Loyalis Anas minta SBY belajar dari Usman bin Affan

by -13 views
SBY Konpers IBAS Mundur. ©rumgapres/abror rizki
SBY Konpers IBAS Mundur. ©rumgapres/abror rizki

Mantan Sekretaris Departemen Agama DPP Partai Demokrat Ma’mun Murod Al-Barbasy tidak henti-hentinya menyerang susunan Daftar Caleg Sementara (DCS) yang telah disetujui oleh Majelis Tinggi Partai Demokrat. Kali ini, dia mengibaratkan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) layaknya khalifah Usman bin Affan yang tumbang dari kekuasaannya karena melakukan praktik nepotisme.

Loyalis Anas Urbaningrum ini mengatakan, praktik nepotisme yang terjadi dalam Partai Demokrat tidak bisa dibiarkan. Menurut dia, pembiaran atau ketidak mampuan mengendalikan praktik nepotisme bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan negara atau partai politik.

“Pemerintahan Khalifah Usman bin Affan bisa jadi contoh faktual pemerintahan nepotis. Akibat ketakmampuannya kendalikan praktik nepotisme, Usman tidak hanya meninggal secara sadis dan berdarah-darah. Tapi juga pemerintahannya keropos dan bobrok,” jelas Ma’mun saat dihubungi, Rabu (1/5).

Dia menyarankan agar SBY sebagai pucuk pimpinan di Partai Demokrat dapat belajar banyak dari sejarah yang terjadi dalam pemerintahan Usman bin Affan. Sehingga, Partai Demokrat bisa tetap eksis.

“Kalau ingin tetap eksis, harusnya Partai Demokrat belajar dari Usman bin Affan,” katanya.

Dia membeberkan, bukti bahwa Demokrat melakukan nepotisme yang paling jelas terjadi saat penyusunan DCS oleh elite partai berlambang bintang Mercy ini.

“Bukti paling faktual tentu dalam penyusunan caleg yang jauh dari proporsional dan penuh kezaliman. Banyak keluarga atau kroni ‘Bani Cikeas’ yang jauh dari layak untuk menjadi caleg tempati ‘nomor peci’. Sementara banyak kader partai yang selama ini telah bekerja keras besarkan partai ditempatkan di nomor urut yang jauh dari proporsional,” tuturnya.

Ma’mun mengungkapkan, beberapa contoh penyusunan DCS yang dia nilai jauh dari rasa keadilan, seperti nama seorang dokter gigi Lintang Pramesti yang baru lulus, bukan pengurus, juga bukan aktivis. Namun kenyataannya mendapat nomor urut 2 di Dapil Jabar VIII.

“Sementara Syukri, aktivis, pengurus harian, kontribusinya besar buat partai dan selama ini sudah bangun basis di Dapil hanya ditaruh di nomor 3,” terangnya.

Dia juga mempertanyakan alasan SBY menempatkan Ruhut Sitompul di nomor urut satu dalam dapil Sumatera Utara satu. Sementara peraih suara terbanyak berada di nomor 5.

“Wahab Dalimunthe, peraih suara terbesar di Sumut 2009 hanya dapat nomor 5, Ramadhan Pohan hanya nomor 4. Sementara nomor 1 justru Ruhut,” ucap dia.

Sementara itu, tambah dia, nama lainnya, Mexicana Wibowo di daerah pemilihan DKI I tiba-tiba saja muncul. Padahal, Mexicana bukan pengurus dan aktivis partai.

“Bandingkan dengan Carrel (pengacara Anas), pengurus harian dan aktivis partai, yang malah tidak masuk. Astuti Wulandari juga sama, dan dapat nomor 3,” tegas dia.

Hal lainnya, lanjut dia, menimpa Mirwan Amir sebagai pendiri Partai Demokrat di Aceh ditempatkan tidak terhormat. Sementara istri Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan, Ingrid Kansil berada di nomor urut pertama.

“Bandingkan dengan Mirwan Amir, pendiri Partai Demokrat di Aceh ditempatkan secara tidak terhormat. Ada Pasha harus turun ke nomor 2 karena nomor 1 harus ditempati Inggrid yang juga menempati nomor satu,” tandasnya.

Seperti diketahui, Usman bin Affan merupakan khalifah Islam ke tiga. Awalnya, pemerintahannya berjalan lancar dan makmur. Namun, Usman memecat sejumlah gubernur dan petinggi kemudian digantikan oleh anggota keluarganya. Tindakan Usman yang terkesan nepotisme itu, mengundang protes dari orang-orang yang dipecat.

Singkat cerita, muncul konflik dan intrik terhadap kepemimpinan Usman dari pihak yang kecewa. Kediaman Usman kemudian dikepung dari berbagai penjuru. Dia kemudian dibunuh dalam usia 82 tahun setelah menjabat sebagai khalifah selama 12 tahun.

Banyak versi mengenai pembunuh Usman. Ada riwayat yang menyebut Usman dibunuh oleh Muhammad bin Abu Bakar. Sementara, dalam riwayat lain, disebutkan yang membunuh adalah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Riwayat lain menyebutkan pembunuhnya adalah Al Ghafiki dan Sudan bin Hamran.

[dan]
sumber+foto:merdeka.com