Wisata Beri Makan Rusa Jadi Pengalaman Menarik Bagi Anak

11 August 2015

istanaTak hanya akhir pekan, objek wisata memberi makan rusa di Istana Bogor menjadi tradisi tersendiri bagi warga yang ingin mengajak serta keluarganya.

Pantauan heibogor.com, banyak warga Bogor maupun luar Bogor, yang sengaja datang untuk memberi makan rusa-rusa yang jumlahnya ratusan ekor.

Beberapa pedagang juga terlihat di sekitar lokasi, Jalan Ir. Djuanda. Seperti pedagang wortel yang menawarkan pangan rusa. Empat wortel kecil yang diikat dijual seharga Rp 2000.

“Gak Cuma Sabtu dan Minggu saja, yang beli wortel untuk makanan rusa memang meningkat. Kalau libur akhir pekan, per hari sekitar 10 kg wortel. Tapi hari ini Alhamdulillah bisa habis 20 kg wortel,” ujar Solihat, penjual wortel di sekitar Istana Bogor, Senin (10/08/15) sore.

Ahyari, seorang pengunjung asal Leuwiliang yang datang dengan istri dan anaknya mengaku datang ke Bogor untuk berwisata ke Kebun Raya sekaligus memberi makan rusa-rusa di sekitar Istana.

“Ini dari Kebun Raya, sebelum pulang mampir ke sini buat ngasih makan rusa. Bagi anak-anak, ngasih makan rusa seperti ini menjadi pengalaman yang menarik,” tambahnya.

Cuaca Kota Bogor yang panas terik tidak mengganggu aktivitas memberi makan rusa. Arus lalu lintas di sekitar lokasi pun terpantu ramai lancar di kedua arah, sesekali tersendat karena warga yang melintas, memperlambat laju kendaraannya serta memarkir kendaraan mereka di bahu jalan.

(Heibogor)

Masjid-Masjid Paling Bersejarah Di Jawa Barat

14 July 2015

Bagi Anda penyuka wisata sejarah, saatnya Anda menjambangi masjid-masjid bersejarah di Jawa Barat. Selain beribadah, tentunya Anda akan mengetahui ihwal sejarah yang melingkupi, dan berikut adalah 5 Masjid Bersejarah di Jabar berikut ini:

 

1. Masjid Raya Bandung

Masjid baru ini menggantikan Masjid Agung yang lama, yang bercorak khas Sunda. Pada saat Konfrensi Asia-Afrika pada tahun 1955, Masjid ini menjadi tempat beribadahnya peserta konfrensi yang beragama Islam. Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat selesai dibangun kembali pada 13 Januari 2006. Pembangunan itu termasuk dengan penataan ulang Alun-alun Bandung, pembangunan dua lantai basement dan taman kota sekaligus halaman masjid yang dapat dipergunakan untuk kegiatan seni budaya serta salat Idul Fitri dan Idul Adha.

Mesjid-Raya-Bandung

Secara resmi pembangunan fisik masjid, membutuhkan waktu : 829 hari atau 2 tahun 99 hari, sejak peletakan batu pertama 25 Februari 2001 sampai peresmian Masjid Raya Bandung 4 Juni 2003 yang diresmikan oleh Gubernur Jabar saat itu: H.R. Nuriana. Biasanya di bulan Ramadhan seperti ini, menara masjid menjadi lokasi menarik untuk ngabuburit, sekaligus menikmati pemandangan Bandung di waktu menjelang malam.
2. Masjid Manonjaya, Tasikmalaya

Masjid Manonjaya yang dibangun pada tahun 1832 berkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Sukapura dan proses berdirinya Ibukota Tasikmalaya. Hingga saat ini, masjid atau disebut juga dengan “kaum” masih berdiri dengan megahnya. Kondisi keaslian bangunannya pun masih tetap terjaga dan terawat.

Mesjid-Manonjaya-Tasikmalaya

Anda akan mendengar sebuah cerita yang menyebutkan bahwa kedua menara atau kubah (menara pelangan/laki-laki dan menara pawadonan/perempuan) dengan mahkota antiknya masih seperti bentuk aslinya. Kedua mahkota yang pada puncaknya berbentuk kuncup bunga ini merupakan hasil pemberian Syeikh Abdul Muhyi dari Goa Pamijahan sekitar abad ke-18 M. Kedua kubah “kaum” ini mempunyai makna tersendiri. Bagian bawah Kubah Pelangan ditujukan untuk tempat beribadah kaum laki-laki, sedang di bawah Kubah Pawadonan untuk tempat ibadah perempuan. Bahan kedua kubah terbuat dari keramik yang berasal dari Kawasem, Jawa Tengah.

Selain itu, Anda juga akan melihat dengan konnstruksi beton masjid yang kokoh dan berarsitektur campuran budaya Islam (Timur Tengah) dan Eropa. Masjid ini mampu menampung jamaah sebanyak 5.000 orang. Denah bangunannya berupa persegi panjang dengan serambi depan yang luas dan memiliki banyak tiang penyangga. Dindingnya terbuat dari beton dengan motif hias bergalur dan bermotif flora.
Bangunan masjid ini beratap genteng dan tampak seperti 2 bagian karena serambi yang bertiang 61 tiang diapit oleh 2 menara beton berjendela dan berpintu. Bentuk tiang penyangganya membulat dengan diameter ± 1,5 m dan tinggi 5m. Menara memiliki 6 jendela rangkap berdaun ganda berukuran ± 2 m x 1 m, terbuat dari kayu dan kaca. Pintu masjid terbuat dari kacandan kayu berukuran 3 m x 1,20 m dengan daun ganda dan berventilasi pada bagian atasnya. Jendela masjid berdaun ganda terbuat dari kayu berkisi-kisi dengan ukuan 2m x 1,5m. Bangunan didirikan di atas sebuah halaman yang cukup luas dengan taman dan bangunan tambahan.
3. Masjid Besar Tegal kalong, Sumedang

Decak kagum mungkin akan keluar dari mulut Anda ketika melihat Masjid Besar Tegal Kalong. Masjid pusaka yang dibangun oleh R. Suriadiwangsa sekitar tahun 1600-an ini memiliki ukuran 22 x 8 m. Ruang utamanya dilengkapi dengan pintu-pintu dan jendela-jendela. Masjid ini beratap tumpang yang disangga empat tiang utama atau saka guru dengan puncaknya dilengkapi dengan mustaka. Selain ruang utama, masjid dilengkapi juga dengan teras dan tempat wudhu. Pada bagian masjid terdapat halaman yang dilengkapi dengan pagar keliling dengan dua pintu.

