Teh Indonesia Terancam Punah

by -2 views

daun-tehIndonesia yang memiliki jumlah penduduk besar memiliki potensi untuk menjadi importir teh terbesar bila tidak segera memperbaiki kualitas dan kuantitas produktivitas tehnya.

Sebabnya, dalam kurun waktu 6 – 7 tahun terakhir, ketergantungan Indonesia terhadap teh impor telah naik hingga 3000 persen, yakni dari 500 ton/ tahun menjadi 20 ribu ton/ tahun.

Hal itu juga diperparah dengan terus berkurangnya lahan perkebunan teh sebesar 3 ribu hektare (ha)/ tahun pada 10 tahun terakhir.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Teh Indonesia, Rachmat Badruddin pada Seminar Bertajuk Wujudkan Kedaulatan Pangan Indonesia di Aula Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno Hatta, Bandung pada Rabu (3/4).

“Tidak mustahil teh di Indonesia akan punah dan anak cucu kita hanya bisa mengonsumsi teh impor. Padahal, komoditas ini pada masa penjajahan Belanda merupakan salah satu sumber utama pendanaan pembangunan,” katanya.

Ia menjelaskan, potensi ekonomi yang besar tersebut mestinya tidak hanya berhenti pada masa penjajahan saja, karena hingga saat ini pun peluang komoditas tersebut dari sisi ekonomi masih tinggi.

“Namun demikian, memang perlu upaya serius untuk mewujudkan hal tersebut. Yakni dengan dua cara yang mesti dilakukan secara beriringan, pertama melakukan promosi untuk meningkatkan konsumsi teh dan selanjutnya melakukan rehabilitasi yang diiringi peningkatan nilai tambah komoditas teh,” kata Rachmat.

Menurutnya, konsumsi teh di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan India, Srilanka, Cina, dan Inggris.

“India, Srilanka, dan Cina sudah di angka 650 gram/ kapita dalam setahun. Bahkan Inggris sudah mencapai 2,2 kg/ kapita dalam setahun, sementara Indonesia masih 300 gram/ kapita dalam satu tahun. Promosi mesti dilakukan agar konsumsinya bisa naik setidaknya dengan menyamai pencapaian India, Srilanka, dan Cina,” katanya menjelaskan.

Menurut Rachmat, bila promosi berhasil dilakukan, maka dari pasar lokal saja potensi komoditas tersebut akan sangat luar biasa.

Cara berikutnya adalah dengan melakukan rehabilitasi terhadap lahan perkebunan teh. “Terkait hal ini, kami sangat bersyukur pihak kementerian pertanian siap membantu program rehabilitasi tersebut dengan dana sebesar Rp 100 miliar. Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk merehabilitasi lahan perkebunan teh secara nasional dengan luas 47 persen dari total luas perkebunan teh yang ada di Indonesia atau sekitar 56 ribu ha dari total 120 ribu ha. Rehabilitasi akan dilakukan pertama kali di Jabar karena para petani teh terkonsentrasi di daerah tersebut dan karena itu pula 85 persen program rehabilitasi dilaksanakan di Jabar,” katanya.

Program rehabilitasi tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada Tahun 2014 mendatang. “Dana akan langsung disalurkan melalui dinas perkebunan setempat kepada para petani,” kata Rachmat. Dirinya mengatakan, dengan adanya rehabilitasi, diharapkan lahan perkebunan teh yang saat ini telah mengalami kerusakan atau tidak efektif akan memiliki setidaknya 10 – 12 ribu pohon/ ha.

Bila program rehabilitasi sudah berlangsung dengan baik, selanjutnya adalah mengundang investor untuk proses lebih lanjut, yakni meningkatkan nilai tambahnya sehingga margin keuntungan menjadi besar dan dapat mensejaterakan para petani.

“Klaster – klaster dibangun per 300 ha dan diharapkan para petani bisa membangun pabrik untuk proses pengolahan teh. Selain meningkatkan produksi, keberadaan lahan teh yang produktif juga akan menyerap tenaga kerja yang tinggi. Sebabnya, 10 ha lahan teh bisa memperkerjakan rata – rata 17 orang,” katanya. (A – 207/A-89)***

Sumber : pikiran-rakyat.com