan orang. Lokasi Gunung Padang paling tidak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Lampegan melewati perkebunan teh.

Menurut Aditya, pemerhati sejarah kereta Indonesia, jalur Sukabumi-Cianjur merupakan bagian jalur utama kereta yang menghubungkan Bogor-Bandung. Jalur ini dibangun tahun 1883-1884 oleh perusahaan kereta Pemerintah Hindia Belanda Staatspoorwagen. Jalur ini menjadi jantung distribusi mengangkut hasil bumi teh, kopi, dan kina ke pelabuhan di Batavia. Jalur ini menjadi jalur utama kereta dari Jakarta-Bogor-Bandung sebelum jalur Cikampek selesai dibangun tahun 1906.

Ditutup bertahun-tahun

Jalur kereta Bogor-Sukabumi-Cianjur pernah tutup selama bertahun-tahun. Lantaran banyaknya permintaan warga, November 2013 PT Kereta Api Indonesia membuka jalur Bogor-Sukabumi. Tiga bulan kemudian, tepatnya Februari 2014, jalur Sukabumi-Cianjur dibuka untuk umum. Rute ini sangat membantu mengurai macet di jalur Ciawi-Sukabumi yang padat dan buruk kondisi jalannya. Pembukaan jalur kereta ini disambut positif warga yang selama ini hanya mengandalkan jalan raya

sukabumi 3

Sebagai warga Sukabumi, Winarto Suharli (31) senang jalur ini dibuka kembali. Perjalanan ke Sukabumi dari Bogor menjadi lebih cepat dan nyaman. Geliat perekonomian di dua daerah ini ikut bergairah. ”Saya merasakan sendiri, Kota Sukabumi semakin hidup. Hotel bertambah banyak, tempat nongkrong pun mulai banyak,” kata Winarto.

Tidak terasa perjalanan kami sudah berakhir di Stasiun Cianjur menjelang pukul 12.00. Udara hangat menyambut kedatangan kami di stasiun. Suasananya mengingatkan kami pada suasana desa di kampung halaman. Kini, saatnya menelusuri kekayaan kuliner.

(kompas)

Kekuatan Seni Tradisi Garut

4 October 2014   4 views

dombaAPA yang anda kenal dari Kota Garut, Jawa Barat? Pemandian air panasnya? Dodolnya, atau seni dan budayanya? Jawabannya pasti, ya semuanya. Explore Indonesia punya cerita mengenai Garut yang menawan ditilik dari beragam sudut. Kami memulainya dari Gunung Papandayan, kemudian mengulik kisah di balik tradisi khas Garut, yaitu Laga Domba, serta permainan Lais yang mengkolaborasikan akrobat dengan sentuhan mistis.

Explore Indonesia juga mengunjungi desa para tukang cukur asli Garut yang keberadaannya tersebar di sejumlah kota-kota besar di Indonesia Dan juga belajar filosofi kehidupan di Desa Adat Kampung Naga.

Gunung Papandayan

Gunung Papandayan dikenal para pendaki gunung karena topografinya berupa tebing-tebing terjal dan lembah yang curam. Namun menjadi ajang adu adrenalin bagi para pendaki gunung. Pada setiap akhir pekan, kawasan ini tak pernah sepi dari pendaki yang ingin menikmati terbitnya matahari dari puncak Papandayan, dengan bonus landscape menawan kawah Papandayan di bawahnya.

Di Papandayan, Dayu Hatmanti juga melakukan pendakian. Hanya saja, Dayu dan guide pendakian, Kang Dhani, memilih jalur air atau water tracking untuk sampai ke puncaknya. Namun, saat melakukan pendakian, musim sedang kemarau, jadi, jalur air kering dan aman untuk dilalui.

Jika Anda ingin menikmati kawasan Gunung Papandayan secara keseluruhan, Anda harus mencapai Puncak Welirang. Dari situ, kita bisa menikmati keseluruhan panorama yang terbentang. Di sebelah kanan, nampak kawah Papandayan, di hadapan kiri tampak tebing dan pegunungan menjulang yang mengelilingi kawasan Gunung Papandayan.

Gunung Papandayan merupakan gunung bertipe stratovolcano atau gunung berapi yang masih aktif. Gunung dengan ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut ini merupakan kawasan cagar alam dan kelestariannya dilindungi undang-undang. Gunung yang terletak di antara dua desa, yaitu Desa Sirna Jaga dan Desa Keramat Wangi ini secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Dalam catatan sejarah, Gunung Papandayan meletus pada Agustus 1772. Letusan dashyatnya menghancurkan sebagian badan gunung tersebut dan membentuk kawah. Yang kemudian kita kenal dengan sebutan Kawah Papandayan.

