Kecepatan Respons sebagai Prioritas Utama
Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Depok menekankan pentingnya setiap detik dalam menanggapi laporan darurat dari masyarakat. Respons cepat petugas menjadi prioritas utama, baik untuk menyelamatkan nyawa manusia maupun makhluk hidup lainnya. Hal ini mencerminkan komitmen Damkar dalam menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Kabid Pengendalian Operasional Kebakaran dan Penyelamatan Damkar Depok, Tesy Haryanti, menjelaskan bahwa para personel memperhitungkan setiap detik yang dianggap berharga saat melakukan upaya penyelamatan. Menurutnya, setiap detik yang terlewat bisa berdampak besar pada keselamatan jiwa.
“Kami dari Damkar Depok sangat menghargai setiap detik untuk menyelamatkan nyawa orang. Tidak hanya untuk nyawa orang saja, makhluk Allah apapun itu akan tetap kami selamatkan,” ujar Tesy.
Prinsip tersebut menjadi dasar peningkatan respons time Damkar Depok, yang hingga Oktober 2025 tercatat rata-rata 13,22 menit. Angka ini masih berada di bawah standar maksimal 15 menit yang diatur dalam Permendagri No. 114 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sub Urusan Kebakaran Daerah Kabupaten/Kota.
Hingga Oktober, Damkar Depok menangani 1.749 laporan, terdiri atas 176 kasus kebakaran dan 1.573 laporan non-kebakaran. Dalam hal ini, Damkar memiliki personel yang cukup untuk melayani seluruh layanan panggilan darurat di Depok dengan penempatan personel yang siaga 24 jam sehari.
Personel Damkar tersebar di delapan pos dengan dukungan 35 unit kendaraan pemadam (PTO) dan perlengkapan lengkap, yang turut mempercepat respons dalam menangani laporan masyarakat.
Perhatian dari Wakil Kepala Polri
Fenomena ini juga mendapat perhatian dari Wakil Kepala Polri (Wakapolri) Komjen Dedi Prasetyo. Ia mengakui bahwa masyarakat kini lebih cenderung menghubungi Damkar saat membutuhkan respons cepat, dibandingkan melapor melalui layanan kepolisian. Hal ini disebabkan lambatnya quick response time di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), yang masih berada di atas standar internasional 10 menit.
“Di bidang SPKT, dalam laporan masyarakat, lambatnya quick response time. Quick response time standar PBB itu di bawah 10 menit, kami masih di atas 10 menit. Ini juga harus kami perbaiki,” ujar Dedi dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI.
Akibat kondisi ini, sebagian warga memilih melapor ke instansi lain yang dinilai lebih sigap, termasuk Damkar. Dedi menekankan, pembenahan sistem pelaporan kepolisian menjadi prioritas, terutama melalui optimalisasi layanan aduan 110.
“Saat ini masyarakat lebih mudah melaporkan segala sesuatu ke Damkar, karena Damkar quick response-nya cepat. Dengan perubahan optimalisasi 110, harapan kami setiap pengaduan masyarakat bisa direspons di bawah 10 menit,” tambah Wakapolri.
Strategi Peningkatan Respons Time
Untuk meningkatkan respons time, beberapa strategi telah diterapkan oleh Damkar Depok. Pertama, peningkatan jumlah personel dan alat pendukung seperti kendaraan pemadam kebakaran. Kedua, penyebaran pos-pos pencegahan kebakaran di berbagai wilayah kota. Ketiga, pelatihan berkala bagi petugas agar dapat merespons dengan cepat dan efektif.
Selain itu, koordinasi antarinstansi juga menjadi fokus utama. Dengan bekerja sama dengan lembaga lain seperti polisi dan rumah sakit, Damkar berharap dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Kesimpulan
Kecepatan respons menjadi faktor penting dalam menangani keadaan darurat. Damkar Depok telah menunjukkan komitmennya dalam menjaga keselamatan masyarakat dengan waktu respons yang relatif cepat. Namun, ada ruang untuk peningkatan lebih lanjut, terutama dalam hal koordinasi dan optimisasi layanan. Dengan kerja sama yang lebih baik antarinstansi, diharapkan masyarakat dapat merasa lebih aman dan nyaman dalam menghadapi situasi darurat.








