320 Desa di Cianjur Rawan bencana, Delapan Puluh Persen Ancaman Longsor

by -3 views

Rawan-Longsor-2Sebanyak 320 desa dari total 360 desa di 32 kecamatan di Kabupaten Cianjur ditetapkan wilayah rawan bencana. bahkan, delapan puluh persen diantaranya merupakan wilayah rawan bencana longsor.

Demikian diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Asep Suhara saat dihubungi “PRLM”, Minggu (3/11/13). “Data tersebut berdasarkan pemetaan pada 32 kecamatan di Cianjur. Hanya sekitar 10 persen dari total jumlah desa yang dinyatakan aman dari bencana,” katanya.

Asep menuturkan kondisi topografi Cianjur yang berbukit dan berkelok membuat bencana longsor menjadi bencana paling rawan. Kerawanan tersebut berada di wilayah Selatan Cianjur. “Bencana lain yang masuk dalam kerawanan meski tidak banyak terjadi dari skala intensitas adalah tsunami, banjir, dan kebakaran,” ucapnya.

Asep mengatakan beradasarkan pemetaan bencana yang dilakukan, terdapat sedikitnya 84 desa yang mempunyai nilai 5 yang artinya mempunyai potensi longsor sangat tinggi. Meskipun hampir 80 persen desa di Cianjur dinyatakan mempunyai potensi longsor. Sebagian besar desa yang mempunyai potensi longsor sangat tinggi berada di wilayah selatan.

Dari Data Peta Lokasi Rawan Bencana Longsor Kabupaten Cianjur, kata Asep, Kecamatan Naringgul, Cibinong, Cikadu, dan Agrabinta mempunyai jumlah desa terbanyak dari yang dimilki yang menunjukan wilayahnya berada pada potensi longsor sangat tinggi dengan skala 5.

“Kecamatan Naringgul misalnya, dari 10 desa yang ada, sebanyak 8 desa dinyatakan mempunyai potensi longsior sangat tinggi. Diantaranya Desa Cinerang, Mekarsari, Naringgul, dan Bale Gede,” ucapnya.

Lebih lanjut Asep menuturkan, ada lima faktor acuan yang dijadikan suatu wilayah mempunyai nilai potensi longsor dari skala 1-5 yang menunjukan potensi lopngsor rendah hingga sangat tinggi. Kelima paramater tersebut adalah kemiringan lahan, tutupan lahan, daya serap tanah, kondisi geologi, dan curah hujan.

“Pada kemiringan lahan lebih dari 71 persen, oleh ahli geogoli dinyatakan mempunyai bobot skala tinggi yaitu 5, sedangkan kemiringan kurang dari 11 persen bobot skala terendah yaitu 1. Kebanyak desa di Cianjur mempunyai kemiringan rata-rata diatas 50 persen. Jadi banyak yang dinyatak juga punya potensi tinggi. Bahkan, puluhan desa kemiringan lahannya lebih dari 70 persen,” tuturnya

Tingginya skala intensitas pergerakan tanah dan longsor di Cianjur, kata Asep, juga dipicu dengan tutupan lahan yang sebenarnya tidak untuk lahan sawah dan lahan tidur, namun justru digunakan untuk itu. “Pada kemiringan lebih dari 50 persen seharusnya lahan digunakan untuk hutan atau setidaknya ditanami tanaman keras seperti pohon-pohanan yang akarnya kuat sehingga bisa menjaga kondisi lahan tetap padat,” ucapnya.

Salah seorang tim perumus perencanaan metigasi bencana, Hery Hidayat mengatakan salah satu langkah tepat untuk mengantisipasi hal tersebut adalah melakukan reboisasi. Pasalnya, wilayah selayan yang merupakan daerah perbukitan justru hutannya sudah mulai gundul.

“Belum lagi kurangnya pohon di bibir sungai yang sebenanrnya bisa menambah daya serap air sehingga banjir tidak terjadi. Penyerapan air oleh tumbuhan juga mengurangi resiko terjadinya pergerakan tanah,” katanya.

Sementara itu, Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Cianjur Rudi Syachdiar Hidajath menuturkan mempersiapakan peencanaan dari awal menujukan kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk yang sering terjadi saat muism hujan di Cianjur.

“Namun untuk meminimalkan hal itu, Pemkab juga harus mengawasi perilaku penggundulan hutan dan menjamurnya galian C yang selama ini tanpa ada kajian lingkungan yang jelas sehingga dampaknya lebih pada perusakan lingkungan,” tuturnya.(pikiran-rakyat.com)