Rusia Jamin Senjata Kimia Suriah Aman

by -3 views
Foto : seputar-indonesia
Foto : seputar-indonesia

Rusia menjamin Presiden Suriah Bashar al-Assad tidak berencana melancarkan serangan senjata kimia pada pemberontak. Jika Suriah tetap melakukannya, aksi itu bakal menjadi blunder politik. Pernyataan itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi RT. ”Saya tidak yakin kalau Suriah bakal menggunakan senjata kimia,” kata Lavrov dikutip RT.

”Itu bakal menjadi bunuh diri politik jika pemerintahan Assad melakukannya.” Rusia merupakan sekutu utama Suriah yang kini menghadapi kekerasan berdarah. Selama 21 bulan lamanya, kelompok oposisi menuding jumlah korban telah mencapai 44.000 jiwa.Padahal,tiga sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) terhadap Assad telah ditempuh. Tapi, dukungan Rusia dan China menjadi kekuatan diplomasi bagi Suriah di kancah internasional.

Lavrov menegaskan, Moskow selalu mengecek setiap laporan mengenai pergerakan senjata kimia dengan Damaskus. Itu dilakukan untuk menjamin keamanan.”Setiap waktu, kita mendengar rumor dan informasi. Kita selalu mengecek balik,dua kali,tiga kali. Konfirmasi itu dilakukan langsung kepada Pemerintah Suriah,” kata Lavrov.

Sebelumnya dalam penerbangan dari Brussels ke Moskow, Lavrov menegaskan, Suriah telah mengonsolidasikan senjata kimia ke ”satu atau dua” tempat untuk mencegah incaran pemberontak. Menurut Lavrov, senjata tersebut awalnya tersebar di seluruh wilayah Suriah dan kini mereka telah menguasai penuh untuk sementara waktu. ”Berdasarkan informasi yang kita peroleh,data dari badan khusus Eropa dan Amerika Serikat (AS), Pemerintah Suriah telah melakukan segalanya untuk mengamankan (cadangan senjata kimia),” kata Lavrov dalam penerbangan ke Moskow dari Brussels, Belgia, seperti dikutip BBC.

”Pemerintah Suriah telah mengonsentrasikan cadangan senjata kimia pada satu atau dua tempat.” Lavrov pun mengungkapkan, ancaman terbesar senjata kimia Suriah adalah jika direbut oleh para pemberontak. Sementara,dari Tel Aviv pejabat pertahanan senior Israel, Amos Gilad, menegaskan bahwa senjata kimia milik Suriah masih diamankan meski Presiden Assad telah kehilangan kontrol terhadap sebagian besar wilayahnya.

Perang sipil antara Assad dan oposisi menghadapi kebuntuan tetapi pemimpin Suriah itu tidak menunjukkan tanda-tanda bakal mengikuti seruan internasional untuk mengundurkan diri.”Mendorong Assad untuk pergi bakal memicu kekisruhan. Di Timur Tengah,Anda tidak bakal mengetahui apa yang bakal terjadi nanti,” kata Gilad dikutip Reuters.

Sementara, belasan orang tewas dan banyak yang terluka dalam serangan udara yang dilakukan pasukan pemerintah di Provinsi Hama, Suriah tengah. Insiden itu terjadi setelah sebuah toko roti yang penuh antrean di Halfaya, kota yang belum lama ini dikuasai oleh pemberontak pada Minggu (23/12).BBC menyatakan, jika laporan para aktivis bahwa 90 orang tewas dalam serangan itu dikonfirmasi, maka serangan ini adalah yang paling mematikan sepanjang perang sipil di negara itu.

”Tidak ada cara pasti untuk mengetahui berapa banyak orang yang meninggal.Ketika saya tiba di sana, saya melihat tumpukanjenazahditanah,”kata aktivis oposisi di Halfaya, Samer al-Hamawi,dikutip Reuters. Namun, kantor berita AFP melaporkan,jumlah korban tewas mencapai 60 orang dalam serangan udara tersebut. Pemantau Suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM) menyebutkan, serangan terhadap toko roti itu menewaskan lebih dari 60 orang dan melukai sedikitnya 50 orang.

”Sebuah pesawat tempur MiG telah menyerang. Lihat senjata Presiden Assad. Lihat, dunia melihat pembunuhan massal di Halfaya,” ujar seorang juru kamera amatir yang mengabadikan serangan tersebut. Kekerasan tersebut terjadi saat delegasi khusus PBB-Liga Arab, Lakhdar Brahimi, tiba di Damaskus untuk membahas berbagai cara mengatasi konflik.

Kunjungan Brahimi itu memang tidak diumumkan sebelumnya. Dia berkunjung melalui jalur darat dari Lebanon.Pada kunjungan sebelumnya, 19 Oktober lalu, agenda perdamaiannya juga disambut pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan pemberontak di jalanan menuju bandara Damaskus. ●andika hendra m

Sumber : seputar-indonesia.com