Pencarian Terkendala Cuaca-Puncak Tebing dan Sungai Terus Disusuri

by -5 views

 

longsorPencarian korban longsor di Gunung Buleud, Kampung Talaga, Desa Cicadas, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, kemarin, terkendala hujan deras dan kondisi tanah tebing yang labil. Upaya pencarian di hari ketiga ini terpaksa dihentikan sementara pada pukul 11.00 WIB. Jika pencarian diteruskan dapat mengancam keselamatan tim search and rescue(SAR) dan relawan.

Masih ada dua penambang emas yang tertimbun longsoran tanah. Pencarian korban juga melibatkan dua anjing pelacak Detasemen K-9 Polda Jawa Barat. Tim dibagi menjadi tiga, yakni gabungan TNI,Polri,Tagana dan relawan. Mereka fokus di tiga lokasi berbeda dengan metode pencarian piramida. Tim pertama menyisiri puncak tebing.

Tim kedua lebih menitikberatkan pencarian dengan penyisiran aliran Sungai Cipanengah dari hulu hingga hilir dan tim ketiga menyisiri dari hilir hingga hulu sungai. Rencananya hari ini dua anjing pelacak akan menyisiri puncak tebing.”Untuk optimalisasi pendeteksian keberadaan korban dikerahkan anjing pelacak,” kata Komandan Kodim 0607 Sukabumi Letkol (Inf) Fifin Firmansyah. Berdasarkan hasil pendataan dan keterangan para penambang emas yang selamat,jumlah korban yang diduga masih terkubur sebanyak dua orang yakni Opik dan Dana.

”Sejumlah saksi menyebutkan dua penambang itu terakhir kali terlihat berada di dalam lubang galian,” ujar Ketua Badan SAR Daerah Kabupaten Sukabumi Okih Fajrie. Dadang, kerabat korban Opik,mengatakan,saat peristiwa terjadi Opik berada di dalam lubang galian. Dana yang juga hilang berada di tepian atau di atas lubang bersama 11 penambang lainnya.Pada longsor pertama, Dana berusaha menyelamatkan Opik.

Saat Dana berhasil menggapai tangan Opik, tiba-tiba longsor susulan menyapu tubuh keduanya dan 11 penambang. ”Setelah longsor susulan itu kami tidak lagi melihat Dana maupun Opik,” kata Dadang yang saat kejadian tidak jauh dari lokasi penambangan emas. Pada pencarian sebelumnya, tim SAR berhasil menemukan dua korban tewas yakni Aep asal Kampung Cireksa, Desa Cibenda,Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi; dan Yanto, warga Kampung Pasir Ceuri, Desa Benda,Kecamatan Ciemas.

Jasad korban ditemukan di antara timbunan tanah di lokasi lubang penggalian tambang. Kondisi keduanya sangat memprihatinkan karena dipenuhi luka yang diduga akibat benturan gerusan tanah bercampur material batu. Selain menemukan dua korban tewas,tim SAR juga menemukan delapan korban selamat di antaranya Bayu, 20; dan Hendra, 20, warga Kampung Pasir Talaga, Desa Cicadas, Kecamatan Cisolok; Entis alias Sonjaya, 48, warga Kampung Mulyasari, Desa Cikadu, Kecamatan Cibeber,Kabupaten Lebak,Banten; Anda,18,warga Kampung Bojong, Desa Cicadas; Heri, 22,warga Kampung Pasir Talaga,Desa Cicadas; dan Asep,warga Kampung Talaga, Desa Cicadas.

Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Badri Suhendi meminta pemerintah daerah menutup kawasan tambang emas di Gunung Buleud.Selain tidak berizin,kawasan itu sangat berbahaya karena berada di daerah perbukitan yang kondisi tanahnya labil. ”Daerah-daerah tambang lain yang kondisinya sangat rawan harus ditutup. Kami sudah meminta Dinas Pertambangan untuk mengkaji dan melakukan tindakan,” ujarnya.

Politisi Partai Demokrat ini mengimbau warga tidak lagi memaksakan beraktivitas di lokasi tambang saat musim penghujan.Terlebih, kandungan emas di Gunung Buleud belum diketahui pasti jumlahnya. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka telah melakukan berbagai persiapan untuk mengatasi masalah bencana di wilayah tersebut, di antaranya membentuk tim reaksi cepat yang berasal dari 26 kecamatan se-Kabupaten Majalengka.

”Kami telah membentuk tim. Jumlahnya ada 26 orang yang direkrut dari 26 kecamatan di Kabupaten Majalengka. Mereka sudah sudah dibekali dengan berbagai pelatihan, baik teori maupun praktik, dalam hal ini simulasi,” kata Bayu Jaya,Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka. Selain membentuk tim, beberapa sarana untuk menanggulangi bencana terburuk juga telah dipersiapkan di antaranya dapur umum,tenda pengungsi, alas tidur, selimut, serta logistik dan kebutuhan lain yang untuk para korban bencana.

”Dengan persiapan tersebut, saat terjadi bencana, dampak negatif dari bencana bisa meminimalisir,” ujarnya. Demikiandenganjalurkoordinasi lintas sektoral. BPBD juga sudah berkoordinasi dengan instansi lain, termasuk TNI dan Tagana. Sedangkan upaya pencegahan dan pemberian wawasan masyarakat agar bisa terlibat dalam proses tanggap bencana dan evakuasi dini pascabencana, pihaknya sudah melakukan sosialisasi ke daerah rawan bencana.

”Kami juga sudah memberikan imbauan kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan di daerahnya masing- masing,”papar Bayu. Berdasarkan catatan BPBD, pada 2011 tercatat 133 kasus bencana terjadi di Kabupaten Majalengkadengankerugianmateri mencapai Rp11.970.275.000. Dari jumlah keseluruhan tersebut, bencana tanah longsor merupakan bencana yang paling sering terjadi atau sebanyak 56 peristiwa. toni kamajaya/ inin nastain.

Sumber:seputar-indonesia.com