Masjid-Besar-Tegal-kalong-Sumedang

Tegal Kalong dalam sejarah Sumedang merupakan ibu kota Kerajaan Sumedanglarang setelah dipindahkan dari Dayeuh Luhur pada tahun 1600-an. Pemindahan ini terjadi pada waktu R. Suriadiwangsa menggantikan ayahnya, Prabu Geusan Ulun. Setelah Kerajaan Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram Islam, tempat ini oleh R. Suriadiwangsa dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. Salah satu peristiwa sejarah yang cukup penting di masjid ini adalah ketika pada tahun 1786 terjadi serangan tentara Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Cilik Widara. Serangan dilakukan ketika Bupati dan para pejabat serta masyarakat sedang menjalankan shalat Hari Raya Idul Fitri, yang mengakibatkan banyak jatuh korban di pihak Sumedang. Setelah peristiwa tersebut, pusat pemerintahan dipindahkan ke pusat kota yang sekarang. Peristiwa yang memilukan tersebut juga berakibat lain adalah tabu bagi para bupati selanjutnya bila shalat Idul Fitri jatuh pada hari Jumat untuk shalat di ibu kota Sumedang.
4. Masjid Cipari Wanaraja, Garut

Masjid ini didirikan pada masa Kolonial Hindia Belanda, tepatnya tahun 1936. Pendirinya adalah K.H. Yusuf Taudziri. Masjid ini selain berfungsi sebagai masjid dan pesantren, pada zaman kolonial digunakan sebagai tempat latihan perang, pertahanan, dan berdirinya PSII cabang Garut; Pada zaman kemerdekaan sebagai basis latihan tentara pejuang dan dapur umum; zaman pemberontakan DI/TII dijadikan tempat pengungsian, perawatan pejuang yang terluka ketika kembali dari hijrah ke Yogyakarta, tempat perlindungan para pejuang dan keluarganya, dapur umum, serta latihan perang; Pada zaman G30S/PKI dijadikan tempat perjuangan melawan PKI, tempat pertemuan para ulama, pertahanan dan perlindungan, serta dapur umum. Sekarang berfungsi sebagai masjid dan madrasah.

Masjid-Cipari-Wanaraja-Garut

Masjid Cipari Wanaraja berdenah persegi panjang berukuran 30 m x 10 m dengan lantai ditinggikan ± 1 m. Memiliki atap genteng dengan dinding tembok beton; 3 pintu kaca dan kayu bagian bawahnya berukuran 2 m x 1 m; 5 anak tangga menuju pintu masuk; 40 jendela kaca berkuran 120 cm x 60 cm (bawah) dan 100 cm x 60 cm (atas) dalam façade bagunan berjejer di samping kiri-kanannya dengan ventilasi beton; menara beton di atas atap; dan tangga menuju menara berada dalam 2 ruangan di bagian belakang bangunan.
5. Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon

Untuk memudahkan penyebaran agama Islam, para wali mendirikan masjid bagi masyarakat Cirebon. Masjid ini diberi nama Masjid Agung Sang Cipta Rasa, didirikan pada tahun 1498 M. ‘Sang’ artinya keagungan, ‘cipta’ artinya yang dibangun dan ‘rasa’ artinya digunakan. Secara arsitektur, masjid ini bercorak seperti candi Hindu. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan lingkungan sekitar di mana agama dan budaya Hindu masih kental di Cirebon saat abad 15 itu.

Masjid-Agung-Sang-Cipta-Rasa-Cirebon
Bagian pondasi bangunan terdiri dari batu bata merah yang disusun rapi dengan tiang penopang dari kayu jati. Secara umum, masjid ini terdiri dari 2 bagian ruangan salat, luar dan dalam atau ruangan utama. Bagian luar berbentuk seperti teras keraton/kesultanan. Bangunan ini tidak terasa aneh, karena Cirebon memiliki dua kesultanan yaitu Kanoman dan Kasepuhan. Di bagian luar masjid nampak berdiri tiang-tiang penyangga dari kayu jati berwarna coklat kehitaman. Bahkan satu tiang kayu jati yang ditanam oleh Sunan Kalijaga masih kokoh berdiri sampai sekarang. (**) (Berbagai Sumber/fokusjabar.com)

Masjid Katangka, Saksi Perjalanan Islam di Sulawesi

13 July 2015

masjidNUANSA teduh nan sakral seketika menyergap saat langkah kaki mengayun memasuki sebuah masjid di tepi Jalan Syekh Yusuf di garis batas Kota Makassar-Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (1/7/2015).

Di balik penampilannya yang bersahaja, masjid tua itu telah menjadi saksi perjalanan Islam di tanah Sulawesi selama lebih dari empat abad.

Masjid Tua Al-Hilal Katangka adalah nama resmi yang tercantum di plang halaman masjid yang berlokasi di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa, itu. Namun, masyarakat luas lebih mengenal masjid tersebut dengan nama singkatnya: Masjid Katangka.

