Banjir di Citayam Bojong Gede Bogor Belum Surut, Warga Pakai Air Kotor untuk Mencuci

by -5 views
banjir di citayam bojong gede bogor

Banjir yang menerjang Komplek Puri Citayam Permai, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Rabu 1 Januari 2020 menyebabkan padamnya listrik.

Hingga Jumat 3 Januari 2020, listrik masih padam. Sekitar 140 jiwa yang menghuni 30 rumah di lokasi banjir terdampak pemadaman listrik.

Padamnya listrik membuat warga kesulitan beroleh air bersih. Selama dua hari, warga bergantung kepada aliran air banjir yang menggenang di depan rumah untuk sekadar mencuci pakaian dan membersihkan barang-barang yang kotor dipenuhi lumpur.

“Kami terpaksa mencuci pakai air banjir. Tak apalah airnya kotor dan baunya kurang sedap, yang penting ada air,” kata Isa, salah seorang warga.

Supriadi, Ketua RT 2 menjelaskan, pasokan air bersih masih minim. Selain bergantung keapda air banjir, warga hanya mengandalkan air yang didapat dari rumah-rumah warga lain yang tak tersentuh banjir.

Warga bisa dapat air bersih di rumah-rumah warga yang disulap jadi posko pengungsian. Sejauh ini bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Bogor belum datang.

“Bantuan air dari PDAM juga belum kelihatan,” ucap Supriadi.

Bantuan pemerintah, kata Supriadi, belum terlalu banyak. Sampai hari ketiga banjir, warga masih kedinginan saat malam.

“Di posko pengungsian belum ada tikar dan selimut. Pemerintah belum memberi itu semua. Sekarang masih sebatas bantuan makanan,” katanya.

Bantuan Pemkab Bogor lain yang terlihat adalah pendirian posko kesehatan dari Puskesmas Bojong Gede sejak hari pertama banjir.

Puskesmas menyiapkan 6 tenaga medis setiap harinya, lengkap dengan dokter dan bidan.

“Kami melayani korban banjir yang mengalamai masalah kesehatan secara fleksibel. Korban tak melulu datang ke posko. Kami setiap hari keliling tempat pengungsian,” kata Agus Sofyan, kepala petugas puskesmas.

Hingga Jumat sore, arus banjir terpantau masih deras. Tali-tali yang dipakai warga untuk berpegangan saat berjalan di tengah banjir masih terpasang.

Sementara itu, jebolnya tanggul aliran Setu Cibeureum, yang mengakibatkan banjir di komplek tersebut masih belum diperbaiki.

Sejauh ini, belum ada kegiatan berarti dari Dinas PUPR. Tanggul yang jebol baru ditambal bronjong kawat.

“Kami berharap pemerintah bisa membuah tanggul yang lebih kokoh supaya bencana serupa tak berulang,” ujar Supriadi.

Posisi tanggul yang rusak tepat bersemuka dengan komplek. Tak ayal, banjir akan langsung menerjang ketika tanggul jebol.

Peristiwa jebolnya tanggul menewaskan warga bernama Bagas (24). Dia terseret arus dan jasadnya baru ditemukan beberapa jam kemudian.

(pikiran-rakyat.com)