Kades Hariyono ‘Bernyanyi’, Sebut Aktivis Anti Tambang juga Terima Uang

by -5 views

kasus selok awar2Kades Selok Awar-awar, Hariyono, bernyanyi. Dia menjelaskan uang Rp 426 juta yang diperoleh dari tambang pasir pantai ilegal disebar ke mana-mana. Mulai aparat keamanan, pejabat desa, hingga aktivis. Aktivis anti tambang?

Hariyono menjelaskan, Iksan Umar yang disebut-sebut sebagai aktivis menerima Rp 250 ribu per bulan. Pemberian itu berjalan selama 3 bulan. “Kemudian sampai kejadian ini (pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan) sudah tidak menerima lagi,” kata Hariyono saat bersaksi dalam sidang disiplin 3 oknum polisi di Mapolda Jatim, Senin (12/10/2105).

Menurut Hariyono, Salim Kancil juga pernah menerima Rp 1 juta. Salim mendatangi kades dan meminta uang lagi. Namun ditolak kades, karena Salim sudah memiliki penambangan pasir ilegal di sungai Mujur, Desa Lempeni.

“Saya akui penambangan pasir ilegal. Salim juga punya penambangan di Sungai Lempeni juga ilegal,” terangnya.

Setiap hari, Hariyono menerima uang Rp 142 ribu per truk. Padahal ada 80-100 truk. Jika ditotal, maka dalam sebulan terkumpul uang Rp 426 juta. Sebagian uang digunakan untuk pembangunan desa, insentif ke oknum Polsek Pasirian, Koramil Pasirian, Camat, Perhutani, LSM, wartawan, hajatan hingga pembebasan PBB seluruh warga.

Tak dijelaskan berapa banyak yang digunakan untuk kepentingan pribadi Haryono. Hanya saja, kepolisian menetapkan Hariyono sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang (TPPU). Dari hasil tambang ilegal, Hariyono disangka membeli dan merenovasi rumah, dan membeli mobil Nissan Evalia.

“Sementara ini yang sudah kita amankan sebagai barang bukti mobil Evalia,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono usai menghadiri sidang disiplin.

Selain Hariyono, pejabat desa bernama Eko, dan pengurus alat berat penambangan pasir di Selok Awar-awar, Harmoko, juga dihadirkan sebagai saksi.

(detik.com)