Katangka adalah jenis pohon yang dahulu kala banyak tumbuh di lingkungan sekitar masjid itu. Kayu katangka pula yang menjadi bahan pembuatan masjid yang berdiri tahun 1603 tersebut. Namun, pohon endemis yang kayunya dianggap sebagai kayu kehormatan oleh orang Makassar itu kini sudah sangat langka.

Masjid Katangka dibangun pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabbia atau yang kemudian bergelar Sultan Alauddin. Sultan Alauddin adalah Raja Gowa pertama yang memeluk Islam dan mendukung penyebarannya ke seluruh Sulawesi Selatan.

Syiar Islam di Sulsel saat itu juga tak terlepas dari peran tiga sosok ulama asal Minangkabau, yakni Dato Ri Bandang, Dato Patimang, dan Dato Ri Tiro. Ketiganya mengislamkan banyak kerajaan di jazirah selatan Sulawesi, termasuk Gowa.

Pengurus Masjid Katangka, Harun Daeng Ngella (38), mengatakan, Masjid Katangka didirikan di lingkungan yang dulu masuk dalam kawasan benteng Istana Tamalate, pusat Kerajaan Gowa. “Letak masjid berdekatan dengan istana raja dan wilayah ini dikelilingi tembok benteng. Namun, bangunan istana dan benteng sudah tak tersisa lagi,” katanya.

Di sekeliling bangunan masjid juga terdapat makam sejumlah Raja Gowa dan keturunannya. Sekitar 500 meter arah selatan masjid terdapat pula kompleks makam Sultan Hasanuddin. Raja Gowa XVI yang merupakan cucu Sultan Alauddin itu adalah pahlawan nasional yang gigih melawan penjajahan Belanda pada abad ke-17.

Harun menambahkan, karena berada di “jantung” kerajaan, Masjid Katangka juga dibekali dengan “fitur” khusus, yakni dinding yang berketebalan 1,2 meter. “Pada masa itu, selain sebagai pusat peribadatan dan syiar Islam, masjid ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan semasa perang,” ujarnya.

Pintu masuk bangunan utama masjid seluas 144 meter persegi tersebut terletak di sisi timur. Terdapat dua pintu, tetapi hanya satu yang sehari-hari difungsikan. Di sisi pintu utama itu tercantum prasasti kecil yang bisa dengan jelas terlihat oleh siapa pun yang memasuki masjid. Di bagian atas prasasti bertuliskan “Masjid Tertua di Sulsel”, sementara di bagian bawahnya tertulis “1603”.

Satu hal lain yang unik adalah sebuah ornamen kaligrafi di gapura kecil mimbar. Kaligrafi berhuruf Arab itu menggunakan bahasa Makassar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Harun sebagai berikut: “Mimbar ini dibuat pada hari Jumat tanggal 2 Muharam tahun 1303 Hijriah. Diukir oleh Karaeng Katangka bersama Tumailalang Lolo. Apabila khatib sudah berada di atas mimbar, kita tidak diperkenankan lagi berbicara masalah dunia”.

Selain mimbar, bagian menarik lainnya adalah empat pilar utama masjid yang berbentuk silinder cembung. Harun mengatakan, pilar itu mengadopsi gaya bangunan Eropa. “Jadi, masjid ini memadukan berbagai gaya arsitektur, mulai dari Tiongkok, Eropa, Jawa, hingga lokal,” katanya.

Masjid Katangka menarik minat masyarakat dari sejumlah daerah untuk beribadah di sana. Salah satunya Baharuddin Nae (40), warga Makassar yang kerap mampir untuk menunaikan shalat di masjid itu meskipun rumahnya berjarak sekitar 3 kilometer dari masjid.

Baharuddin mengaku bisa lebih merasakan kekhusyukan saat beribadah di masjid tersebut. “Karena itu, setiap kali berkesempatan lewat masjid ini, saya selalu usahakan mampir untuk shalat,” kata wiraswasta ini.

Ia juga mengaku takjub dengan usia Masjid Katangka yang telah mencapai empat abad tersebut. Awalnya, saat pertama kali mengunjungi masjid tersebut untuk shalat Jumat enam tahun lalu, ia tak menduga usia masjid sudah setua itu.

Kekaguman terhadap Masjid Katangka juga diungkapkan Rudwin (35), pegawai badan usaha milik negara asal Jakarta yang telah tiga bulan bertugas di Makassar. Menurut Rudwin, ada aura dan nuansa yang berbeda dari masjid tua yang penuh sejarah seperti Masjid Katangka.

“Ada kenyamanan tersendiri saat memasuki masjid tua ini untuk beribadah,” ujarnya.

(kompas.com)

Bangun Sejuta Taman Wujudkan Bogor Nyaman

11 June 2015

bogorPemerintah Kota (Pemkot) Bogor, dibawah kepemimpinan Wali Kota Bima Arya terus berkomitmen dalam upayanya menangani sejumlah persoalan yang menjadi skala prioritas. Dalam hal ini salah satunya mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Paska pelantikannya 7 April 2014 lalu, Wali Kota langsung berlari cepat dalam menangani persoalan yang satu ini. Tak hanya trotoar dan pedestrian saja, termasuk juga di dalamnya adalah revitalisasi dan pembangunan sejumlah taman-taman kota baru.

bogor 2
Seperti yang kerap disebutkannya dalam setiap kesempatan, Bima Arya mengatakan bahwa persoalan RTH dan termasuk taman-taman kota di dalamnya menjadi skala prioritas dibawah pemerintahannya. Tak hanya sebatas mengejar nilai estetika, namun keberadaan taman-taman ini bisa berfungsi menjadi ruang publik yang dapat digunakan masyarakat untuk berinteraksi dan melakukan beragam kegiatan.

”Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau ini juga menjadi fokus perhatian Pemkot Bogor. Oleh sebab itu, kami berupaya seoptimal mungkin untuk melakukan perbaikan, penataan, dan pembangunan Ruang Terbuka Hijau dan taman-taman,” jelas Bima dalam suatu kesempatan.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Pertamanan pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Bogor Yadi Cahyadi mengungkapkan, sedikitnya ada sebelas taman yang tersebar di seluruh wilayah Kota Bogor yang kini tengah dalam progres pelaksanaan kegiatan pembangunan RTH di tahun anggaran 2015 ini dengan total anggaran yang dikucurkan hingga mencapai Rp 10.113.105.000.

Ini termasuk juga dengan penataan dua Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Kapten Muslihat, Bogor Tengah dan JPO di Jalan Pajajaran, Bogor Timur tak jauh dari Terminal Baranangsiang. ”Apa yang dilakukan DKP Kota Bogor ini adalah demi mewujudkan Kota Bogor yang nyaman. Maka, hal ini diawali dengan tahap perencanaan pembangunan yang akan semakin difokuskan lagi. Salah satunya adalah pembangunan taman,” jelas Yadi.

bogor 3

Ia juga menjelaskan, dari ke-11 taman dan JPO ini dimana ada beberapa taman dan juga fasilitas pelengkapnya yang merupakan bantuan dari pihak-pihak swasta melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR). Di antaranya taman pasif di Jalan Pajajaran depan Terminal Baranangsiang, seberang eks Gedung Pangrango Plaza tak jauh dari rumah dinas Wali Kota Bogor, dan Skate Park di kawasan Lapangan Sempur.

”Taman-taman itu pun kita buat tematik. Yaitu seperti Taman Ekspresi di lereng kawasan Lapangan Sempur dan Taman Grafiti atau Taman Adnanwijaya di kawasan Bantar Jati, Bogor Utara. Jadi, bagi para remaja khususnya yang memiliki bakat dan hobi mural atau grafiti ini bisa memanfaatkannya di taman ini,” ungkap Yadi.

Taman Grafiti yang terletak di Pandu Raya, Bogor Utara ini memang sengaja dibangun sebagai wadah para seniman grafiti dan mural jalanan asal Bogor. Keberadaan Taman Grafiti ini juga disambut baik oleh para pecinta seni mural atau grafiti yang ada di Bogor.

Kalangan yang banyak didominasi kaum muda ini berharap dengan adanya Taman Grafiti akan membuat anak muda Bogor mempunyai kegiatan yang positif. ”Bagus sih, saya pribadi sangat senang jadi kita punya tempat untuk menuangkan karya kita,” papar Efan salah seorang pencinta seni mural asal Bogor.

Kepengurusan taman ini nantinya juga akan melibatkan komunitas mural dan grafiti yang ada di Bogor. Hal ini sebagai ajakan Pemkot kepada warga Bogor untuk bersama-sama menjaga fasilitas yang ada. “Karena ini fasilitas yang sudah disediakan Pemkot tentu kita pasti akan menjaga baik dari segi kebersihan dan keindahan tempat ini,” tukas Efan.

Selain taman-taman yang berada di kawasan pemukiman dan jalan-jalan protokol, jelas Yadi, Pemkot Bogor melalui Bidang Pertamanan pada DKP juga menggarap penataan dan pembangunan median-median jalan. Di antaranya pembangunan vertikal garden di tiang fly over Jalan Sholeh Iskandar (Jalan Baru), penataan taman median Jalan R3, penataan vertikal garden di Jalan Mayor Oking, dan penataan median Jalan Kapten Muslihat.

Berdasarkan data dari Bidang Pertamanan, sejumlah progres pekerjaan taman sudah dilaksanakan yang meliputi Taman Adnanwijaya, Taman Ekspresi, Vertikal Garden Jalan Sholeh Iskandar, penataan taman median Jalan R3, penataan Vertikal Garden di Mayor Oking, dan penataan JPO di Jalan Kapten Muslihat serta di Baranangsiang. Juga penataan taman median Jalan Sholeh Iskandar, taman median Jalan Kapten Muslihat, serta penataan Taman Pandu Raya.

”Sejumlah perusahaan juga di tahun 2015 ini sudah siap berpartisipasi dan berkontribusi dalam penataan taman-taman kota, seperti PT Goodyear Indonesia yang akan menggarap Taman Peranginan di Jalan Jenderal Sudirman. Telkomsel juga sudah membuatkan Skate park di Sempur, dan Pilar Hijau Madani juga sudah membangun taman perlintasan di Jalan Pajajaran,” tutup Yadi.

Wali Kota Bogor Bima Arya, Sabtu (23/05/15), akhirnya meresmikan Taman Air Mancur di Jalan Jenderal Sudirman, Bogor Tengah. Ini setelah sekitar dua bulan lamanya taman tersebut direvitalisasi.

“Kita sudah meresmikan dua taman. Keduanya dibangun atas kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dengan pihak swasta,” kata Bima.

bogor 4
Anggaran yang digunakan untuk membangun kedua taman tersebut, Bima menyebutkan bahwa menghabiskan dana sekitar Rp 599 juta. Anggaran sebesar itu berasal dari Pemkot Bogor dan Pilar Hijau Madani, perusahaan yang mengucurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Sementara untuk pemasangan lampu dan pengecatannya dana yang digunakan berasal dari Vihara Dhanagun.

“Kawasan-kawasan heritage di Kota Bogor ini bukan hanya dirawat saja, tetapi dipercantik juga. Kami berharap warga pun memiliki tempat untuk berekreasi dan selfie serta melepas lelah di Taman Air Mancur ini,” jelas Bima.

Taman Air Mancur ini, kini telah disulap menjadi taman yang indah dengan memiliki delapan air mancur dan lampu yang berwarna-warni di setiap air yang menyembur ke atasnya.

Air-air mancur itu akan menyala setiap pukul 16.00 hingga pukul 23.00 WIB. Kemudian akan menyala kembali pukul 07.00-11.00 WIB. Jadi setiap harinya akan menyala sebanyak dua kali.