Letusan-letusan berikutnya terjadi di tahun 1923 dan 1925 di mana letusan-letusan tersebut juga menimbulkan kawah-kawah baru. Setelah 60 tahun tidur, November 2002, Gunung Papandayan kembali meletus. Letusan itu kemudian menambah jumlah kawah baru, menjadi 14 kawah.

Laga Domba Garut

Domba adalah hewan kesayangan dan kebanggaan masyarakat Garut. Saking sayangnya, domba dengan postur gagah, dengan reng-reng atau tanduk kuat dan tajam ini dipelihara dengan sangat baik. Diberi panganan yang menyehatkan dan menguatkan plus jamu dan dilatih tarung di setiap akhir pekan.

Hampir setiap Minggu, pemilik domba rajin menggelar seni tradisi Laga Domba. Atraksi laga domba biasanya diadakan bergiliran di setiap padepokan yang ada di Kabupaten Garut. Terdapat sekitar 25 padepokan. Ketika Explore Indonesia bertandang ke Garut, pergelaran laga domba dilaksanakan di Padepokan Ciung Wanara, Kampung Garawangsa.

Tak hanya sebagai ajang tarung dan unjuk gengsi kekuatan domba milik peternak, laga atau kontes ternak ini merupakan tempat berkumpulnya para peternak, pemilik dan penggemar domba, tokoh masyarakat serta perkumpulan organisasi profesi yang dihimpun dalam wadah HPDKI atau Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia.

Laga ini sekaligus menjadi ajang pemilihan bibit sebagai raja dan ratu bibit ternak domba Garut. Jika terjadi kata sepakat, biasanya akan berujung pada transaksi jual dan beli. Harga pasaran beragam kelas menengah bisa mencapai Rp 17 juta, dan yang paling murah Rp 5-6 juta. Namun domba terbaik bisa ditawar hingga Rp 30-40 juta. Ada rupa ada harga.

Seni Lais

Di siang nan terik. Sebuah terpal digelar menyerupai tenda di dekat areal pematang sawah yang sudah selesai panen. Masyarakat sekitar mengerumuni pinggiran pematang sawah bersiap menyaksikan pergelaran Lais. Pergelaran ditanggap pemilik sawah sebagi bagian dari syukuran pascapanen.

Lais dibuka oleh seorang penari genit berdandan menor. Sintren itu bernama Nyai Endeut. Lelaki yang berpakaian khas perempuan Sunda dengan menggendong keranjang berisi bekal untuk ke sawah. Gaya-gaya menari yang kocak dan kadang nakal membuat penonton mengumbar tawa.

Tapi itu baru pembuka dari serangkaian seni Lais, suatu jenis pertunjukan rakyat di Jawa Barat. Saat ini kesenian Lais hanya ada di Garut, yaitu Lais Putra Pancawarna Medal Panglipur.
Yang utama dari pertunjukan ini adalah atraksi seseorang pada bentangan seutas tali sepanjang enam meter. Tali tersebut diikat tinggi pada dua batang bambu setinggi hingga 12 meter. Bunyi terompet dan gendang gong saling bersahutan menandakan pertunjukan segera di mulai.

Selanjutnya sesajen dibakar dan semua pemain lain memasuki lapangan atraksi. Tampak di sudut areal persawahan, sang pawang mulai membaca mantra.

Puncaknya, pemain Lais mulai beraksi, dengan sigap dia memanjat bambu tanpa tali pengaman. Semacam akrobatik, pemain lais beratraksi dengan seutas tali tersebut. Mengundang kengerian karena bambu yang dipancang tingginya hingga 15 meter. Sesekali pemain Lais berkomunikasi dengan gaya yang kocak dengan sintren yang menungguinya di bawah. Pada bagian lain, aksi debus juga dipertontonkan menambah daya tarik permainan ini.

Desa Bagendit

Di Garut, ada sebuah perkampungan di mana penghuninya adalah bekerja sebagai pencukur rambut. Nama kampungnya adalah Kampung Cigadung, Desa Karya Mukni, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut.

Saat dikunjungi siang hari, suasananya lengang. Di dalam rumah-rumah semi permanen hanya ada orang tua lanjut usia, dan anak-anak usia sekolah. Gadis remaja atau ibu-ibu. Para pemudanya sedang melanglang ke kota-kota besar sebagai tukang cukur As-Gar atau Asli Garut.

