Mengunjungi Kelompok Tani MKM di Leuwiliang – Jaga Kolam 24 Jam, Wakili Jawa Barat di Tingkat Nasional

by -17 views

gurameGurame merupakan jenis ikan yang paling populer dikonsumsi. Selain memiliki daging tebal, ikan ini memiliki cita rasa yang nikmat jika diolah menjadi gurame goreng, gurame saus tiram, atau gurame rica-rica. Selain cita rasa yang nikmat, budidaya gurame relatif mudah dan menghasilkan keuntungan besar. Seperti apa kelompok tani Mitra Karya mandiri (MKM) melakukan budidaya ikan gurame?

TINGKAT konsumsi ikan gurame semakin meningkat. Tidak heran, kelompok tani MKM   di Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang membudidayakan ikan yang terkenal dengan daging tebal dan gurih itu. Bahkan, kelompok tani MKM mampu mewakili Jawa Barat dalam lomba pembenihan ikan tingkat nasional 2009.

Tidak hanya itu, berbagai prestasi  diraih kelompok tani MKM. Di antaranya, juara I Lomba Kelompok Pembenihan Gurame Tingkat Kabupaten Bogor 2005, Juara I Lomba Kelompok Pembudidayaan Ikan Tingkat Jabar 2006 hingga kelompok berprestasi dari Bupati Bogor pada Hari Jadi ke-525 Bogor.

Berdiri tahun 2000, kelompok tani MKM kini mempunyai 149 kolam yang dikelola 30 anggota di atas lahan seluas 32.700 meter persegi. “Kami menjaga kolam  24 jam,” kata salah satu anggota MKM Rahmat (28) kepada Radar Bogor.

Pembenihan gurame dirancang menggunakan teknologi tepat guna, baik wadah yang digunakan atau teknik budidaya serta penanganannya.

Menurut Rahmat, meski produktivitasnya lebih tinggi pada musim kemarau, gurame berproduksi sepanjang tahun. Namun, yang perlu diperhatikan adalah  padat tebar induk, tata letak sarang, panen telur, dan kualitas air.

Tempat bahan sarang diletakkan di permukaan air berupa anyaman kasar dari bambu atau bahan lainnya sehingga induk ikan mudah mengambil sabut kelapa untuk membuat sarang. Pembuatan sarang  berlangsung selama satu hingga dua minggu tergantung kondisi induk dan habitatnya.

Pemeriksaan sarang yang sudah berisi telur dilakukan dengan meraba dan menggoyangkan perlahan sarang atau menusuk sarang dengan lidi atau kawat. Sarang yang sudah berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak atau telur dari sarang ke permukaan air.

Selanjutnya, sarang yang sudah berisi telur diangkat. Telur dipisahkan dari sarang dengan hati hati, karena mengandung minyak, telur akan mengambang di permukaan air.

Telur yang baik berwarna kuning bening sedangkan telur berwarna kuning keruh dipisahkan dan dibuang karena rusak. “Minyak yang timbul dapat dikurangi dengan cara diserap memakai kain,” jelas Rahmat.

Pemeliharaan benih dilakukan di dalam kolam dengan persiapan meliputi, pengolahan tanah dasar kolam, pengeringan, pengapuran, pemupukan, pengisian air, dan pengkondisian air kolam. Pengolahan tanah dasar kolam  berupa pembajakan, peneplokan dan perbaikan pematang kolam. “Pengeringan dilakukan  dua hingga lima hari,” ujar pria yang lebih dari delapan tahun membudidayakan gurame ini. (*)
(Lucky L. Hakim) radar-bogor.co.id