Hadir dalam peresemian Taman Air Mancur itu Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Ade Sarip Hidayat, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Irwan Riyanto, dan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Eko Prabowo serta Direktur PHM Mulyadi.

(Heibogor)

“Guide to Bogor” Memudahkan Wisatawan Berpelesir…

8 June 2015

cigameaDinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menerbitkan buku ‘Guide to Bogor’ untuk memberikan kemudahan pelayanan informasi keanekaragaman obyek wisata alam, budaya dan fasilitas yang layak dikunjungi wisatawan lokal dan internasional.

“Buku ini memberikan kemudahan informasi kepada wisatawan untuk mengenal keanekaragaman obyek wisata alam dan budaya Kabupaten Bogor,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor, Rahmat Surdjana di Cibinong, Sabtu (6/6/2015).

Rahmat mengatakan aneka informasi dan paket wisata pilihan yang ditawarkan disajikan secara lengkap sehingga wisatawan dapat dengan mudah menentukan paket wisata yang paling disukai. “Kabupaten Bogor yang sering disebut daerah hujan mampu memancarkan pesona wisata dan budaya yang luar biasa,” katanya.

Di dalam buku ‘Guide to Bogor’ memberikan informasi 21 tempat wisata alam, adat dan tradisi. Keramahan dan kekayaan warisan budaya merupakan magnet yang kuat untuk menarik wisatawan berpetualangan menikmati setiap sudutnya. Tetapi tempat peristirahatan dan rumah makan tetap jadi pendukung untuk kenikmatan wisatawan.

Disbudpar, menurut Rahmat, sedang melakukan tahapan evaluasi tingkat efektif dan efesien desa wisata yang ada di Pemkab Bogor. “Beradasarkan data Disbudpar ada 35 desa wisata yang tersebar di Pemkab Bogor,” katanya.

Desa tersebut sedang masuk dalam tahapan penyaringan. Disbudpar Bogor, saat ini tidak membentuk desa wisata tetapi hanya mendukung keinginan masyarakat yang mau maju dalam ekonomi kreatif lalu mendaftarkan desanya menjadi tempat wisata. “Setelah ditetapkan menjadi desa wisata dengan keunggulan masing-masing desa maka secara otomatis ekonomi kreatif akan muncul dari warga sekitar,” katanya.

Untuk mewujudkan desa wisata maka perlu kerja sama dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada di Pemkab Bogor. Kerja sama itu berkaitan dengan potensi yang ada di desa wisata. “Contoh sederhanya bila desa wisata memliki potensi di bidang sejarah tentunya perlu bekerja sama dengan Dinas Pendidikan,” katanya.

Sementara itu, Bupati Bogor Nurhayanti mengatakan penerbitan buku ‘Guide to Bogor’ ini untuk mewujudkan Kabupaten Bogor sebagai kabupaten termaju di Indonesia dan salah satu destinasi periwisata di Jawa Barat. “Sudah menjadi komitmen Pemkab Bogor untuk membangun pariwisata secara maksimal agar tercipta pelayanan prima kepada wisatawan,” katanya.

(kompas.com)

Menikmati Pemandangan dari Ketinggian Tebing Keraton

30 May 2015

keratonIni dia informasi baru tentang pemandangan indah di Kota Bandung. Lokasinya pas banget buat selfie, tapi jangan sekali-kali bertingkah tanpa memperhatikan keamanan dan keselamatan diri.
Lokasi yang memiliki pemandangan indah itu bernama Tebing Keraton. Kawasan ini sekarang menjadi salah satu lokasi yang sedang digemari kaum muda khususnya untuk ber selfie ria.
Tebing ini mulai dikenal melalui media sosial. Kini hampir setiap akhir pekan, terutama pagi dan sore hari, Tebing Keraton selalu penuh dengan pengunjung yang ingin menikmati pemandangan alam serta melihat kota Bandung dari ketinggian.
Nama Keraton yang tenar di media sosial ini tidak ada kaitannya dengan kerajaan. Tidak jelas siapa yang pertama kali menamakan tebing dengan ketinggian sekitar 1200 hingga 1300 diatas permukaan laut (dpl) tersebut.
Namun dari penuturan warga, Keraton berarti kemegahan alam dalam bahasa Sunda.

“Saya juga nggak tahu persis siapa yang kasih nama Keraton, da warga sini mah tahunya Cadas Jontor, cuma memang ada sesepuh yang kasih nama Keraton, ” kata Tatang (45), warga sekitar lokasi.
Meskipun warga maupun pedagang yang ada di sekitar lokasi sudah memberitahukan bahwa nama tebing tersebu adalah Cadas Jontor, tetap saja orang lebih mengenalnya dengan nama Tebing Keraton.
Padahal nama Jontor dipertegas dengan adanya batu besar atau batu cadas yang berada di bagian puncak yang posisinya sangat menjorok ke depan. Istilah menjorok atau maju ke depan inilah yang dianggap cocok dengan kata “jontor”.
Terlepas dari nama, tebing vertikal yang terletak di Desa Ciburial, Kampung Ciharegem ini memang wajib dikunjungi oleh penikmat wisata alam.
Hanya mengeluarkan Rp 11.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 76.000 untuk wisatawan asing, bis melihat keindangan alam dari puncak tebing. Pengunjung bisa melihat hijaunya pepohonan dan kawasan taman hutan raya (Tahura) Bandung. Selain itu, bisa terlihat juga keindahan Gunung Tangkuban Perahu.
Untuk mengabadikan keindahan alam ini, tebing Jontor menjadi lokasi favorit untuk mengambil gambar.