Orang tua lelaki yang ada di desa itu juga pernah melakoni pekerjaan sebagai tukang cukur. Pekerjaan itu kemudian dilanjutkan oleh anak-anak mereka. Kini mereka hidup di kampung, petani cabai dan padi di sawah atau beternak kambing.

Kampung Adat Kampung Naga

Kampung lainnya yang juga sempat Explore Indonesia telusuri adalah Kampung Naga. Apa istimewanya kampung yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat?

Kampung adat ini menjadi satu-satunya kampung yang menolak terpaan modernisasi meski berada di antara wilayah yang cukup hidup dan berkembang mengikuti kemajuan jaman, yaitu Kabupatan Garut dan Kabupaten Tasikmalaya.

Masyarakatnya hidup tenteram dan hening. Hanya pagi hari dan sore hari saja ramai oleh suara anak-anak yang belum berangkat sekolah atau pulang sekolah. Tak ada suara radio ataupun televisi. Karena masyarakat kampung tidak diperkenankan menggunakan aliran listrik. Untuk penerangan malam hari, mereka menggunakan lampu dengan bahan bakar minyak tanah.

Lalu, apa arti nama Kampung Naga, ada hubungannya kah dengan Naga? Kuncen Kampung Naga, Ade Suherlin menjawab, tidak ada kaitan nama Kampung Naga dengan Naga. Tidak ada juga mitos yang berkaitan dengan Naga di Kampung tersebut.

Kampung yang terletak di lembah ini sangat ketat menjaga adat istiadat mereka. Tidak hanya dari perilau tapi juga tata letak bangunan. Area pemukiman seluas 1,5 hektar tersebut dibatasi pagar bambu. Di dalamnya berdiri 113 bangunan. Terdiri atas 3 bangunan umum antara lain sebuah sarana ibadah, sebuah balai pertemuan, dan sebuah lumbung padi umum. Sebanyak 110 lainnya adalah rumah, yang dihuni 108 kepala keluarga. Tidak boleh berkurang ataupun bertambah.

Bagaimana cerita lengkap Kampung Naga dan keunikan tradisi Garut?

(kompas.com)

Kisah Keindahan ‘PeHa’ dalam Perjusami

27 September 2014   6 views

pondok halimun gbr1Oleh. Ainun Rahmah Hidayat*

Hai Sobat, ternyata banyak juga kisah menarik yang ditulis teman-teman pelajar dari MTs Al-Fatah saat melaksanakan perkemahan Jumat Sabtu Minggu (Perjusami) di Pondok Halmun Sukabumi, Jumat (22-24/08) tahun 2014 lalu. Pengalaman saya selama tiga hari dua malam pada kegiatan di Pondok Halimun (sobat muda sering menyebut dengan PeHa) itu sangat mengesankan. Jujur, saya menyukai suasana alamnya

Di Awal Keberangkatan
pondok halimun5My friend’s pelajar MTs Al-Fatah Sukabumi going alias berangkat ke Pondok Halimun (PeHa) pada hari Jumat (22/08) pukul 13.30 WIB. untuk mengadakan camping perkemahan Jumat Sabtu Minggu (Perjusami).
Di awal keberangkatan, hari itu saya dan teman-teman mendapat pembekalan berupa pengarahan dari bapak kepala sekolah (Kepsek) Agus Alamsyah.
Siang itu pak Agus (biasa dipanggil) pun sekaligus melepas teman-teman dari MTs Al-Fatah untuk melaksanakan Perjusami di PeHa.

Menikmati dinginnya air Sungai
Tiba di tempat tujuan, saya berjalan ke arah sungai Cipelang yang kondisinya masih alami.
Wow, mata saya langsung tertuju ke air sungai yang jernih. Batu-batu kerikil dan dedaunan terlihat jelas di bawah air. Ranting-ranting pohon sekitar sungai sangat memanjakan mata dan telinga terkesima dengan suara burung Ciblek yang terus berkicau. Keren banget deh.
Whuss, tangan mengayuh air membasuh muka. Berrr, dinginnya sangat menyegarkan tubuh yang lusuh setelah berjam-jam berjejal dalam truk di perj alanan.
Berkemah di PeHa memang bukan yang pertama kali. Saat duduk di kelas tujuh saya pun ikut dalam rombongan Perjusami MTs Al-Fatah tahun lalu.
Ada satu hal yang membuat hati saya berdecak kagum, ternyata air sungai di PeHa tidak berubah sampai sekarang, begitu dingin dan menyegarkan.
Lingkungan aliran sungainya masih murni dan alami. Terus terang saja saya sangat in love (jatuh cinta) pada air sungai di PeHa. Pemandangan nan sangat indah tak kalah dengan sungai-sungai di pegunungan lain.
Intinya sih, di PeHa sungguh tidak membuat saya (maaf dieja) Ge-Ga-Na. Sory, bukan Gegana Polri Dansus 88 anti Teror, tapi alias Gelisah, Galau dan Merana ᶺ ͜ ᶺ yang selalu meneror hati saya untuk datang ke PeHa lagi. So, kapan yua!

