Terdakwa Korupsi Quran Sebut Nama Priyo Budi Santoso

by -9 views

183547_priyo-budi-santoso_663_382Terdakwa kasus korupsi pengurusan anggaran pengadaan kitab suci Alquran dan pengadaan komputer untuk Madrasah Tsanawiyah di Kementerian Agama, Dendy Prasetya, menyebut nama Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso dalam rekaman percakapannya bersama terdakwa Zulkarnaen Djabar pada tanggal 11 November 2011.

Dendy Prasetya merupakan anak dari Zulkarnaen Djabar yang merupakan anggota Komisi Agama dan Badan Anggaran DPR. Keduanya sama-sama menjadi terdakwa dalam kasus ini.

Rekaman percakapan antara Dendy dan Zulkarnaen yang disadap KPK tersebut diputar dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis 25 April 2013.

“Pi (panggilan Dendy untuk Zulkarnaen ayahnya), tolong bilang ke Pak Priyo, posisi 1 PT Macanan banting harga, palang (non-muslim). Nomor 2 pemenang tahun lalu, PT Adi Aksara. Nomor 3 kita,” kata Dendy dalam rekaman itu.

Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi, KMS Rony, kemudian mengkonfirmasi penyebutan nama Priyo dalam percakapan tersebut. Sebab, nama Priyo juga disebut dalam percakapan antara Zulkarnaen Djabar dengan Fahd A Rafiq.

Jaksa Rony pun menanyakan siapa Priyo yang dimaksud dalam percakapan itu. “Siapa itu Priyo? Lantas siapa itu PBS (dalam rekaman percakapan tersangka Fadh A Rafiq dengan Zulkarnaen)? Apa yang dimaksud adalah Priyo Budi Santoso?” kata Jaksa Rony kepada Zulkarnaen.

Zulkarnaen membenarkan pertanyaan jaksa bahwa Priyo yang dimaksud adalah Wakil Ketua DPR yang juga Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar. “Iya, itu Priyo Budi Santoso,” kata dia.

Terdakwa Zulkarnaen Djabar mengatakan nama Priyo dipercaya dapat mempengaruhi pihak Kementerian Agama, dalam hal ini Dirjen Bimas Islam saat proyek berjalan – Nasarudin Umar, untuk menentukan perusahaan pemenang tender proyek pengadaan Alquran.

Menurut Zulkarnaen, hanya Priyo yang mampu menjalin komunikasi dengan Nasarudin Umar yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Agama. “Karena ini permintaan pertolongan dari junior, saya terbuka saja. Saya merasa risih atau setidaknya euweh pakewuh (segan) karena ini bukan proyek saya. Lebih baik Pak Priyo saja dihubungi agar berbicara dengan pak Nasarudin,“ ujarnya.

Zulkarnaen mengatakan, nama Priyo spontan ia sebut karena adanya kendala penentuan perusahaan pemenang pengadaan proyek Alquran di Kementerian Agama. Pasalnya, dalam tiga perusahaan pemenang, ada salah satu perusahaan, yakni PT Macanan Jaya Cemerlang, yang membuat dirinya khawatir. “PT Macanan banting harga padahal dia non-muslim. Khawatirnya salah cetak,” kata dia.

Kemudian terlintas di benak Zulkarnaen untuk meminta tolong Priyo agar menghubungi Nasarudin Umar dan membatalkan PT Macanan sebagai pemenang proyek. (ren)

sumber+foto:viva.co.id