Perlengkapan yang Perlu Disiapkan untuk ke Tebing Keraton

Jika Anda akan berkunjung ke Tebing Keraton jangan lupa untuk mempersiapkan sejumlah keperluan seperti jaket. Udara di atas tebing masih sangat dingin.
Terlebih bila ingin menikmati sunrise atau matahari terbit. Kabut cukuo tebal masih akan terlihat di pagi hari. So, jaket tebal, syal dan topi “kupluk” jadi perangkat yang jangan lupa untuk dibawa.
Meski di dekat lokasi ada penjual bandrek, yakni minuman khas Sunda yang rasanya manis dan menghangatkan, tidak ada salahnya membawa air mineral atau air putih.
Apalagi bila traveller memutuskan berjalan kaki dari Taman Hutan Rakyat atau Tahura untuk menuju lokasi. Jalan menanjak dan kontur tanah yang tidak rata akan menguras tenaga terutama bagi mereka yang jarang pergi ke daerah perbukitan. Air minum menjadi pelangkap karen saat haus menyerang sudah tersedia.
Selain itu siapkan uang pecahan kecil seperti Rp 2.000 atau Rp 5.000. Uang pecahan ini untuk membayar parkir yang dikelola oleh warga setempat.
Sekali parkir ada yang meminta antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000. Tapi saat ini mereka menetapkan tarif Rp 5.000 seiring makin banyaknya pengunjung.

tebing 3

Namun yang pasti uang pecahan akan memudahkan traveller apalagi bila ingin mencicipi bandrek, ubi rebus dan camilan lain yang ada di warunf bandrek.
Banyaknya pengunjung terkadanf pedagang kerap kehabisan uang receh untuk kembalian. Daripada menunggu pedagang menukar uang untuk kembalian, bila kita sudah siap dengab uang pecahan kecil akan lebih mudah.

Dari Pusat Kota Bandung Hanya Sekitar 10 Kilometer

UNTUK bisa sampai ke lokasi ini, traveller dari luar kota Bandung bisa langsung menuju tempat wisata Taman Hutan Rakyat yang terletak di Dago Pakar Jalan Ir H Juanda. Dari Tahura akan ada petugas di pintu masuk yang akan memberi informasi untuk menuju Tebing Keraton.
Dari Tahura, traveller akan melintasi perkampungan dengan jarak sekitar 3 kilo meter, atau 10 kilo meter dari pusat Kota Bandung. Meski tidak terlalu jauh, namun traveller harus tetap konsentrasi. Jalan menanjak dan rusak mau tidak mau harus dilalui.
Apalagi bila traveller memutuskan naik motor. Harus hati-hati karena jalan belum beraspal. Saat cuaca cerah jalan lebih bersahabat, beda bila habis hujan, jalan basah dan licin.

tebing 2

Dari tempat parkir motor, traveller masih harus berjalan. Namun tidak jauh hanya sekitar beberapa meter saja. Hati-hati tetap harus diperhatikan. Karena meski sudah dikenal, pembatas yang ada di sekitar tebing masih berupa bambu. Jangan memaksakan diri bila banyak pengunjung yang sedang berada di tebing.
Akan lebih baik bila bergantian dengan pengunjung lain. Meski terlihat kokoh, namun posisi tebing yang menjorok harus disikapi dengan bijak. Jadi bila sudah dapat posisi yang pas, cepat berfoto dan bergantian dengan pengunjung lain.

(Tribunjabar)

Bogor gelar Helaran, sejumlah rute dialihkan

30 May 2015

krbPolres Bogor Kota menyiapkan pengalihan arus lalu lintas sejumlah ruas jalan yang akan dilalui peserta Pawai Budaya Helaran yang akan diselenggarakan Sabtu (30/5) dalam rangka Hari Jadi Bogor ke-533.

“Pengalihan arus akan dimulai pukul 14.00 sampai dengan 17.30 WIB,” kata Panit Humas Polres Bogor, Aiptu Mansyur, di Bogor, Jumat.

Pawa Budaya Helaran dipusatkan di Jalan Sudirman, depan Museum PETA. Sekitar 20 mobil hias dan ribuan peserta dari sejumlah komunitas akan berkeliling Kota Bogor diberangkatkan dari GOR Pajajaran, Jalan Ahmad Yani, Jalan Sudirman, Jalan Harupat dan Lamapangan Sempur.

“Untuk menghindari kepadatan arus lalu lintas di sepanjang lokasi rute pawai dan untuk memfasilitas kelancaran operasional kegiatan tersebut, sejumlah arus akan dialihkan bagi kendaraan termasuk trayek angkot,” katanya.

Mansyur menjelaskan, angkot atau kendaraan yang akan melintasi jalur Jalan A Yani, Sudirman, dialihkan ke arah mulai dari Simpang Warung Jambu sampai dengan Simpang Denpom atau Istana Bogor.

Ia merincikan, ada delapan lokasi yang masuk dalam rencana pengalihan arus lalu lintas pada kegiatan Helaran Pawai Budaya HJB ke-533 meliputi, Simpang Warung Jambu arus kendaraan yang akan menuju Jalan Ahmad Yani akan dialihkan ke Simpang BORR, Jalan Pajajaran maupun Indraprasta.

Lokasi Air Mancur, arus kendaraan dari Jalan RE Martadinata atau Cimanggu yang akan menuju Jalan Sudirman (dalam kota) akan dialihkan ke Jalan Pemuda-Jalan Dadali-Warung Jambu dan Jalan Pajajaran.

Simpang TL Jalan Juanda atau SMAN 1, arus kendaraan dari Jalan Kapten Muslihat yang menuju Sempur atau Jalan Sudirman akan dialihkan ke BTM-Pasar Bogor-Jalan Suryakencana atau Tugu Kujang.

“Sementara arus kendaran dari BTM menuju Sempur jalan Sudirman akan dialihkan ke Jalan Kapten Muslihat, Jembatan Merah,” katanya.

Simpang Paledang, bila arus kendaraan di Jalan Kapten Muslihat arah Juanda mulai padat mengekor, sebagian kendaran dari Jembatan Merah akan dialihkan ke Jalan Paledang menuju BNI 46 tembus BTM.