Jurit Malam yang Tak Seram
Di keheningan malam, terbesit asa nan jauh bintang di langit. Tak terhitung karunia Tuhan yang patut kita syukuri terhampar di seluruh jagad sampai Arsyil Majid di langit ke tujuh.
Cuaca alam pegunungan pun telah membuat badan ini menggigil kedinginan. Memandang indahnya langit meski tertuturp awan tebal. Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan.
Tak menutup kemungkinan binatang malam terus mengintip saya dan teman-teman yang sedang mengadakan Perjusami. Namun, jari-jemariku terus mengikuti alunan bibir yang terus berdzikir memuji keagungan Ilahi Rabby.
Suara alam menina-bobokan saya sehingga larut dalam tidur nyenyak, mimpi yang indah karena lelah mengikuti kegiatan siang.
Bangun, bangun, bangun semuanya!!! tiba-tiba suara keras dari panitia membangunkan semua peserta Perjusami dari siswa MTs Al-Fatah yang sedang tertidur pulas.
Terlihat di antara temanku bangun kemudian lari ke kamar kecil, ada juga yang terjatuh-jatuh sambil kain sarung masih menempel di tubuh karena cuaca semakin malam semakin dingin.
Sambil hitungan mundur, panitia memerintahkan semua peserta langsung memakai seragam pramuka dengan lengkap. Mereka semua akan diuji nyali mental, keberanian dan kemampuan.
Arah jarum jam sudah menunjukan waktu pukul 01.30. WIB. Di pagi dini hari itu, ternyata panitia akan mengadakan jurit malam.
Alhamdulillah, pada jurit malam itu, saya tidak merasakan sedikit pun takut apalagi seram. Saya yakin di manapun Allah akan selalu mengintai dan menyertai hambanya.

Drama Api Unggun
Kayu bakar sudah disiapkan, minyak tanah sudah disiapkan, bahkan setiap peserta sudah mempersiapkan lilin esbagaimana yang ditugaskan panitia. Namun, kondisi di lapangan tidak dapat terduga.
Setelah kabut awan malam sempat memenuhi langit di Pondok Halimun, hujan pun turun membasahi lapangan upacara yang sedianya akan dilaksanakan api ungun.
Meskipun lapangan sempat diguyur hujan dan kayu-kayu yang sudah disiapkan dalam kondisi basah, tapi syukur api ungun tetap dapat terlaksana.
Banyak momen yang mengharukan, mengejutkan dan menyedihkan dalam pelaksanaan Api Ungun. Para panitia kegiatan Perjusami menangis, bahkan semua peserta larut dalam sedih karena salah satu guru MTs Al-Fatah mengatakan bahwa kegiatan Perjusami tahun ini gatot alias gagal total.
Salah seorang panitia berani marah dan membela karena menurutnya panitia sudah berusaha maksimal untuk melaksanakan Perjusami tahun ini.
Adu mulut pun terjadi antara panitia dan guru, guru dan alumni. Pro dan kontra tentang pelakasanakan Perjusami gagal terjadi di kalangan peserta, panitia, alumni dan guru hingga hampir menjelang Subuh.
Ternyata eh ternyata, kejadian itu ‘fiktif belaka’ atau rekayasa alias drama yang dibuat untuk menghidupkan suasana di malam api unggun. Seru, thank’s ya.
Pelantikan
Pukul 06.30 WIB siswa-siswi MTs Al-Fatah resmi dilantik menjadi Ramu dan Rakit. Ramu untuk kelas VII (tujuh) dan Rakit untuk kelas VIII (delapan). Saat mereka dilantik, siswa membacakan Tri Satya dan disiram dengan air yang begitu dingin disertai dengan bunga tujuh rupa. Terang saja semua peserta pramuka MTs Al-Fatah yang dilantik hari itu kedinginan. Brrrr.
Serunya Pulang dari PeHa
Pulang Marilah Pulang
Pulang bersama-sama
Ayo pulang, ayolah pulang, ayolah pulang, bersama-sama 3X
Nyanyian pulang memberi suasana gembira melewati Perjusami di PeHa.
Sebelum pulang, setiap peserta harus ikut membongkar tendanya.
Sebagian teman-teman mengambil bagian dalam pembongkaran tenda seperti membereskan tenda, merabut patok (pancuh), membuang sampah dan sebagainya. Tapi, ada juga yang menikmati sarapan pagi dengan memakan nasi kuning.
Sepanjang dalam mobil truk saya merasakan suasana seru dan tidak membosankan. Saling melempar canda dan tawa.
Hal paling saya senangi saat pulang ketika di mobil melihat pemandangan Pondok Halimun. Perjalanan berliuk menambah indah suasana. Ciuut, mobil menelikung tajam di perbukitan. Subhanallah, begitu indah, saya sangat menikmatinya. Sekian dulu yuaa.

