Pilih Dengan Bijak Jauhi Politik Uang

by -4 views

2201KomunikeJelang pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) Kota Sukabumi, masyarakat harus dapat menggunakan pilihannya dengan bijak dan menjauhi politik uang, yang acap menjadi iming-iming menggiurkan bagi para calon pemilih.

Hal tersebut tentunya bisa menjadi bumerang baik kepada si pemberi maupun penerima, karena tentunya politik uang sangat dilarang dan melanggar hukum, sehingga pada akhirnya bisa terjerat pidana.

“Di undang-undang tidak disebut politik uang, yang ada adalah memberikan sesuatu barang atau uang untuk memastikan bahwa si orang yang diberi tadi tidak menggunakan hak pilihnya atau menggunakan hak pilihnya untuk memilih orang yang memberikan barang atau uang tersebut,” tutur pengamat politik dari Universitas Katolik Parahyangan, Prof. Dr. Asep Warlan Yusuf, SH., MH, usai menjadi pembicara di Sawala Politik “Pilih Dengan Bijak Jauhi Politik Uang” yang diadakan oleh HU Pikiran rakyat, di Pala Room Hotel Anugrah Sukabumi, Jalan Suryakencana, Kota Sukabumi, Selasa (22/1).

Selain politik uang ada juga yang dinamakan biaya politik. Namun, pengertian dari biaya politik adalah biaya yang dikeluarkan oleh seorang calon untuk kepentingan bagaimana memenangkan Pilkada seperti digunakan untuk biaya iklan, promosi, diskusi, atau untum memberikan sesuatu kepada masyarakat agar bisa memilih dengan cerdas.

Dikatakan Asep, untuk menghindari terjadinya politik uang masyrakat harus diberikan pengarahan dan pengertian bahwa jika ada orang-orang yang mengiming-imingi uang dalam rangka memilih seseorang pastinya itu adalah suap di dalam Pemilu.

“Oleh karena itu jika masyarakat berhadapan dengan orang yang memberikan uang atau barang, hindari karena hukum bisa saja menjerat kepada yang menerimanya,” ujarnya.

Imbas dari politik uang ini memang cukup besar, hal tersebut dapat dilihat dari keenganan masyarakat untuk datang pada acara diskusi atau sosialisai, karena yang pertama mereka pikirkan adalah jika tidak ada uang maka mereka tidak akan datang.

“Seperti yang saya katakan tadi lamun teu kahartos teu aya artos mungkin mereka tidak akan mau datang. Oleh karena itu bagaimana caranya membina mereka, kita biarkan saja toh hal seperti itu tidak banyak. Justru kita didik mereka supaya tidak harus diberi ketika mereka bersikap seperti itu,”katanya.

Asep mengatakan, setiap pasangan harus bisa memstikan tidak akan pernah membrikan apapun dalam kaitannya dengan penggunaan hak suara. Mudah-mudahan masyarakat Sukabumi bisa mengerti betul akan bahayanya jika menerima sesuatu dari pasangan yang ikut dalam Pemilukada.
sumber: pikiran-rakyat.com