JABARMEDIA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang terjadi beberapa waktu lalu mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang pasar di Kota Bogor. Mereka khawatir kenaikan tersebut akan berdampak pada biaya operasional dan harga barang yang mereka jual, terutama dalam jangka pendek maupun panjang.
Pada Selasa (9/7/2026) malam, harga BBM non subsidi Pertamax (RON 92) resmi naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300. Sementara itu, Pertamina Green 95 (RON 95) juga mengalami kenaikan menjadi Rp17.000 per liter dari harga sebelumnya Rp12.900. Kenaikan ini dinilai cukup signifikan dan berpotensi memengaruhi biaya transportasi serta distribusi barang ke pasar.
Rendi, salah satu pedagang daging di Pasar Jambu Dua, Kota Bogor, menyampaikan bahwa kenaikan BBM tentu akan berdampak pada bisnisnya. Namun, saat ini dampaknya belum terasa secara langsung.
“Kalau BBM sih pasti ngaruh. Cuman belum ada inilah lah, sekarang kan belum ini (terasa),” ujarnya. Ia memperkirakan bahwa dampak kenaikan BBM mungkin akan terasa dalam beberapa hari ke depan.
“Entar keliatannya, entar dua atau tiga hari lah. Kalau sekarang sih belum ini, belum ramelah kalau BBM,” tambah Rendi.
Harga Bahan Pokok Tidak Stabil
Meski demikian, Rendi berharap kenaikan harga BBM tidak berdampak signifikan. Ia mengkhawatirkan kondisi perdagangan di pasar yang sedang tidak stabil akan semakin tertekan akibat kenaikan biaya operasional.
Ia menjelaskan bahwa harga daging sapi yang ia jual perlahan mengalami kenaikan sejak Lebaran 2026 kemarin, namun tidak kunjung turun. Saat ini, daging sapi yang ia jual dijual dengan harga Rp150.000 per kilogram.
“Harusnya sih Rp160.000, cuma kan susah sekarang pasarnya (pembeli menurun), Rp150.000 aja susah,” katanya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Buyung, seorang pedagang sayur di pasar yang sama. Ia mengatakan bahwa jika kenaikan BBM berdampak, maka kondisi usahanya akan semakin tertekan karena penjualan yang menurun.
“Sekarang cari uang lagi susah, pengunjung (pembeli) pada kurang,” ujar Buyung. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga BBM baru saja terjadi, sehingga dampaknya belum terasa secara langsung.
“Kalau BBM naiknya baru kan, jadi belum kerasa. Tapi emang semua pasar kalau lagi ngobrol juga di pasar induk, tiap dari pasar mana aja pada ngeluh, turun pembelinya,” ungkapnya.
Dampak Kenaikan BBM pada Perekonomian Pasar
Kenaikan harga BBM non subsidi tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga dapat memengaruhi harga barang di pasar. Hal ini bisa membuat para pedagang kesulitan untuk menetapkan harga yang sesuai dengan biaya produksi dan distribusi.
Beberapa pedagang mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini sudah cukup sulit. Permintaan dari konsumen terus menurun, sehingga mereka kesulitan untuk menjual barang dagangannya. Kenaikan BBM bisa menjadi pemicu utama yang memperparah situasi ini.
Dalam diskusi antar pedagang, banyak yang menyebutkan bahwa penurunan jumlah pembeli telah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat mereka harus lebih hati-hati dalam menentukan harga jual agar tetap kompetitif.
Selain itu, para pedagang juga mengkhawatirkan adanya kenaikan harga barang lainnya yang bisa terjadi sebagai respons atas kenaikan BBM. Misalnya, harga bahan baku, biaya pengiriman, hingga ongkos produksi bisa meningkat, sehingga berdampak pada harga jual akhir.
Para pedagang berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan yang mendukung sektor UMKM, terutama di tengah situasi ekonomi yang masih labil. Mereka juga berharap agar kenaikan BBM tidak terlalu drastis dan dapat diimbangi dengan langkah-langkah yang mendukung perekonomian rakyat.