Biodata Penulis

ainun pramukaNama : Ainun Rahmah Hidayat
TTL : Sukabumi, 12-07-2000
Usia : 14 Tahun
Hobi : Membaca Al-Qur’an, Menghafal dan Menulis

Sekolah : Kelas VIII MTs Al-Fatah Kota Sukabumi
Alamat : Kp. Baru Cikundul Lembursitu Sukabumi
E-mail : –
Facebook/tweeter : –
Teman yang disukai : Mempunyai sifat baik dan mengasyikan
Pesan buat teman : Jangan gampang terpengaruh, Jangan gampang percaya, Jangan lupain Ainun dan semoga kalian sukses

PERJUSAMI SAMBIL BERLIBUR DI PONDOK HALIMUN SUKABUMI

27 September 2014   8 views

pramuka alfatahnaik-naik ke puncak gunung
tinggi-tinggi sekali,
kiri kanan kulihat ada
banyak pohon cemara.

SUKABUMI – Kiranya nyanyian anak-anak yang pernah popular tempo dulu itu sangat tepat untuk menggambarkan keceriaan siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah Al-Fatah Kota Sukabumi yang mengadakan Perkemahan Jum’at Sabtu Minggu (Perjusami) di kawasan Pondok Halimun, Jumat (22-24/08), kemarin.
Secara geografis Pondok Halimun (PH) memang berada di kaki bukit gunung Gede-Pangrango Jawa Barat yang membentang luas dan diapit tiga kabupaten yaitu kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi.
Di area Pondok Halimun ini terdapat beberapa bumi perkemahan, antara lain Bumi Perkemahan Elang Jawa, Bumi Perkemahan Cipelang, dan Bumi Perkemahan Pondok Halimun. Kondisi Bumi Perkemahan Pondok Halimun berupa lembah dan perbukitan dengan banyak pohon lebat dan sedikit bercuram. Di pinggir perkemahan terdapat aliran air sungai Cipelang yang masih jernih. Jadi, tidak perlu khawatir untuk masalah air minum.
Lokasi antara bumi perkemahan ini saling berdekatan. Di area itu terdapat area parkir kendaraan yang luas dengan deretan warung-warung yang menyediakan aneka sajian, khas nya tentu saja jagung bakar dan bandrek panas.
Di bumi perkemahan Pondok Halimun juga terdapat beberapa penginapan, yang bisa jadi alternatif menginap selain camping. Terdapat juga playing ground untuk anak-anak di sekitar aliran sungai Cipelang. Ciri khas Pondok Halimun adalah banyaknya batu gunung besar yang terserak di sepanjang jalur bumi perkemahan. Bebatuan besar dapat terlihat di kawasan Pondok Halimun sehingga membuat tempat ini sangat Asri.
Hal ini, menjadikan suasana perkemahan Pondok Halimun seperti berada di hutan belantara dengan sedikit improvisasi tata ruang seperti lapangan upacara dengan fasilitas tiang bendera dan MCK di sekitar padepokan perkemahan.
Ciri lain di sekitar Pondok Halimun terdapat pusat penangkaran burung Elang Jawa yang termasuk jenis burung langka dan dilindungi. Keberadaannya hampir terancam punah, karena di sekitar pusat penangkaran burung ini hanya ada tersisa sekitar 200 ekor burung Elang Jawa.
Selain penangkaran Elang Jawa, juga terdapat Taman Nasional sebagai tempat perkemahan dan rute pendakian ke puncak gunung Gede.
Letak perkemahan Pondok Halimun sangat strategis karena tidak jauh dari pusat keramaian kota, sekitar 12 kilometer dari arah Utara pusat pemerintahan kota Sukabumi melalui arah ke Selabintana.
Jalan menuju tempat perkemahan memang naik-turun dan berkelok-kelok. Kondisi jalan seperti itulah yang membuat perjalanan menuju Pondok Halimun membuat seru para pengunjung sambil menikmati indahnya pemandangan perkebunan teh hijau dan kawasan bukit yang dihiasi pohon-pohon besar di pinggir jalannya.
Tak ketinggalan pengunjung pun dapat melihat kera putih bergelayutan di atas pohon dan ranting yang tinggi beberapa puluh meter sebelum sampai di tempat tujuan.
