Revitalisasi Pasar Tradisional di Sumedang Dibutuhkan

by -7 views

1800635Revitalisasi pasar tradisional di Sumedang dengan membangun pasar semi modern, mutlak harus dilakukan bahkan mendesak untuk segera dilaksanakan, Jika tidak, keberadan pasar becek itu akan terlindas oleh pasar modern di era globalisasi perdagangan bebas saat ini.

“Di era globalisasi perdagangan bebas, keberadaan pasar tradisional harus diindungi. Sebab, pasar tradisional menjadi barometer perekonomian masyarakat dan daerah. Oleh karena itu, sudah saatnya pasar tradisional di Sumedang dibangun menjadi semi modern supaya memiliki daya saing dengan pasar modern yang kini menjamur,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kab. Sumedang, Drs. Dedi Hermawan Charis di ruang kerjanya, Senin (19/8/2013).

Ia mengatakan, perbedaan kondisi pasar tradisional dengan pasar modern sangat jauh dan memiliki gap (pemisah) yang terlalu lebar. Tak dipungkiri, kondisi pasar tradisional di Sumedang saat ini masih kesan lama sebagai pasar becek, bau, kumuh dan semrawut. Jauh berbeda dengan pasar modern dari mulai mini market hingga mall. Kesannya bersih, nyaman, indah dan elegant. Tak pelak, konsumen lebih memilih berbelanja ke pasar modern dengan menguras habis anggaran belanjanya.

“Sementara, pasar tradisional ditinggalkan dan dilupakan masyarakat. Sangat wajar, sebab orang enggan masuk ke pasar yang becek, bau, kumuh dan semrawut. Supaya pasar tradisional tidak dilupakan dan ditinggalkan orang, mau tak mau harus dibenahi menjadi pasar semi modern,” kata Dedi.

Sebetulnya, kata dia, proses revitalisasi pasar tradisional menjadi pasar semi modern di Sumedang sedang berlangsung di Pasar Inpres dan Sandang Sumedang di Kec. Sumedang Utara serta Pasar Cimanggung Kec. Cimanggung. Hanya disayangkan, prosesnya berjalan lambat bahkan terhadang rintangan dan hambatan yang cukup krusial. Kendala itu, terutama kekurangpahaman SDM (sumber daya manusia) para pedagang terhadap tujuan dan manfaat besar revitalisasi pasar tradisional tersebut. Mereka cenderung mempersoalkan masalah klasik.

“Mereka takut, kalau pasarnya dibangun jualannya jadi sepi karena kios baru yang didapat kurang strategis hingga khawatir ditinggalkan pelanggan. Bahkan mereka merasa harus memulai usaha dari nol lagi. Semantara kios lama dianggap sangat menguntungkan sehingga berat untuk ditinggalkan. Padahal, dengan pasar semi modern akan diatur penempatan kios sesuai zonasi produknya. Dengan sistem zonasi itu, semua pedagang akan diuntungkan,” katanya.

Kendala lainnya, kata dia, persoalan harga kios dan lapak sulit mencapai titik temu. Terlebih masalah harga dan persoalan lainnya, makin diperkeruh oleh provokasi kelompok di luar pedagang yang ingin mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya. “Kami berharap, agar para pedagang tidak mudah terprovokasi oleh oknum kelompok yang berusaha memperkeruh suasana dan menghambat program revitalisasi pasar tradisional,” tuturnya.

Dedi pun berharap agar pedagang terbuka pikirannya untuk mendukung kelancaran revitalisasi pasar tersebut. Sebab, tujuan revitalisiasi pasar itu untuk memajukan usaha para pedagang sekaligus melindungi serbuan dan persaingan pasar modern. “Kalau tidak, pasar tradisional akan terlindas oleh pasar modern. Apalagi pasar modern sudah memagari ruang gerak usaha para pedagang kecil menengah di pasar tradisional. Keberadaannya makin menjamur dimana-mana,” ujarnya. (pikiran-rakyat.com)