Liburan, Mandi Embun di Curug Malela

by -62 views

curug malelaKEINDAHAN alam Jawa Barat memang tidak ada duanya, salah satunya Curug Malela di Kabupaten Bandung Barat. Sebuah air terjun yang memiliki keindahan dan panorama alam yang menjanjikan kesegaran dan kesejukan, walaupun belum digarap maksimal oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Banyak orang menyebut Curug Malela sebagai Niagara kecil. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 30 – 50 m dan lebar 50 m. Air terjun ini hulu sungainya berasal dari lereng utara Gunung Kendeng yang mengalir membentuk jaringan sungai Cidadap dan bermuara ke Cisokan.

Aliran airnya sangat deras namun menyejukan bagi siapa saja yang mengunjungi curug tersebut. Terutama cipratan air yang jatuh ke dasar sungai sehingga membentuk kabut atau embun air terhempas angin. Jika menerpa wajah dan badan kita, rasa sejuk akan terasa hingga tembus ke tulang. Apabila kita berada di dekat air terjun, serasa mandi. Karena dalam waktu sekejap, badan kita akan kuyup terkena embun curug yang sejuk dan menyegarkan.

Apabila sedang beruntung kita dapat menyaksikan ratusan ekor monyet ekor panjang (macaca pasciscularis) sedang minum air di bawah Curug Malela. Suatu pemandangan yang mengasyikan. Sayang, saat penulis ke sana, tidak ada satu ekor pun monyet ekor panjang yang menampakkan batang hidungnya.

Curug Malela merupakan air terjun paling atas dari rangkaian tujuh air terjun sepanjang 1 km di sungai Cidadap. Urutannya adalah Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir dan ditutup dengan Curug Pameungpeuk. Semua curug ini terletak di desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat.

Setiap air terjun yang ada disana memiliki kekhasan tersendiri. Seperti Curug Malela memiliki air terjun yang terpisah saat jatuh dengan 5 jalur yang ada. Curug Katumiri pada pukul 8-9 pagi bisa memperlihatkan pelangi di badan air terjun. Curug Ngebul adalah kebalikan dari Curug Malela, yaitu air yang jatuh justru berkumpul sehingga menimbulkan efek kabut dan suara yang menggelegar.
Sementara Curug Manglid memiliki goa di belakang air terjunnya. Curug Sumpel memiliki daerah di bawah air terjun yang lebar meski terlihat sempit dari kejauhan.Sedangkan Curug Palisir mirip Curug Malela meski dengan ketinggian yang lebih rendah. Terakhir, Curug Pameungpeuk adalah air terjun dengan muara antara Sungai Cidadap dan Cisoka yang terletak tidak jauh dari air terjunnya.

Aksesibilitas menuju lokasi menjadi kendala utama yang menjadi hambatan pengembangan kawasan wisata ini. Sekalipun pada tahun 2009 – 2010, pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar menggelontorkan dana sekitar Rp 1,2 miliar untuk penataan dan pembuatan jalan setapak ke curug Malela. Namun sayang, aksesibilitas ke sana tidak diurus dan dikelola dengan baik, sehingga kondisinya saat ini hancur tak karuan. Sehingga membuat para pengunjung harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa sampai ke curug yang menawan ini.

Untuk bisa mencapai Curug Malela relatif mudah. Setelah tiba di Ds. Cicadas, sejumlah warga setempat siap memandu Anda menuju ke lokasi air terjun. Jarak sekitar 80 km arah barat daya dari Kota Bandung, Ds. Cicadas ini terbilang desa “paling ujung” dari Kab. Bandung Barat yang berbatasan langsung dengan Kab. Cianjur. Untuk bisa mengunjungi desa ini dari Kota Bandung, diperlukan waktu sekitar 4 jam, dengan melewati beberapa kecamatan, yaitu Batujajar, Cililin, Sindangkerta, Gununghalu, hingga Kec. Rongga.

Jika ingin menggunakan kendaraan umum, angkutan minibus dari Cimahi atau dari Bandung bisa menjadi pilihan. Hanya saja, angkutan ini hanya bisa sampai Sindangkerta. Sisa perjalanan harus ditempuh dengan ojek serta berjalan kaki.

Kendaraan pribadi pun bisa juga digunakan. Namun kendaraan yang digunakan haruslah kendaraan tinggi atau jenis 4 x 4. Pasalnya, sekitar 10 km jalan menuju Desa Cicadas berada dalam kondisi rusak parah. Itu pun hanya bisa digunakan hingga Ds Cicadas, tidak sampai Curug Malela. Selanjutnya Anda harus jalan kaki atau naik ojeg.

Perjalanan menuju pusat curug berjarak sekitar 2 km, dengan medan yang sangat curam. Walaupun kini telaj dibangun jalan setapak serta sejumlah tempat istirahat, tetap saja diperlukan energi yang lebih agar Anda bisa kembali lagi ke Ds. Cicadas.

Melewati semak belukar yang tinggi, jurang, serta sawah tadah hujan milik penduduk setempat. Namun, kondisi udara kawasan itu sangat bersih dan sejuk sehingga perjalanan tetap menyenangkan dan menyegarkan. Apalagi, selama perjalanan terdengar suara deburan air terjun dari kejauhan.
Meski potensinya luar biasa, infrastruktur yang dimiliki masih sangat minim. Badan jalan cukup sempit. Bahkan, tidak satu pun papan petunjuk terpasang guna memandu pengunjung menuju Curug Malela. Papan penunjuk arah hanya ada di Desa Cicadas. Padahal, dari kantor desa setempat menuju lokasi wisata masih 3 kilometer lagi.

Sebenarnya di kawasan ini (Kecamatan Rongga masih ada beberapa curug yang indah dan layak dikunjungi. Seperti Curug Buana, Curug Cilinggapayung dan Curug Nyandung. Sayangnya untuk mencapai kedua tempat itu harus melalui medan yang berat dan rusak.

(Galamedia)