Selain itu, kondisi alamnya yang masih ‘perawan’ membuat udara di Pondok Halimun sangat sejuk. Maka, tak diragukan lagi bukit Pondok Halimun menjadi salah satu pilihan yang tepat bagi pengunjung untuk memilih mengadakan acara perkemahan.
Bulan Agustus (22-24) kemarin sekitar 60 orang siswa/i MTs Al-Fatah sangat antusias menggelar kegiatan acara Perjusami di Pondok Halimun (PH).
“Kegiatan Perjusami ini merupakan rangkaian kegiatan pramuka dan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPD) yang sebelumnya tertunda karena berbenturan dengan bulan puasa”, ujar Nana Suryana Wakil Kepala Madrasah (Wakamad) Bidang Kurikulum dalam wawancara, Jumat (22/08).
Setiap tahun MTs Al-Fatah kota Sukabumi menggelar program kegiatan perkemahan dua kali, yaitu Perjusami (Perkemahan Jumat Sabtu Minggu) pada awal tahun, dan Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) pada akhir semester satu.
Sementara guru pembina pramuka MTs Al-Fatah kota Sukabumi Asep Nurdiansyah S.IP. menuturkan, “kegiatan Perjusami MTs Al-Fatah diadakan bersamaan dengan MOPD dan Pelantikan Ramu (kelas tujuh) dan Rakit (kelas delapan) sebagai tanda kecakapan umum seorang penggalang dalam pramuka. Sementara Persami diadakan dalam rangka pelantikan pengurus OSIS dan Dewan Kerja Penggalang (DKG) untuk kelas delapan”, tuturnya, Jumat (22/08).
Dengan adannya Perjusami seperti itu siswa akan mampu memiliki sikap kemandirian. Pria kelahiran 1971 itu menegaskan, “meskipun anak sudah menempuh Syarat Kecakapan Umum (SKU), namun tetap saja masih diperlukan pengujian mental dan fisik mereka dalam bertahan hidup di alam bebas (survival)”, tambahnya disela-sela kegiatannya.
Perkemahan di alam terbuka ternyata lebih dinikmati siswa-siswi daripada yang digelar di tempat lain karena mengandung unsur hiburan petualangan dalam pembelajarannya.
Hal ini diakui Ainun Rahmah Hidayat (14) siswi kelas delapan MTs Al-Fatah, “Perkemahan di alam pegunungan lebih asyik daripada liburan di tempat-tempat lain”, imbuhnya.
Dalam kegiatan itu, siswa dibagi ke dalam dua kategori, yaitu peserta yang terdiri dari kelas tujuh dan delapan. Sementara panitia sengaja dipilih oleh pembina pramuka dari kelas sembilan.
Selain pembagian tugas panitia dan peserta, dalam kegiatan itu setiap anak dibagi menjadi 8 kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 6-7 siswa. Setiap
Banyak suguhan acara yang ditampilkan siswa MTs Al-Fatah pada kegiatan Perjusami tahun ini. Mulai dari mendirikan tenda, belajar morse sinar dan semapur sinar, lomba masak, hiking (empat pos), lomba keagamaan (seperti lomba adzan, qiraat al-Qur’an, tahfidz, pidato dan lain-lain), jurit malam sampai api ungun.
Selain diikuti para siswa, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu juga dihadiri dewan guru dan kepala sekolah. Bahkan, tampak sejumlah alumni ikut berpartisipasi membantu kegiatan itu agar tetap lancar.
Dengan kegiatan Perjusami seperti itu Nana mengharapakan, “siswa tidak hanya belajar secara teoritis di dalam kelas, tapi mampu mempraktekannya di alam bebas sekalipun”, ujarnya.
Kegiatan itu sangat membantu dalam memupuk kemandirian dan menambah kemampuan anak didik. Selama tiga hari mereka menaklukan ‘keperawanan’ Pondok Halimun untuk menjadi manusia sejati yang mengetahui jati dirinya sendiri.
“Siswa juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas akidah keimanan, kedisiplinan, kekompakan dan lebih mencintai alam dan manusia, khususnya sesama teman-temanya”, tambahnya.

