Bima-Ru’yat Beda Tipis

by -12 views
pilwalkotbogor1
photo: google

Sepekan jelang penyelenggaraan pesta demokrasi Kota Hujan, Radar Bogor kembali menggelar simulasi ‘coblosan’ pemilihan Walikota Bogor 2013-2018, kemarin. Simulasi ini kembali dilakukan untuk mengukur pengenalan masyarakat terhadap pasangan calon walikota (cawalkot) dan tingkat partisipasi masyarakat.

Tim simulasi pilwalkot periode kedua ini melibatkan kurang lebih 20 mahasiswa Universitas Ibn Khaldun (UIKA), dengan sistem pemilihan acak di pusat-pusat keramaian, di lima daerah pemilihan (dapil) Kota Bogor.

Berbekal 6.000 sampel kertas suara yang digunakan, tercatat hanya 2.600 masyarakat yang mau berpartisipasi. Suara yang masuk terbagi dari 2.351 suara sah, dan 249 suara yang dinyatakan tidak sah secara mekanisme pencoblosan.

Dari total suara sah, persaingan ketat hasil uji coba coblosan kedua ini masih berlangsung di dua pasangan calon. Yakni nomor urut 2 Bima Arya-Usmar Hariman dan nomor urut 3 Achmad Ru’yat-Aim Halim Hermana.

Gap hasil coblosan antar kedua pasangan cawalkot ini hanya 1,42 persen. Dimana Bima-Usmar mendapat coblosan 709 suara atau 27,27 persen dari total suara, sedangkan Ru’yat-Aim mendapat 746 suara atau 28,69 persen dari total suara yang masuk.

Sementara, masyarakat yang mencoblos pasangan Dody-Untung sebanyak 366 atau 14,08 persen dari total suara. Posisi keempat ditempati pasangan independen Firman-Gartono dengan 273 coblosan atau 10,50 persen dari total suara, disusul kemudian pasangan calon Syaiful-Muztahidin dengan 257 atau 9,88 persen dari total suara yang berhasil dijaring tim simulasi.

Terdapat perbedaan yang mencolok antara hasil simulasi pilwakot kemarin dengan hasil pada bulan lalu (29-31/8). Sebelumnya, dari hasil koreksi Tim Litbang Radar Bogor, co blosan terbanyak diraih Ru’yat-Aim dengan 653 suara (39,01%). Sedangkan Bima-Usmar mendapat coblosan 499 suara atau 29,81 persen.

Pasangan nomor urut tiga, Dody- Untung menyusul dengan mendapat coblosan sebanyak 197 (11,77%), disusul kemudian pasangan Syaiful- Muztahidin dengan 165 suara (9,86%) dan Firman-Gartono dengan 139 suara (8,30%). Dari total suara yang masuk sebanyak 1.674 suara, terdapa 21 suara atau 1,25 persen yang tercoblos tidak sah.

Melihat perbedaan hasil di dua simulasi itu, Kepala Proyek Simulasi Pilwalkot Bogor 2013, Hendra Sudrajat mengatakan, pemahaman politik di Kota Bogor berlangsung sangat dinamis. Simulasi ini, sambung Hendra, bisa dijadikan acuan dasar bagi para tim sukses cawalkot untuk melihat pemahaman masyarakat terhadap pilihannya.

“Partisipasinya meninggi. Kami berpendapat, kompetisi di pilwakot nanti bakal berlangsung seru,” jelasnya. Simulasi periode dua ini dilakukan sejak pukul 08:00. Tim simulasi bergerak ke titik-titik keramaian, dimulai dengan sejumlah pasar tradisional.

Pemilihan pasar sebagai lokasi pengambilan sampel dikarenakan jumlah pemilih cukup besar. Dengan membawa duplikat kotak suara, tim simulasi kemudian mempersilakan pemilih potensi untuk menggunakan hak suaranya secara sukarela. Tentunya para pemilih ditanya terlebih dahulu daerah domisili mereka. “Kami tanya, apakah pemilih adalah warga kota atau bukan,” ujarnya.

Pangambilan sampel suara di sejumlah pasar tradisional di lima Dapil menunjukkan angka yang cukup tinggi. Semisal di Dapil 1 atau kawasan Bogor Timur dan Tengah, masyarakat yang mencoblos foto pasangan calon Bima-Usmar sebesar 105 suara atau 14,94 persen dari total suara. Sedangkan coblosan untuk pasangan Ru’yat-Aim masih lebih unggul yakni 107 atau 15,22 persen.

Di dapil ini, perolehan suara untuk pasangan Ru’yat-Aim hanya unggul di pasar dan kantor-kantor pemerintahan. Sementara di sejumlah titik pengambilan sampel lainnya seperti perumahan, kampus, dan kelurahan, suara untuk pasangan calon Bima-Usmar masih lebih unggul. Di perumahan misalnya, perolehan suara untuk Bima-Usmar sebesar 25 atau 3,56 persen.

Bima-Usmar juga menang telak di kawasan kampus di Dapil 1, yakni sebesar 71 atau 10,10 persen dari total suara. Di lingkungan akademisi ini, pasangan Ru’yat- Aim hanya mendapat 39 suara atau 5,55 persen dari total suara Dapil 1. Secara akumulatif, Bima- Usmar unggul di Dapil 1 dengan perolehan 233 suara atau 33,14 persen, diikuti pasangan Ru’yat- Aim dengan 201 suara atau 28,59 persen dari total 703 suara yang masuk.

