Tidak Hanya Dibantai, Warga Suriah juga Diperkosa

by -3 views
Foto : reuters
Foto : reuters

Seakan tidak cukup penderitaan warga Suriah yang setiap hari melihat pembantaian kerabat dan tetangga, mereka juga harus menanggung kepedihan menjadi korban perkosaan. Menurut sebuah organisasi kemanusiaan yang berbasis di New York, perkosaan semakin memicu banyaknya warga Suriah yang pilih hengkang, mengungsi.

Diberitakan Washington Post, Selasa 15 Januari 2013, mengutip laporan yang dirilis organisasi International Rescue Committee (IRC), kebanyakan korban adalah wanita dan gadis yang diserang di depan publik, di jalan-jalan kota, ataupun di rumah mereka oleh kelompok bersenjata.

Organisasi ini tidak merinci siapa pelaku, apakah tentara pemerintah atau pemberontak. Namun, kemungkinan besar para pelakunya adalah para begundal Shabihadari sekte Syiah Alawi yang dibayar pemerintahan Basyar al-Assad. Pengakuan para Shabiha pernah dimuat di koran Arab Asharq Alawsat tahun lalu.

Laporan Asharq Alawsat mengetengahkan pengakuan seorang Shabiha yang mengatakan dibayar hingga lebih dari Rp4 juta per bulan untuk membunuh dan memperkosa. Untuk setiap korbannya, dia juga mendapatkan bonus tambahan. Lelaki biadab ini berhasil ditangkap pasukan pejuang Suriah.

IRC melanjutkan dalam laporannya, tidak jarang para pemerkosa melakukan aksinya di hadapan anggota keluarga korban. Ini menjadi pemandangan sehari-hari di beberapa kota di Suriah. Beberapa saksi mata mengisahkan pengalamannya:

“Ada perang di luar rumah saya. Anak-anak saya setiap hari melihat dari jendela, mayat-mayat dibuang di tempat sampah. Suatu hari, mereka melihat paman mereka ditembak di luar rumah. Saya melarang mereka melongok jendela lagi. Tapi itu tidak membantu. Ketika rumah tetangga sebelah saya diserang, kami bisa mendengar bahwa dia diperkosa, itu teman saya,” kata seorang wanita berusia 28 tahun dari kota Daraa, yang sekarang mengungsi ke Yordania, dikutip dari laporan IRC.

Belum ada data pasti jumlah korban perkosaan di Suriah. IRC mengatakan, hal ini dikarenakan perkosaan adalah hal tabu yang mencoreng nama baik keluarga, sehingga banyak yang enggan melaporkannya. Beberapa keluarga, lapor IRC, menikahkan korban untuk menghilangkan malu. Beberapa lainnya melakukan tindakan ekstrem.

“Salah satu kasus yang ekstrem adalah seorang ayah menembak putrinya sendiri ketika pasukan bersenjata mendekat. Ini untuk mencegahnya diperkosa yang akan mempermalukan keluarga,” lapor IRC.

Kondisi ini diperparah oleh semakin menipisnya bantuan medis dan psikologis bagi para korban. Selama 21 bulan konflik, sudah lebih dari 60.000 orang yang tewas. Warga akhirnya memilih mengungsi ke negara tetangga, menghindari kekerasan atau menjadi korban.

Jumlah pengungsi Suriah di beberapa negara tetangga kini mencapai lebih dari 600.000 orang. Mereka tinggal di tenda-tenda sederhana, apartemen-apartemen murah, atau berkumpul di sekolah-sekolah dan gedung-gedung pemerintah. Diperkirakan, Jumlah pengungsi akan semakin bertambah jika konflik tidak juga usai.

Sumber:vivanews