Curug Seribu di Bogor, Kental dengan Nuansa Mistis

25 September 2014   6 views

Curug seribuWisata alam Curug Seribu di Gunung Bunder, Bogor terkenal mistis, namun eksotis. Banyak kisah tentang air terjun ini, namun pemandangan yang indah selalu mengundang wisatawan untuk datang.

Nuansa mistis tapi eksotis menggerakan kami untuk mengunjungi Curug Seribu. Hanya dengan membayar uang masuk Rp 15.000 di pintu masuk utama objek wisata Gunung Bunder, kami pun bisa melanjutkan perjalanan ke Curug Seribu.

Sesampainya di sana, sejenak saya dan teman-teman beristirahat untuk makan siang di sebuah warung dekat dengan pintu masuk sebelum melanjutkan tracking turun ke curug. Kami membayar lagi tiket masuk sebesar Rp 5.000 dan kami pun mulai tracking turun menuju curug.

Melewati jalan setapak yang mulanya masih bagus hingga jalan berbatu yang terjal, kami menikmati pemandangan indah di kiri kanan jalan yang cukup memanjakan mata. Di tengah perjalanan kami menemui beberapa mata air yang masih segar dan dapat langsung diminum dan juga air terjun kecil yang airnya sangat jernih. Sedikit kelelahan, kami pun mencoba meminum air tersebut dan memang airnya sangat segar.

Tidak hanya itu, kami pun berjumpa dengan segerombolan monyet hutan yang bergelantungan di sepanjang perjalanan. Kami sengaja tidak mengeluarkan ponsel dan makanan, karena takut kalau monyet tersebut menghampiri dan mengambil barang bawaan kami. Monyet di sana masih sangat liar.

40 Menit perjalanan kami lewati dan jalan bebatuan pun makin terjal dan gemuruh suara air terjun mulai terdengar. Ada pohon tumbang yang melintang menghalangi jalan. Kami harus sedikit menunduk agar bisa melewati pohon besar tersebut. Hampir satu jam perjalanan kami lewati dan kami pun sampai di Curug Seribu.

Kesan mistis mulai terasa ketika kami sampai di depan curug. Curug yang begitu besar dan dikelilingi lembah yang sangat terjal menambah kengerian suasana di sana. Memang sangat ngeri apabila ingin mendekati curug karena arus airnya yang sangat deras. Kami pun tidak mencoba mendekati atau mandi di bawah curug.

Bukan berwisata namanya kalau tidak menggali informasi seputar objek wisata. Saya berinisiatif untuk bertanya kepada pedagang warung kopi di sana. Dia bercerita mengenai Curug Seribu.

“Memang selalu ada korban di sini mas!” kata bapak penjaga warung tersebut.

Dia bercerita dulu ketika objek wisata ini dipegang pemerintah daerah, selalu saja ada korban karena tidak ada yang menjaga di sini. Tapi ketika objek wisakta ini diberikan dan dikelola oleh warga sekitar, sudah jarang ada korban.

“Sungguh amat mistis di sini. Tapi kalau kita sopan dan tidak sombong, tidak akan terjadi apa-apa,” ungkap bapak penjaga warung.

Tiba-tiba dia mengambil pengeras suara dan berteriak, “Hei! Jangan kesana, Mas. Lihat pembatasnya!”

Saya melihat ada seorang wisatawan yang mencoba mendekati curug dan melewati tali pembatas yang terpasang. Ternyata memang sudah ada batasan-batasan dimana saja kita boleh bermain dan melakukan aktivitas rekreasi. Ada tali panjang yang membentang membatasi curug dengan pengunjung dan kita tidak boleh melewati tali tersebut.

“Sebelum dibatasi, banyak wisatawan yang tenggelam di curug, Mas!” ujarnya.

Dia bercerita bahwa suatu ketika pernah ada wisatawan yang tenggelam dan tidak mengapung kembali. Harus dengan bantuan tim SAR, itu pun mereka tidak boleh lebih dari 5 menit menyelam, karena akan beku di dalam air.

Batasan berkunjung curug hanya sampai pukul 16.00 WIB sore. Tidak dianjurkan untuk para pengunjung berada di sana lebih dari pukul 16.00 WIB. Bahkan warga sekitar pun tidak ada yang berani. Semakin seru obrolah saya dengan penjaga warung, dan dia juga bercerita soal kejadian kesurupan.

