Demi Jaga Lingkungan, Murid SDN 1 Cijeungjing Tak Segan Tegur Guru

by -15 views

sdn-1-cijeunjing-bersih-asriSDN 1 Cijeunjing, Ciamis, yang berada di sisi lapangan Desa Cijeungjing, tak jauh dari tugu selamat datang (Gapura Ciamis) di Jalan Raya Ciamis-Banjar, terlihat asri, Kamis (27/3) siang. Di sebelah lapangan parkir sekolah yang luas, terlihat tanaman cabai rawit yang tumbuh subur dalam polibag. Ada pula kangkung, tomat, terong, sawi, dan pohon pepaya yang membuat lingkungan SDN 1 Cijeunjing tersebut semakin hijau, sejuk segar, dan kaya oksigen.

Keramik putih tiap lorong gedung sekolah dasar yang dulu bernama SDN Gentra Masekdas tersebut bersih mengilat, nyaris tidak ada sampah yang berserakan. Dinding-dinding ruang kelas, ruang guru, musala, dan perpustakaan tampak mulus tanpa corat-coret tanpa makna (vandalisme).

Bangku, meja belajar, dan lemari pun tertata rapi di dalam kelas. Hampir tidak ada tulisan atau coretan di bangku atau meja belajar, baik dengan menggunakan pulpen, spidol, pensil, maupun tip-ex.

“Murid-murid yang kedapatan melakukan corat-coret di meja belajar, bangku, atau dinding kelas kena denda Rp 1.000. Dan coretannya harus dihapus, dibersihkan. Yang kedapatan membuang sampah sembarangan juga akan kena denda Rp 1.000. Sejak ketentuan ini diberlakukan setahun yang lalu, alhamdulillah sampai hari ini belum ada yang kena denda,” ujar Tini Suhartini SPd, kepala SDN 1 Cijeungjing, kepada Tribun, kemarin.

Ketentuan denda tersebut juga berlaku bagi guru atau petugas sekolah yang membuang sampah di sembarang tempat. “Murid-murid di sekolah kami tak segan-segan menegur gurunya yang merokok atau buang sampah sembarangan,” katanya.

Untuk menampung sampah, tiap ruang kelas dan di depan ruang kerja guru disediakan tiga tong sampah dengan warna yang berbeda-beda. Tong dengan warna hijau untuk menyimpan sampah organik, tong warna kuning untuk sampah anorganik, dan tong berwarna merah guna menampung sampah berbahaya (B-3).

Di bagian belakang, ada bak khusus guna menampung sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan atau dijual ke penampung rongsokan.

“Bak itu khusus untuk bank sampah. Sampah-sampah yang bisa dijual akan dijual ke rongsokan. Di bak tersebut sampah-sampah disortir. Bank sampah tidak hanya menampung sampah-sampah dari ruang kelas dan lingkungan sekolah. Tiap hari, tiap murid membawa satu botol bekas kemasan air mineral,” ujar Tini.

Tiap bulan, pada upacara bendera, kata Tini, diumumkan kelas-kelas yang meraih hasil penjualan sampah terbanyak. Tiap pelaksanaan upacara hari Senin juga diumumkan ruang kelas terbersih dan terkotor.

“Uang hasil penjualan sampah digunakan untuk membeli sapu, soklin, dan cairan pembersih lantai yang dibagikan ke tiap kelas. Dari hasil penjualan sayur-mayur kebun sekolah juga digunakan untuk kepentingan sekolah. Kadang-kadang kami panen cengek (cabai rawit) untuk ngaliwet makan bersama di sekolah,” katanya.

Membudayakan lingkungan bersih di SDN 1 Cijeungjing ini, kata Tini, bukanlah hal yang gampang. “Kami sudah memulainya tahun 2006 melalui program Sekolah Berbasis Lingkungan (SBL). Kami terus berupaya menanamkan kebiasaan bagi anak-anak untuk menjaga kebersihan dirinya, ruang kelas masing-masing, dan lingkungan sekolah. Diharapkan anak-anak juga membiasakannya di rumah dan lingkungan masing-masing,” ujar Tini.

SDN 1 Cijeungjing 1 Ciamis ini berdiri tahun 1954. Tahun 1994, bangunan tua SDN 1 Cijeungjing tersebut  diratakan dengan tanah dan dibangun kembali bangunan sekolah baru melalui program Gerakan Cinta Almamater Sekolah Dasar (Gentra Masekdas). Ini merupakan satu-satunya SD Gentramasekdas di Kabupaten Ciamis. Memiliki enam ruang kelas, satu ruang kerja guru, dan satu ruang kepala sekolah berikut musala.

Bangunan SD ini berdiri megah di lahan seluas 13.095 meter persegi yang berbatasan langsung dengan lembah Bumi Perkemahan Majaprana. Di belakang sekolah terdapat lima petak kolam milik sekolah. Semua bangunan dan ruang kelas yang dibangun melalui program Gentra Masekdas tahun 1994 tersebut masih kokoh dan megah.

“Belum ada kerusakan berarti, belum pernah direhab. Beda dengan satu ruang kelas tambahan di bagian samping sekolah yang dibangun tahun 2000 malah sudah pernah direhab,” ujar Tini.

Pascareformasi, SDN Gentramasekdas Cijeungjing ini pun berganti nama jadi SDN 1 Cijeungjing, yang kini memiliki 176 murid dengan tujuh rombongan belajar, dengan sembilan orang guru PNS, tiga guru honorer, dan seorang penjaga sekolah (PNS).

Setelah menanam pola budaya berbasis lingkungan sejak tahun 2006, tahun 2014 ini SDN 1 Cijeungjing terpilih sebagai SD terbersih dan berbudaya lingkungan mewakili Jawa Barat untuk meraih anugerah Adiwiyata (sekolah terbersih) tingkat nasional.

“Tahun 2013 lalu kami keluar sebagai SD peraih Adiwiyata tingkat Jawa Barat. Tahun 2014 ini SDN 1 Cijeungjing, alhamdulillah dipercaya mewakili Provinsi Jawa Barat untuk penilaian anugerah Adiwiyata tingkat nasional,” kata Tini yang sudah empat tahun menjadi Kepala SDN 1 Cijeungjing.(tribunnews.com)