Sementara itu, jelas Hendra, fakta berbeda muncul pada perolehan suara di Dapil 4 atau kawasan Bogor Selatan. Sampel suara terbesar yang berhasil dijaring di Dapil ini mendukung pasangan calon nomor 4, Dody Rosadi- Untung Maryono sebanyak 46 suara atau 15,03 persen dari total 306 suara yang masuk di Dapil 2. Pasangan ini juga menguasai sejumlah titik pangambilan sampel seperti perumahan, kantor-kantor pemerintahan dan kampus. Dody- Untung unggul di Dapil 2 dengan perolehan 101 suara atau 33,01 persen, diikuti pasangan Ru’yat- Aim dengan 94 suara atau 30,72 persen dari total 306 suara yang masuk di Dapil 2.

Perolehan suara di Dapil 3 atau Bogor bagian Barat juga dikuasai pasangan Bima-Usmar. Sampel yang didapat tim simulasi dari pasar-pasar tradisional di kawasan ini, 44 suara atau 9,54 persen diraih Bima-Usmar. Ru’yat-Aim hanya memperoleh 37 suara atau 8,03 persen disusul pasangan Dody- Untung sebesar 16 suara atau 3,47 persen.

Secara akumulatif, pasangan Bima- Usmar unggul dengan 152 suara atau 32,97 persen, diikuti pasangan Ru’yat-Aim sebesar 142 suara atau 30,80 persen. Pasangan Dody- Untung memperoleh 46 suara atau 9,98 persen, sementara kedua pasangan calon dari independen Syaiful-Muztahidin dan Firman- Gartono mendapat suara yang sama yakni 27 suara atau 5,86 persen dari total 461 total suara yang masuk dari Dapil 3.

Sedangkan perolehan suara di Dapil 4 atau kawasan Tanahsareal, dikuasai pasangan Ru’yat-Aim dengan total 168 suara atau 36,84 persen. Bima-Usmar masih berada di posisi kedua dengan perolehan 150 suara atau 32,89 persen. Disusul kemudian dengan pasangan nomor 5 Syaiful-Muztahidin sebesar 44 suara atau sebesar 9,55 persen. Dody-Untung berada di posisi keempat dengan 43 suara atau 9,43 persen dan di posisi terakhir pasangan Firman-Gartono dengan 23 suara atau 5,04 persen dari total 456 suara yang masuk dari Dapil 4. Di Dapil ini, antusias masyarakat mengikuti simulasi masih terlihat besar di kawasan pasar dan perniagaan.

Hendra menambahkan, peta politik kembali berubah pada perolehan suara di Dapil 5 kawasan Bogor Utara. Di daerah pemilihan ini, pasangan independen Firman- Gartono menjadi raja dengan perolehan 148 suara atau 21,96 persen. Pasangan Ru’yat-Aim menyusul dengan 141 suara atau 20,92 persen, dan pasangan Bima- Usmar di peringkat ketiga dengan 123 suara atau 18,25 persen.

Di Dapil ini Dody-Untung mendapat 95 suara atau 14,09, dan Syaiful-Muztahidin dengan 88 suara atau 13,06 persen. Potensi pemilih terbesar di Bogor Utara masih di kawasan perniagaan dan pasar tradisional. Jumlah total pemilih di Dapil ini yang berhasil dirangkum sebanyak 674 suara.

Pemimpin Redaksi Radar Bogor, Nihrawati AS, menambahkan, melalui simulasi coblosan ini tercermin tipikal pemilih di Kota Bogor. Mereka yang mau diajak berpartisipasi lebih banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Selain itu, tim simulasi lagi-lagi menemukan budaya politik uang dalam pesta demokrasi. Terbukti, Mahasiswi UIKA, Septiana, yang menjadi salah satu koordinator tim banyak mendapat pertanyaan dari pemilih potensi perihal imbalan yang akan didapat bila menggunakan hak suara.

“Ada anak muda yang mengharapkan imbalan dari kegiatan yang kami lakukan. Dia tanya, ‘ada uangnya tidak? Bahkan, parahnya ada masyarakat yang menyangka Pilwalkot sudah dilaksanakan Minggu (8/9). Padahal itu pilbup,” ungkapnya.

Temuan lainnya, masih banyak warga yang tidak mengetahui bahwa pada Sabtu 14 September 2013 akan diadakan pemilihan Walikota Bogor. “Ketika kami melakukan sosialisasi ke pasar, banyak masyarakat yang tidak tahu ada pemilihan. Mereka padahal warga yang memiliki hak suara,” jelas anggota tim, Fitri.

Kehati-hatian masyarakat dalam menggunakan hak suara juga patut diacungi jempol. Fitri menuturkan, ada kejadian unik ketika mereka melakukan simulasi di kawasan Bogor Selatan.

“Ada warga yang sampai menelepon Panwaslu dan PPK untuk memastikan kegiatan ini resmi dari KPU. Padahal kami sudah menjelaskan bahwa simulasi ini bentuk kerja sama dengan Radar Bogor. Dia bilang suaranya takut disalahgunakan,” jelasnya.

Sumber: radar-bogor.co.id