“Sering terjadi kesurupan juga Mas di sini, sering kali yang kesurupan itu titip pesan ke saya agar menjaga tempat ini dan memperingati pengunjung agar tidak ke area yang dilarang. Ketika kita bertamu kita harus menghormati yang punya tempat, jangan masuk kalau tidak diizinkan, kalau tidak nanti yang punya tempat bisa marah,” ucap si bapak penjaga warung bercerita panjang lebar.

Traveling kali ini mengesankan untuk saya, tidak hanya menikmati pemandangan keindahan alam tetapi juga mendapat informasi tentang objek wisata tersebut.

(detik.com)

Bisnis Wisata Jabar Bakal Lesu

23 September 2014   2 views

ciwideyJawa Barat memiliki banyak wisata alam yang bisa menarik banyak wisatawan domestik dan mancanegara. Namun kunjungan wisatawan mancanegara ke berbagai objek wisata itu bakal menurun.

Seperti kluster Ciwidey dengan Kawah Putih, Patuha, dan Rancaupas. Meski terkenal dan  infrastruktur sudah mulai membaik, namun masih ada jalan-jalan yang kurang lebar untuk menuju kluster Ciwidey tersebut. Ditambah kondisi macet yang masih kerap terjadi.

Kondisi-kondisi tersebut cukup mempengaruhi realisasi pendatapan dari obyek wisata yang dikelola Perhutani yang hingga Agustus 2014 baru mencapai 60 persen.

Idealnya pada semester pertama sudah mencapai 63 hingga 65 persen dari target pendapatan  wisata yang diproyeksikan sebesar Rp 43 miliar. Nilai proyeksi tersebut dari obyek wisata Jabar dan Banten sebesar Rp 40 miliar dan Rp 3 miliar dari obyek wisata Jawa Tengah.

Apalagi Kementerian Kehutanan RI kemudian mengeluarkan edaran penyesuaian tarif bagi kawasan wisata alam di Indonesia. Kebijakan yang tertuang di PP No 12 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak di Kementerian Kehutanan ini, menaikkan tarif rata-rata mencapai 300 persen.

Adanya kebijakan tersebut diakui General Manager KBM Wisata dan Jasa Lingkungan I Perum Perhutani Jawa Barat, Tri Lastono, sempat menurunkan tingkat kunjungan wisata hingga 30 persen. Kebijakan tersebut membuat pengelola mau tidak mau melakukan penyesuai tarif yang pastinya dirasakan oleh pengunjung terutama wisatawan domestik.

“Kita ingin mengenalkan wisata alam agar makin banyak pula pengunjung yang datang, tapi adanya kebijakan tersebut tentu berpengaruh karena ada penyesuaian harga tiket termasuk ada multiplier effect  lainnya,?” kata Tri, di Kantor Perum Perhutani KBM Wisata dan Jasa Lingkungan I,  Bandung, belum lama ini.

Di Cianjur, bisnis pariwisata juga terancam lesu. Sebab, selain Jalur Puncak terutama dari arah Ciawi, Bogor, aksesibilitas utama menuju Kabupaten Cianjur lainnya, yakni Jalan Raya Bandung dan Jalan Raya Cianjur-Sukabumi, kerap terjadi kemacetan.

“Aksesibilitas dari Jakarta maupun dari arah Bandung hanya bisa ditempuh melalui jalur darat, dengan roda dua atau roda empat. Tidak ada jalur kereta dan alternatif lainnya. Jelas kalau aksesbilitasnya terhambat, sektor pariwisata akan terasa dampak negatifnya karena untuk mencapai lokasi wisata tidak mudah,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Cianjur, Satyawan Hambari, di Jalan Raya Cianjur-Puncak, Senin (22/9/2014).

Penyebab kemacetan di Jalan Raya Cianjur-Sukabumi dan Jalan Raya Bandung itu akibat banyaknya aktivitas pabrik yang berdiri di pinggir jalan. Sedangkan dari arah Ciawi, banyak kendaraan dari Jakarta yang berwisata di Puncak, Kabupaten Bogor terutama di akhir pekan. Namun kondisi jalur dari Ciawi tak kunjung melebar seiring bertambahnya volume kendaraan.

Dikatakan Satyawan, sekitar 70 persen perekonomian di Kabupaten Cianjur masih bertopang dari pariwisata dan agrobisnis. Sementara Kabupaten Cianjur mengandalkan wisatawan dari Bandung dan Jakarta. Itu mengapa bukan tak mungkin kemiskinan menghantui warga lantaran dikepung macet dari berbagai arah.

(tribunnews)

Next Page »