Citigroup: Harga BBM Naik, Inflasi Tembus 8,2 Persen

by -2 views
(ANTARA/ Zabur Karuru)
(ANTARA/ Zabur Karuru)

Citigroup memprediksi rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi rata-rata 33 persen akan mendorong inflasi ke tingkat 8,2 persen dan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi berdasarkan produk domestik bruto (PDB) dari 6,2 persen menjadi 6,1 persen.

Managing Director Head of Asia Pacific Economic and Market Analysis Citigroup Global Markets Asia, Johanna Chua, dalam keterangan tertulisnya, Selasa 28 Mei 2013, juga berpandangan bahwa rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi masih harus melewati proses politik.

“Jika pemerintah jadi menaikkan harga BBM, akan berdampak pada tingkat konsumsi dan investasi. Namun, tidak sampai batas yang signifikan,” katanya.

Ia menjelaskan, sektor rumah tangga akan terpengaruh oleh kenaikan harga BBM. Dengan inflasi yang lebih tinggi, masyarakat akan mengurangi pengeluaran lain-lain seperti isi ulang ponsel, belanja pakaian serta pengurangan transportasi kendaraan pribadi untuk mengurangi konsumsi BBM.

Namun, penurunan konsumsi tidak sebanding dengan penurunan subsidi BBM. Menurutnya, subsidi akan terus meningkat meskipun ada kenaikan harga. Pengurangan subsidi akan berpengaruh terhadap kelas menengah pemilik mobil.

Sementara itu, laju konsumsi BBM diperkirakan akan tetap tinggi karena kenaikan harga dapat diatasi dengan mengurangi alokasi tabungan dan menekan kebutuhan lain.

Sedangkan dari sisi investasi, kenaikan harga BBM ini akan meningkatan berbagai bahan konstruksi seperti pasir dan mineral non logam hingga 19 persen. Hal ini penting, mengingat 85 persen pembentukan modal bruto terkait konstruksi.

Di sini, menurut Johanna Chua, pembiayaan perbankan dalam menyediakan modal kerja untuk kontraktor, khususnya proyek pemerintah memiliki peranan penting.

Kemudian, proyeksi defisit fiskal akan lebih tinggi karena peningkatan kebutuhan pembiayaan proyek menjadi sekitar 2,5 persen dari PDB, di mana saat ini baru 1,7 persen. “Perhitungan kami, kenaikan nominal bisa mencapai Rp77 triliun,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia, katanya, dapat menggunakan anggaran dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan menerbitkan obligasi tambahanan potensial sebesar Rp60,8 triliun.

Sementara itu, kenaikan harga BBM diprediksi akan mengurangi impor minyak dan meningkatkan defisit transaksi berjalan sekitar 0,2 persen dari PDB tahunan. Citigroup memperkirakan, rupiah akan berada di Rp9.800-9.900 per dolar AS.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Senin 24 Mei 2013, mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi memicu inflasi sebesar 2,46 persen. Lengkapnya, buka tautan ini. (asp)

sumber:vivanews