Simpang Jalan Dadali, arus kendaraan dari Jalan Dadali terutama imbas dari pengalihan di sekitar Air Mancur akan diarahkan ke Warung Jambu menuju Jalan Pajajaran, tidak ada kendaraan yang melintas di Jalan A Yani.

Simpang Denpom atau depan Istana Bogor, arus kendaraan dari Jalan Jalak Harupat Sempur yang akan menuju Jalan Sudirman akan dialihkan ke Jalan Juanda menuju BTM atau jalan Kapten Muslihat.

Simpang Pangrango Plaza, bila rombongan Pawai Helaran sudah sampai depan RS Salak, maka arus kendaraan yang akan menuju Jalan Jalak Harupat Sempur, sementara akan dialihkan ke Simpang Mc D Bogor Baru menuju Warung Jambu.

“Bila rombongan Pawai Helaran sudah sampai depan RS Salak, maka jalur Jalan A Yani akan dinormalkan untuk arus lalu lintas,” katanya.

Aiptu Mansyur menambahkan, Polres Bogor Kota menyiapkan 280 personel untuk pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas dibantu DLLAJ, Satpol PP dan anggota pengamanan lainnya. Informasi pengalihan arus lalu lintas pada Helaran juga telah disebar melalui twitter Polres Bogor Kota.

“Semoga pengguna jalan dapat mengantisipasi dan merencanakan rute perjalanan selama pelaksanaan Helaran Pawai budaya HJB,” katanya.

(Antara)

Wapres JK Hari Ini Buka Jakarta Fair Kemayoran

29 May 2015

prjHari ini, Jumat (29/5), Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2015 di Arena JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat resmi digelar. Rencananya Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, bakal membuka event pameran multiproduk dan arena hiburan keluarga terbesar se-Asia Tenggara.

Salah satu kegiatan menyambut HUT Jakarta ini akan dihelat mulai 29 Mei hingga 5 Juli 2015. Marketing Director PT JIExpo, Ralph Scheunemann mengatakan tahun ini JFK mengusung tema “Semangat Jakarta Fair Kemayoran, Semangat Indonesia” dengan sub tema “Semangat Jakarta Fair Mengajak Bersama Membangun dan Meningkatkan Stabilitas Ekonomi Bangsa”.

“Diharapkan semangat peningkatan produktifitas, peningkatan kreatifitas, serta semangat inovasi di bidang industri dan perdagangan yang ada di dalam Jakarta Fair Kemayoran 2015 dapat menjadi pemicu peningkatan stabilitas ekonomi nasional di masa mendatang,” ungkap Ralph, Kamis (28/5).

Adapun Raplh menambahkan menjelang pembukaan event, JFK siap menyuguhkan para pengunjung dengan sajian stand pameran multi produk yang tersedia di berbagai area. Sekitar 2.700 perusahaan peserta pameran yang tergabung dalam 1.500 stand.

Aneka produk unggulan yang akan dipamerkan diantaranya otomotif, furniture, lighting fixtures, produk garmen & textile, peralatan rumah tangga, peralatan elektronik, komputer, alat olah raga, kosmetik, herbal & medicine, makanan dan minuman, perbankan, telekomunikasi, multimedia, property, berbagai produk jasa, hingga berbagai produk kerajinan.

Selain diisi aneka pameran perdagangan, Jakarta Fair Kemayoran juga akan diisi berbagai acara hiburan keluarga seperti konser musik nonstop 38 hari di panggung utama, aneka pertunjukan budaya selama 38 hari di panggung Gambir Expo, karnaval budaya, kabaret show dan cosplay, aneka pertunjukan seni budaya Betawi, serta berbagai acara hiburan menarik di stand-stand pameran.

Tidak hanya itu, sajian live music performance di panggung utama konser musik JFK 2015 juga siap menghibur para pengunjung. Penyanyi bintang muda Fatin X Factor adalah salah satu pengisi acara yang akan tampil menghibur para pengunjung di konser musik Jakarta Fair Kemayoran. Sementara itu di panggung budaya Gambir Expo akan menyuguhkan hiburan seperti penampilan dari Yuka Idol dan juga kesenian musik tradisional.

(Poskota)

Mengenal Seni Gulat Benjang Asli Ujungberung Bandung

28 May 2015

tinjuSalah satu seni tradisional asal Bandung yang terbilang langka dan hampir terlupakan adalah seni gulat Benjang. Seni tradisional ini banyak hidup dan berkembang di kawasan Bandung Timur, tepatnya di daerah Ujungberung dan Cibiru.

Seni Beladiri Benjang diperkirakan sudah ada di Tanah Sunda sejak awal abad ke 20. Benjang adalah sebuah seni beladiri yang mirip gulat gaya Romawi. Bedanya, Benjang lebih menitikberatkan kepada atraksi, disamping ada unsur olahraga.

Tidak hanya seni bela diri yang ada dalam seni benjang. Terdapat pula topeng benjang dan helaran benjang (Reak). Namun untuk topeng benjang, kondisinya sangat memprihatinkan. Hingga saat ini belum ada generasi penerus yang pas dan bisa menarikan topeng benjang, yang terdiri atas empat mimik topeng.

Justru sebaliknya dengan seni helaran benjang (Reak) dan gulat benjang, justru perkembangannya cukup signifikan. Kedua kesenian ini masih bisa bertahan hingga sekarang. Bahkan banyak generasi penerusnya dari kalangan anak-anak.

Tidak sembarang orang dapat tampil bertarung di arena benjang. Harus ada surat pernyataan tidak melakukan tuntutan bila mengalami cedera serius. Tidak hanya itu, atlit bendjang pun kerap dibekali ilmu magis, untuk menambah kekuatan.

