Nestapa Keluarga Miskin di Aceh Besar yang Anak Balitanya Sakit Paru-paru

by -1 views

keluarga acehRumah ukuran 2X6 meter itu tak layak disebut tempat tinggal. Dindingnya terbuat dari pelepah rumbia dan atap dari daun rumbia. Kayu yang dijadikan tiang penopang bangunan diambil dari hutan. Tak ada kamar tidur di dalamnya. Kala hendak melepaskan lelah pada malam hari, keluarga miskin ini hanya mengikat kelambu.

Gubuk yang dibangun di atas tanah warga di Desa Lamreh, Kecamatan Krueng Raya, Aceh Besar, Aceh itu milik Nurdin (52). Ia bersama istri dan tiga orang anak sudah lima tahun menetap di sana. Sebelumnya, keluarga ini tinggal di Laweung, Pidie tapi karena tidak ada pekerjaan tetap, mereka akhirnya hijrah ke tempat tinggal saat ini.

“Saya kerja serabutan. Tidak ada pekerjaan tetap,” kata Nurdin saat ditemui di rumahnya, Sabtu (19/9/2015).

Pekerjaan yang menghasilkan uang semua dilakoni Nurdin. Ia pernah menjadi pedagang ikan keliling dengan penghasilan pas-pasan. Kini, ia bekerja sebagai tukang bersih kebun warga dengan pendapatan sekitar Rp 75.000 per hari. Angka itu hanya cukup untuk membeli kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Beban hidup Nurdin semakin bertambah setelah buah hati ketiganya diketahui mengidap penyakit paru-paru. Bocah bernama Rifda Ufaira (2,5) itu menderita penyakit tersebut sejak setahun lalu. Ia sudah pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh sebanyak kali.

“Kami terpaksa membawanya keluar dari rumah sakit karena tidak punya biaya untuk merawat di sana. Untuk pengobatan memang ditanggung semua, tapi kami juga butuh biaya selama menjaga dia di rumah sakit,” jelas Nurdin.

Tubuh Rifda kini semakin kurus. Ia hanya bisa berbaring saban hari dalam ayunan. Rifda menghabiskan usia pertumbuhannya dengan melawan penyakit paru-paru yang dideritanya. Sejatinya, usia dua tahun memang sedang masa lucu-lucunya sang anak.

Untuk kesembuhan Rifda, dokter menyarankan agar bocah tersebut tidak kena angin malam. Tapi hal itu sepertinya terlalu berat bagi keluarga miskin ini. Pasalnya, letak rumah mereka di atas bukit dan tak jauh dari laut. Bukan itu saja permasalahannya, dinding rumah Nurdin juga tidak dapat menahan hembusan angin.

Menurut Nurdin, buah hatinya itu seharusnya juga membutuhkan vitamin dan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan. Tapi karena himpitan ekonomi, Nurdin tidak sanggup memberikan makanan bergizi untuk anaknya.

“Dia kami beri apa yang kami makan. Kalau beli vitamin kami tidak sanggup,” ungkap Nurdin sambil berlinang air mata.

Kala Rifda menangis tengah malam, Nurdin hanya menutup putrinya tersebut dengan kain tebal. Hal itu dilakukannya agar buah hatinya tidak kedinginan. “Kami mengharapkan ada dermawan yang membantu biaya untuk pengobatan anak kami,” kata Nurdin.

Kisah Nurdin merupakan potret kemiskinan Aceh di tengah melimpahnya dana Otonomi Khusus (Otsus). Padahal, dana Otsus yang dikucurkan pemerintah pusat untuk provinsi paling barat Indonesia ini selalu meningkat saban tahun. Tapi kenyataannya, angka kemiskinan di Aceh masih tinggi. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, jumlah penduduk miskin Aceh pada Maret 2015 mencapai 851 ribu orang atau 17,08 persen.

Meski hidup di bawah garis kemiskinan, Nurdin tidak pernah mengeluh. Baginya hidup butuh perjuangan dan usaha. “Karena namanya hidup kata sulit dan senang, itu biasa. Kita harus tetap bersyukur,” ungkap Nurdin.

(detik.com)