Keunikan benjang adalah musik tradisional Sunda yang menjadi pengiringnya. Seperti halnya pencak silat, penampilan bendjang memang diiringi musik tradisional Sunda, seperti menggunakan kendang pencak dan rebana maupun terompet. Beladiri ini memang berbeda dengan kebanyakan seni beladiri lainnya. Benjang memiliki tingkat risiko cedera lebih tinggi, bahkan jika dibanding olahraga gulat.

Bila gulat lebih menitik beratkan pada kelenturan dan keterampilan mengunci lawan, benjang sebaliknya. Berhasil melumpuhkan lawan dengan cara yang mematikan, dialah pemenangnya. Karena itu, tidak sembarang orang dapat tampil bertarung di arena benjang.

Alasannya, selain harus bersedia membuat surat pernyataan untuk tidak melakukan tuntutan apabila mengalami cedera fatal, para pebenjang yang akan tampil tidak cukup hanya mengandalkan keberanian saja, tapi juga keterampilan.

“Seni tradisional Ujungberung yang dikenal dengan nama benjang tercipta sekitar tahun 1906-1923. Olahraga ini diciptakan oleh H. Hayat atau lebih dikenal dengan nama Anom Haji, putera ketiga dari hartawan bangsa pribumi yang terkenal pada masa itu,” ujar Hasan Yusuf, salah satu cucu pencipta Benjang, seperti dikutip viva.co.id.

Adapun alasan benjang disebut sebagai olahraga asli Ujungberung karena penemunya, tinggal di kampung Warunggede, Desa Cibiru, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung.

Hasan menuturkan, ada dua versi asal-usul nama benjang, yaitu satuan kata ben yang artinya permainan serta kata jang, yang merupakan singkatan dari bujang (pemuda).

“Jadi kata benjang adalah permainan para pemuda,” terang Hasan.

Versi lain nama benjang berasal dari kata dari genjang, bahan cerita dari Mang Unung Aspali, tokoh silat dari Ujungberung.

“Pihak yang menang adalah yang dapat membanting lawannya ke tanah, dari silih banting menjadi silih menindih. Yang menang adalah yang dapat menindih lawan yang terlentang menghitung bentang (bintang),”katanya.

Kurnia Somantri, salah satu atlet benjang yang juga kakak Hasan Yusuf membeberkan, gerakan jurus pada seni benjang adalah perpaduan dari jurus ketangkasan di masa lalu, terutama jenis beladiri kontak badan selain silat, seperti, sumo, sampai pada westerlen, judo, gulat, jujitsu, kempo dan karate.

Ada yang menarik dari benjang, yakni keharmonisan dan lenturnya gerakan dalam pertandingan, yang dibatasi peraturan, diantaranya tidak boleh mencekik leher lawan, memukul, menyikut, mencubit, menggigit dan menendang lawan, juga memegang kaki baik satu atau keduanya.

Kurnia melanjutkan, pertunjukan benjang biasa digelar di atas lapangan berdiameter minimal 5-9 meter, sebagai arena pertandingan yang berbentuk lingkaran. Diselenggarakan pada malam hari, penerangannya berupa obor bambu atau petromaks, digantung pada tiang bambu.

(Galamedia)

Warga Kecewa Tak Bisa Masuk ke Ruangan di Istana Bogor

26 May 2015

istanaHari pertama pelaksanaan Istana Bogor Open yang kini bernama Istana untuk Rakyat (Istura) 2015 dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Bogor ke-533 menyisakan kekecewaan.

Pasalnya, ratusan warga yang sejak Senin 25 Mei kemarin pagi mengantre untuk bisa memasuki Istana Bogor ternyata dilarang masuk ke dalam ruangan, tidak seperti tahun sebelumnya. Kondisi tersebut, lantaran intensitas kegiatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Bogor cukup padat.

Sehingga panitia dan bagian rumah tangga Istana Kepresidenan tidak memperkenankan peserta Istura masuk ke dalam ruang Istana. Sumiyati (35) warga Cibinong, Kabupaten Bogor mengatakan, hampir setiap tahun selalu mengikuti kegiatan Istana Open.

Begitupun pada tahun ini, dia mengikuti Istana Open, tapi tak seleluasa tahun kemarin. Alhasil dia bersama peserta lainnya tidak bisa melihat kaca seribu, sebagai spot favorit jika masuk ke dalam Istana Bogor.

“Ya kecewa sih kecewa tapi mau bagaimana lagi, enggak apa-apalah di halaman luar saja dan foto-foto arsitektur lainnya saja. Dulu bebas masuk sampai ruang kerja yang besar,” katanya saat mengunjungi Istana Bogor, kemarin.

Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Prokoler Istana Bogor Endang Sumirat menjelaskan, tidak diperbolehkannya warga untuk masuk ke dalam ruangan, karena Istana Bogor kali ini banyak digunakan oleb Presiden untuk kegiatan kenegaraan dan juga tempat tinggal.

Sehingga warga hanya bisa mengunjungi bagian luar. Namun pihak Istana Bogor, memperbolehkan warga masuk ke dalam Balai Kirti atau Museum Kepresidenan yang diresmikan oleh SBY tahun 2014.

“Untuk rute kunjungan pun berubah, jadi mereka masuk dari pintu dua tidak bisa lagi langsung masuk ke dalam ruangan. Mereka hanya bisa melintas di belakang istana. Tapi warga sekarang bisa masuk ke Museum Kepresidenan, sebagai pengganti tidak diperbolehkannya masuk ke ruangan utama istana,” ujarnya.

Istura 2015 sendiri adalah event tahunan Kota Bogor dalam rangka Hari Jadi Bogor (HJB) ke 533. Tahun ini, Istura sudah ke 14 kalinya sejak dilakukan pertama kali pada tahun 2001. Saat itu, setiap tahun warga Bogor bisa masuk dalam Istura ini yang sebelumnya bernama Istana Bogor Open.

(sindonews)

Next Page »